Belajar Menghitung Frekuensi Relatif dengan Take Copter Doraemon

Oleh : Trisnowati S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, DORAEMON adalah judul sebuah mangaan dan anime yang sangat popular yang dikarang Fujiko F Fujio sejak 1 Juni 1969 dan berkisah tentang kehidupan anak yang pemalas yang bernama Nobita Nobi yang didatangi oleh sebuah robot kucing bernama Doraemon yang datang dari abad 22. Doraemon memiliki alat ajaib yang sering digunakan yaitu take copter atau baling-baling bambu. Alat ini digunakan untuk terbang dengan memasangkannya pada kepala pengguna. Baling-baling bambu dapat terbang pada kecepatan tinggi. Meskipun ukurannya kecil, alat ini dapat membawa siapapun dan seberat apapun.

Pada pembelajaran matematika materi Peluang Empirik atau Frekuensi Relatif dari suatu kejadian di kelas VIII SMP Negeri I Ulujami, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran harus kreatif dalam penyampaian materi. Iqbal Ali (2013:45) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Pada pembelajaran materi menghitung frekuensi relatif kelas 8 SMPN 1 Ulujami. Guru menyampaikan materi dengan cara permainan menggunakan baling-baling bambu yang dibuat oleh siswa secara berkelompok.

Baca juga:   Meningkat Semangat Belajar dari Rumah dengan Google Meet

Baling-baling bambu dibuat memiliki enam ujung yang diberi warna berbeda pada masing-masing ujungnya dan diberi nomor satu sampai dengan enam. Pada tengah baling-baling diberi panah yang terbuat dari kertas untuk menentukan di angka berapakah hasil percobaan itu.

Guru meminta salah satu siswa untuk memutar baling-baling bambu sebanyak 10 kali putaran. Kemudian hasil percobaan dihitung, apabila panah menunjukkan pada salah satu angka saja. Apabila panahnya berhenti di antara dua angka yang susah untuk menentukan hasilnya dimana, maka hasil percobaan tersebut tidak dihitung dan percobaan diulangi kembali. Selain itu, siswa diminta menulis hasil percobaan tersebut. Misalkan hasil percobaan adalah sebagai berikut, percobaan satu sampai dengan percobaan sepuluh didapat, satu, empat, enam, satu, satu, tiga, empat, lima, lima, dan satu. Dari hasil percobaan tersebut kita dapatkan, frekuensi relatif angka satu adalah empat berbanding sepuluh. Frekuensi angka dua tidak ada. Frekuensi angka tiga adalah satu berbanding sepuluh. Frekuensi angka empat adalah dua berbanding sepuluh. Frekuensi angka lima adalah dua berbanding sepuluh. Frekuensi angka enam adalah satu berbanding sepuluh. Maka dari percobaan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa frekuensi relatif adalah perbandingan antara banyaknya suatu kejadian dengan banyaknya percobaan. Dengan alat peraga ini, siswa akan lebih mudah untuk memahami materi menentukan frekuensi relatif. Tentu masih banyak lagi alat peraga yang bisa digunakan pada penyampain materi menentukan frekuensi relatif. Belajar menghitung frekuensi relatif dengan Take Copter Doraemon lebih menyenangkan bagi siswa kelas 8 SMPN 1 Ulujami. Dengan menggunakan take copter pembelajaran lebih kreatif, aktif, dan menyenangkan. Sehingga siswa akan mengalami peningkatan hasil belajar. (pg1/ida)

Baca juga:   Pembelajaran Kontekstual Solusi Pelajari Kegiatan Ekonomi di Masa Pandemi

Guru Matematika SMPN 1 Ulujami, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang.

Author

Populer

Lainnya