Bentuk Karakter Siswa melalui Pendidikan Kepramukaan

Oleh : Wiwi Hariyah S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2014 mengungkapkan pramuka adalah proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak muda, di bawah tanggung jawab orang dewasa, yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dan keluarga, dengan tujuan, prinsip dasar dan metode pendidikan tertentu.

Pramuka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pramuka adalah organisasi untuk generasi muda yang mendidik para anggotanya dengan berbagai jenis keterampilan, disiplin, kepercayaan pada diri sendiri, saling tolong–menolong dan lainnya.

Robert Stephenson Smyth Baden-Powell atau yang lebih dikenal dengan Lord Baden-Powell adalah orang pertama mempelopori gerakan pramuka atau kepanduan (Boy Scout). Ia mantan tentara Inggris yang sejak kecil menyenangi kegiatan di luar ruangan (outdoor).

Dalam dunia pendidikan, seorang guru dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran seperti matematika, bahasa Indonesia, serta SBdP yang diajarkan pada siswanya. Tapi harus menguasai materi tambahan dalam pembentukan karakter siswa. Sebab, untuk mengetahui nilai karakter siswa sudah mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) apa belum, bisa diukur dengan nilai PPKn yang diperoleh siswa. Bila nilai PPKn lebih rendah dari nilai mata pelajaran lainnya, berarti kurangnya kedisiplinan dan kurangnya kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah.

Baca juga:   Pembelajaran Matematika Pecahan melalui Daring dengan Microsof Team

Mengapa mapel PPKn sebagai tolak ukur untuk mengetahui tingkat pencapaian nilai karakter siswa, karena PPKn adalah pendidikan kewarganegaraan yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter bangsa yang cerdas, berbudi pekerti luhur. Dengan begitu, keberadaannya dalam kehidupan masyarakat menjadi bermakna.

Solusi terbaik dalam mengatasi rendahnya nilai pencapaian karakter siswa, dengan kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Berdasarkan analisis dari 10 peneliti dapat disimpulkan, ekstrakurikuler pramuka berpengaruh terhadap karakter disiplin siswa SD. Adapun manfaat pramuka antara lain, dapat membentuk kepribadian yang disiplin dan bertanggung jawab, lebih mencintai alam dan lingkungan sekitar, melatih kemandirian, sifat kepemimpinan, dan memiliki keterampilan dalam berorganisasi. Adapun dampak positif dari pramuka adalah mengajarkan kemandirian, mendapat keluarga dan teman-teman baru, lebih cinta lingkungan, dan mengajarkan cara menjaga diri.

Sedangkan dampak negatif dari pembelajaran pramuka, tidak semua siswa mengalaminya. Hanya saja, kadang ada guru yang memberikan materi pramuka kurang paham, sehingga pembelajaran yang diberikan terlalu keras dan sangat disiplin. Hal ini menyebabkan siswa merasa tertekan. Meski begitu, sesama guru biasanya saling bertukar pikir dan bekerja sama memperbaiki kekurangan masing-masing.
Sebagaimana yang dilaksanakan di SDN 03 Sikasur, Belik, Pemalang. Sebelum pandemi Covid-19, setiap Jumat sore seluruh siswa kelas 1-6 mengikuti pramuka dengan berpakian seragam pramuka lengkap. Para guru mendampingi dan memberikan materi kepramukaan. Berhubung tingkat sekolah dasar (SD), maka materi pembelajaran pramuka yang diajarkan dibagi dua, yaitu materi untuk pramuka siaga dan pramuka penggalang.

Baca juga:   Belajar Bangun Ruang dengan Bermain Game

Pramuka siaga yaitu kelas rendah (kelas 1, 2, dan 3). Untuk pramuka penggalang yaitu kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6 ). Usia pramuka siaga adalah 7 sampai 10 tahun, dan usia penggalang 11 sampai 15 tahun. Adapun jenis kegiatan untuk jenjang pendidikan siaga mengutamakan terbentuknya kepribadian dan keterampilan di lingkungan keluarga melalui kegiatan bermain sambil belajar. Untuk jenjang pendidikan penggalang menekankan pada terbentuknya kepribadian dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan diri untuk terjun dalam kegiatan masyarakat melalui kegiatan belajar sambil melakukan. (ag2/ida)

Guru SDN 03 Sikasur, Kabupaten Pemalang.

Author

Populer

Lainnya