Belajar Puisi Menggunakan Model Two Stay Two Stray

Oleh: Umi Rahmawati, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATERI dalam KD 3.17 Menganalisis unsur pembangun puisi, di tingkat sekolah menengah atas kelas X, meliputi unsur intrinsik dan ekstrinsik. Mengingat materi menganalisis puisi cukup banyak namun hanya dialokasikan waktu 2 jam pelajaran tentu diperlukan model pembelajaran yang menarik dan pembelajaran yang mampu menciptakan suasana kondusif. Untuk itu perlu memilih model pembelajaran yang tepat dan menyenangkan.

Salah satu model pembelajaran kooperatif yang tepat adalah model Two Stay Two Stray (TSTS).”Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Pada model pembelajaran TSTS semua anggota kelompok menjadi aktif dan menekankan mereka untuk memahami materi yang didiskusikan karena akan disampaikan kepada temannya dari kelompok lain (tahap Stay) dan dari kelompoknya sendiri (tahap Stray).

Kegiatan model pembelajaran “Dua tinggal dua tamu” siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok tuan rumah dan kelompok tamu. Kelompok tamu mendengarkan penjelasan kelompok tuan rumah ketika sedang bertamu, siswa secara tidak langsung menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah. Dalam proses ini akan terjadi kegiatan menyimak materi pada siswa.

Tujuan pempelajaran kooperatif TSTS ini, siswa diajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep. Penggunaan model pembelajaran kooperatif TSTS akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompoknya, siswa dapat bekerja sama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai, dan sulit diatur saat proses balajar mengajar.

Baca juga:   Literasi Digital, Mengikis Budaya Malu Bertanya di Kelas

Langkah-langkah model pembelajaran Two Stay Two Stray yang diterapkan di SMAN 1 Salaman yakni, guru membagi kelompok, tiap kelompok terdiri 4-5 siswa secara heterogen. Heterogen yang dimaksud bahwa tiap kelompok terdiri dari siwa yang memiliki berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Pengelompokan dimaksud agar siswa yang lemah akan terbantu, tiap kelompok menjadi aktif dan tercipta suasana kelompok menjadi hidup dan kondusif. Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas- tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam suatu kelompok. Setiap kelompok mendapatkan satu tugas unsur pembangun puisi. Siswa mempelajari dan mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri dan hasilnya dituangkan dalam kertas manila. Setelah semua solusi ditulis, selanjutnya kertas manila dipajang dipapan.
Setelah semua kelompok selesai menyelesaikan tugasnya, selanjutnya 2 atau 3 siswa perwakilan dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain secara bergiliran. Sementara 2 atau 3 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan paparan hasil kerja yang ditulis di kertas manila yang dipajang di papan. Pada kesempatan ini tamu bisa menyampaikan pertanyaan maupun sanggahan, dan menyimak penjelasan yang disampaikan oleh tuan rumah.Setelah memperoleh penjelasan yang cukup dari tuan rumah, kelompok tamu melanjutkan bertamu ke kelompok yang lain secara bergantian. Kemudian, setelah semua kelompok selesai dikunjungi, kelompok tamu kembali ke kelompoknya untuk melaporkan temuannya, mencocokkan dan membahas secara bergantian dari kelompok satu ke kelompok lain yang dikunjungi.

Baca juga:   Pengalaman Pembelajaran Jarak Jauh pada pelajaran PKWU

Kegiatan pembelajaran selanjutnya, setiap kelompok secara bergiliran mempresentasikan hasil diskusi kelompok untuk mendapatkan respon berupa pertanyaan, sanggahan, kritik dan saran dari kelompok lain. Setelah semua kelompok mendapatkan giliran presentasi, selanjutnya guru membahas dan mengarahkan siswa kebentuk formal. Kelompok yang mendapatkan skor rata-rata tertinggi, dalam memahami materi tugas akan mendapat reinforcement atau penguatan.

Hasil yang diperoleh dari pendekatan ini, selain dikuasainya materi pembelajaran, kuantitas dan kualitas akan didapat dalam partisipasi peserta didik pada kegiatan ini. Bagaimana sikap mental siswa ketika menghadapi dan menjawab pertanyaan, pemilihan kata-katanya (diksi), urutan logika kalimatnya, kemampuan mempertahankan argumentasi, dan kemampuan meyakinkan pendapatnya kepada kelompok lain. (ss1/zal)

Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Salaman.

Author

Populer

Lainnya