KOMPROMI KATE ,(Komik Program Linear Berkarakter)

Oleh : Ajeng Mukti Andhini, S.Si, M.Si

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Program linear merupakan bagian dari matematika terapan yang dapat digunakan sebagai teknik optimasi produksi dalam suatu pabrik maupun suatu perusahaan. Dalam dunia ekonomi, teknik optimasi identik dengan mencari keuntungan maksimum dari penjualan suatu produk.

Dengan kejelian, guru dapat menyampaikan materi disertai nilai-nilai karakter. Rosdiatun (2018) dalam bukunya menyampaikan bahwa sekolah mempunyai dua tujuan utama. Yaitu membentuk manusia yang cerdas dan bermoral atau berkarakter. Dalam materi ini, sangat mungkin memberikan penguatan karakter karena program linear sangat kental kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pemilihan ilustrasi berupa kondisi suatu perusahaan yang aktual dan faktual disertai penanaman nilai-nilai moral dirasa mampu memberi sentuhan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dan menjadi pribadi yang berkarakter.

Keterampilan dalam mengolah kelas diperlukan agar materi yang disampaikan menyenangkan bagi siswa. Media pembelajaran yang tepat juga mendukung pembelajaran. Menyikapi situasi ini di SMA Negeri 1 Bergas, guru menyampaian materi menggunakan komik sebagai inovasi.

Pada mulanya, komik menjadi cetakan berisi cerita bergambar yang berfungsi sebagai bacaan dan hiburan di waktu luang. Dengan kreatifitas, komik dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Judul, alur cerita, tokoh, setting, ending dapat bervariasi, namun hendaknya tetap berpegang teguh pada tujuan pembelajaran.

Baca juga:   Pembelajaran Bioteknologi Berbasis Produk

Guru dapat memulai dengan penyusunan naskah. Tetapkan tema yang mendasari cerita. Kemudian, buatlah judul yang menarik dan sederhana yang mampu menggugah semangat siswa untuk membaca. Latar yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita, kejadian yang menjadi kunci utama dalam cerita, bahkan nama tokoh utama dapat juga dipertimbangan untuk dijadikan judul.

Selanjutnya, masuk dalam apersepsi. Guru dapat memulai dengan pengenalan tokoh ataupun latar. Tetapkan pula karakter-karakter yang akan ditonjolkan. Jika diperlukan, narasi dapat disertakan dalam komik program linear ini. Misalkan: Ricky adalah pemilik depot es yang ulet. Sarah adalah kasir depot yang teliti dan jujur. Karikatur depot es dapat dipresentasikan untuk menguatkan latar.

Percakapan dalam komik dapat dimulai dengan pemberian salam. Sebagai contoh, tokoh penjual menyampaikan ucapan “Selamat datang di depot es Strawberry” kepada pembeli. Keramahan pembeli juga dapat ditunjukkan dengan mimik senyum pada gambar disertai ucapan “Terima kasih”.

Setelah apersepsi, cerita dilanjutkan ke bagian konflik. Skenario konflik seperti pemilik kedai menanyakan ke marketing perihal strategi pemasaran agar kedai mendapatkan keuntungan maksimal dalam penjualan esok hari dapat menjadi pilihan. Dari sinilah materi inti program linear dimulai.

Baca juga:   Kepemimpinan Kepala Sekolah Jadi Faktor Penentu Keberhasilan Sekolah

Agar pembelajaran menarik dan tujuan pembelajaran tercapai, peserta didik dapat dilibatkan untuk menjadi marketing dalam cerita. Mereka berperan dalam penyelesaian soal dengan mengisi … dalam percakapan menggunakan angka yang tepat. Guru dapat menyediakan balon kalimat seperti “Dengan mempertimbangkan persediaan yang ada, kedai akan mendapatkan keuntungan jika menjual ….. es jenis A, ….. es jenis B, dan …. es jenis C”. Tampak bahwa deretan kata yang dicetak miring menyiratkan karakter yang dimiliki tokoh. Untuk memperkuat jawaban, narasi berupa kalimat ‘Marketing menghitung dengan teliti” dapat ditambahkan.

Semakin menarik jika peserta didik memiliki lebih banyak ruang untuk menuangkan ide-ide brilian dalam komik ini. Sebagai ending, tokoh marketing lain dimunculkan. Guru menyiapkan balon kalimat seperti: “Adapun langkah-langkah pemasaran yang akan dilakukan yaitu: ………. (diisi oleh siswa)”

Menarik, bukan? Melalui komik, matematika sebagai ilmu eksak dapat dikolaborasikan dengan pendidikan karakter yang digalakkan pemerintah. Seiring dengan perkembangan teknologi, tersedia aplikasi-aplikasi pembuatan komik digital. Memanfaatkan foto yang dimiliki, kita dapat menciptakan wajah dan emosi tokoh, maupun latar komik. Dengan demikian, pembuatan komik terasa lebih mudah. (pm2/lis)

Guru Matematika SMAN 1 Bergas, Kabupaten Semarang.

Author

Populer

Lainnya