Guru Jadul dan Pelajar Mandiri di Tengah Pandemi

Oleh : Rodiah, S.Pd SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pengalaman saya sebagai seorang guru jadul di Sekolah Dasar kampung, barangkali bisa mewakili kondisi ribuan guru-guru Sekolah Dasar di Indonesia. Lahir di tahun 1960-an, menjadikan saya bukan sebagai bagian dari, MarcPrensky menyebutnya, generasi pribumi digital (digital native). Yaitu generasi yang lahir pada zaman teknologi informasi telah tersedia; di era setelah tahun 1990. Saya adalah generasi imigran digital. Saya lahir saat orang tua saya bahkan belum menginstal listrik di rumahnya. Pandemi Covid 19 menuntut saya, walaupun dengan penuh kegagapan, untuk segera beradaptasi dengan pola belajar baru yang sangat berbasis teknologi informasi dan internet.

Di awal program belajar dari rumah diterapkan, saya masih menggunakan telepon genggam jadul (jaman dulu) yang cukup digunakan untuk keperluan SMS-an dan teleponan sambil sesekali bermain game ular-ularan, satu-satunya permainan di HP saya. Sebagian orang bahkan menamai jenis telepon yang saya miliki itu sebagai telepon bodoh. Merujuk pada lawan kata telepon pintar yang seolah mampu menjadi asisten pribadi para penggunanya saking pintarnya aplikasi-aplikasi yang terinstal di dalamnya.

Lalu bagaimana saya bisa bertahan menghadapi perubahan sistem belajar mengajar yang drastis itu? Di sinilah, saya, seorang guru jadul dipaksa menjadi seorang pembelajar mandiri.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Tema Cita-citaku Menjadi Anak Salih dengan Media Video Youtube

Belajar mandiri buat saya adalah proses belajar yang dilatarbelakangi oleh inisiatif diri pribadi untuk mencapai sebuah target belajar yang juga ditentukan oleh si pelajar itu sendiri. Keinginan saya untuk merubah keadaan dari seorang guru jadul yang sangat awam dengan teknologi untuk bisa lebih melek teknologi informasi adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri saya yang menjadikan saya penuh semangat, begitu terdorong, untuk melakukan usaha-usaha mencapai target belajar yang nyata.

Di konteks saya, semangat yang besar saya dalam belajar menjadi guru melek teknologi bak nyala api yang memberangus rasa gengsi. Hingga hampir setiap hari, saya tak malu bertanya pada sanak saudara dan kolega bagaimana mengoperasikan telepon pintar, dari mulai menghidupkan hingga mematikannya kembali. Saya rela kursus privat dengan cucu saya yang baru berumur delapan tahun. Walaupun dengan risiko, saya harus sering-sering menelan kritik dari anak kelas 4 SD ini; betapa lemot nya saya memahami penjelasannya.

Saya harus ikut tergabung ke dalam grup-grup online agar tidak tertinggal dengan update berita-berita terbaru bagaimana pendidikan di Indonesia beradaptasi diri dengan situasi pandemi. Dengan penuh gagap saya mengenal berbagai fitur telepon pintar dan LMS (Learning Managmenet System), Gmail, Google Classroom, WhatsApp Group, Zoom, dll. Kekuatan dan semangat saya untuk maju, mendorong saya untuk mampu mendayagunakan sumber belajar di sekitar saya guna menghadapi hambatan belajar yang ada. Salah satu karakter dari belajar mandiri juga yaitu adanya tindak lanjut yang nyata dari hasil belajar sebelumya. Begitupun yang saya lakukan. Setiap kali mendapati info baru tentang pengoperasian aplikasi, saya langsung mencoba.

Baca juga:   Memanfaatkan Round Club Mendalami Cara Hidup Sehat

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai merasakan keasyikan mengoperasikan teknologi zaman sekarang. Saya adalah guru jadul yang baru merasakan kenikmatan kecanggihan teknologi informasi setelah adanya pandemi Covid-19. Buat saya ini adalah blessing in disguise. Kehimpitan di masa pandemi mampu dirubah menjadi sebuah tantangan yang menghasilkan kenikmatan baru.

Cerita saya sebagai guru kampung buta teknologi dalam menghadapi tantangan pandemi Covid 19 mungkin juga merepresentasikan jutaan cerita lain dengan konteks permasalahannya masing-masing. Kita semua bisa menjadi pelajar mandiri dalam menghadapi situasi penuh keterbatasan ini. Semangat belajar mandiri akan menjadikan kita pribadi yang penuh inisiatif, pantang menyerah, inovatif, fokus, dan berorientasi pada solusi. (pg1/ton)

Guru Kelas 4 SDN Suradadi 03 Kec. Suradadi, Kab. Tegal.

Author

Populer

Lainnya