Pembelajaran Letak dan Luas Benua dengan Think Pair Share

Oleh: Luwinsih, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, RENDAHNYA hasil belajar IPS lebih disebabkan oleh dominasi daya ingat daripada kemampuan memproses pemahaman materi itu sendiri. Selama ini minat siswa terhadap mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya konsentrasi dan kesibukan siswa dalam proses pembelajaran. Faktor minat juga dipengaruhi oleh metode pengajaran yang digunakan guru saat menyampaikan materi. Metode tradisional, seperti menafsirkan materi secara abstrak, menghafal materi dan ceramah melalui komunikasi satu arah, masih dipimpin oleh guru, sedangkan siswa biasanya hanya fokus pada penglihatan dan pendengaran. Kondisi pembelajaran seperti ini akan menurunkan motivasi belajar siswa dan menurunkan efisiensi belajar. Disini guru harus pintar-pintar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, agar siswa tertarik untuk kembali mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kenyataannya di SMP Negeri 5 Comal terjadi pada pembelajaran IPS, dan pada kelas IX ketuntasan hasil belajar IPS siswa lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Khususnya pada kelas IX yaitu menurunnya perhatian siswa dalam kegiatan mengajar. Hasil ulangan harian materi letak dan luas benua Asia dan benua lainnya menunjukkan rata-rata 73,52 yang artinya masih dibawah ketuntasan kriteria minimal (KKM), ≥ 75 (sumber: dokumen nilai ulangan harian IPS kelas IX SMP Negeri 5 Comal), dan dapat dikategorikan masih belum mencapai ketuntasan yang diharapkan.

Baca juga:   Belajar Tatanama Senyawa dengan Ionic Cards Berbantuan The More The Winner Game

Hasil observasi pada kelas IX menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih sangat rendah. Pengamatan tersebut merupakan cara penulis mengumpulkan data untuk mencari solusi guna meningkatkan hasil belajar. Cara berpikir kooperatif, mencocokkan dan berbagi memberi siswa waktu untuk berpikir, menanggapi dan membantu satu sama lain, dan memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Model think-pair-share ini cocok untuk menyelesaikan masalah yang muncul di sekolah selama pembelajaran, karena pembagian kelompok yang terdiri dari dua siswa akan meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran, sehingga meminimalkan jumlah siswa yang belajar pasif, sehingga membuat belajar lebih mudah untuk dikelompokkan dan dibagi, dan interaksi antar pasangan dalam kelompok lebih mudah, memberikan lebih banyak kesempatan untuk kontribusi setiap anggota.

Penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan menjawab dalam berkomunikasi dan saling membantu dalam kelompok. Ciri khas Think-Pair-Share adalah model pembelajaran yang memberikan siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, merespon dan saling membantu. Oleh karena itu, terlihat jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share siswa dapat langsung menyelesaikan masalah, memahami isi kelompok dan saling membantu, menarik kesimpulan (berdiskusi) dan menggunakannya sebagai salah satu langkah evaluasi. di kelas. Ciri lainnya adalah berpikir pada model berbagi menekankan pada optimalisasi partisipasi siswa, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. (agu1/zal)

Baca juga:   Tingkatkan Kepedulian Lingkungan dengan Proyek Poster Pemanasan Global

Guru IPS SMPN 5 Comal.

Author

Populer

Lainnya