STAD Solusi Mengajar Sejarah Islam

Oleh : Dra Sri Istiqomah MSI

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN agama Islam di sekolah menengah atas meliputi lima aspek pokok bahasan yaitu, Alquran, aqidah, akhlak, fiqh dan sejarah kebudayaan Islam (SKI). Di antara kelima sub pokok bahasan tersebut yang dinilai sulit dipahami siswa adalah SKI. Sejarah seringkali dipandang sebagai mata pelajaran hafalan yang membosankan karena menghafal tanggal dan nama belaka yang tidak banyak bersentuhan dengan kehidupan mereka setelah lulus sekolah. Di samping itu materi yang diajarkan juga dianggap terlalu banyak dan rumit. Itulah yang membuat pelajaran sejarah tidak disukai oleh sebagian besar siswa. Untuk itu, guru PAI harus mulai mengembangkan sistem pembelajaran inovatif untuk membangkitkan minat siswa dalam mempelajari SKI.

Dalam materi sejarah guru hendaknya memberikan informasi tentang betapa besar hikmah yang dapat diambil dari pelajaran sejarah di antaranya, mengetahui sejarah masa lalu untuk diambil hikmahnya untuk diterapkan pada masa kini dan masa yang akan datang dan juga menjadi pelajaran berharga agar manusia tidak terjerumus ke dalam kehancuran sebagaimana orang-orang terdahulu yang telah mendapatkan azab dari Allah SWT. Dengan mempelajari sejarah, akan menemukan tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi ini, berbagai macam ilmu hidup serta mampu memahami hakikat kehidupan, bahkan lebih merasuk dalam memahami ayat-ayat Allah sehingga kita akan senantiasa bertasbih dan khusyuk kepada Allah SWT.

Baca juga:   TOSERBA, Menumbuhkan Kecintaan pada Pelajaran Ekonomi

Di samping memberikan motivasi, guru hendaknya menggunakan metode yang sesuai dengan kompetensi dasar yang diajarkan, di antara metode yang tepat yang penulis lakukan adalah metode student teams-achievement divisions (STAD) atau tim kelompok siswa prestasi diperkenalkan oleh Slavin.

Menurut Robert E Slavin dalam jurnal Review of Educational Research ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu penyajian kelas, menetapkan siswa dan kelompok, tes dan kuis, skor peningkatan individual, dan pengakuan kelompok.

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode STAD yang penulis lakukan di SMAN 7 Semarang dalam kompetensi dasar strategi dan substansi dakwah Rasulullah di Madinah adalah pertama, membentuk kelompok yang anggotanya 4-6 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain). Kedua, guru menyajikan presentasi atau menyiapkan pelajaran. Ketiga, guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota yang lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. Keempat, guru memberi kuis/saling pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. Kelima, guru memberikan prestasi atau penghargaan kepada siswa yang mempu menjawab dengan benar.

Metode STAD digunakan untuk memotivasi para siswa dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang disajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka memperoleh penghargaan, mereka harus membantu teman sekelompoknya mempelajari materi yang diberikan. Mereka harus mendorong teman mereka untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajar itu merupakan suatu yang penting, berharga dan menyenangkan.

Baca juga:   Belajar Aksara Jawa melalui Surat Sahabat

Metode ini mempunyai beberapa kelebihan antara lain didasarkan pada prinsip bahwa para siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri, serta adanya penghargaan kelompok yang mampu mendorong para siswa untuk kompak, setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya mendapat nilai yang maksimum sehingga termotivasi untuk belajar.

Melalui metode STAD ini, peserta didik merasa lebih mudah mempelajari materi sejarah, karena masing-masing berperan aktif dalam membantu serta memberikan motivasi semangat untuk keberhasilan bersama dalam kelompok, dengan metode ini juga mampu meningkatkan perasaan saling percaya di antara anggota kelompok, membantu peserta didik menghilangkan sifat yang suka mementingkan diri sendiri dan egois terhadap orang lain, sehingga kelompok menjadi lebih berhasil untuk mencapai prestasi dan dapat mengurangi kebosanan dalam mempelajari materi sejarah. (lbs1/ida)

Guru SMAN 7 Semarang.

Author

Populer

Lainnya