Kejujuran (Integritas) dalam Pendidikan Karakter

Oleh: Sri Walji Hasthanti, M.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kejujuran (integritas) adalah prinsip moral di dalam diri seseorang yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupannya secara menyeluruh. Integritas menjadi salah satu poin dalam pendidikan karakter yang kembali digencarkan oleh pemerintah. Pendidikan karakter kembali diangkat karena penting serta dipandang sebagai bagian dari pendidikan di sekolah yang tidak terpisahkan.

Hasil pendidikan tidak akan serta merta terlihat, akan tetapi dalam jangka panjang saat seseorang telah bekerja, berumah tangga, atau setelah sekian lama meninggalkan bangku sekolah/kuliah. Oleh karena itu, pendidikan yang diselenggarakan dari tingkat terendah (PAUD) hingga perguruan tinggi saat ini kembali memadukan pendidikan karakter agar dapat sejalan dengan keunggulan akademik. Sangat jelas bahwa peran lingkungan, keluarga, dan pendidik sangat penting dalam pendidikan karakter kejujuran.

Menyoal tentang kejujuran, semua orang pasti tidak ingin dicurangi. Kita pun tidak akan rela apabila peserta didik/anak kita berlaku curang. Contoh sederhana dapat kita ambil dari perilaku sehari-hari yang melibatkan peran orang tua dalam membimbing anak-anak belajar di masa pandemi ini. Penugasan yang diberikan guru sudah diukur, bertahap, disesuaikan dengan materi, dan tingkat kesulitannya. Pengumpulan dan penilaian oleh guru dilakukan berdasarkan laporan orang tua melalui video, voice note, foto, maupun bukti fisik berupa lembaran tugas atau workbook. Apakah tugas yang dikumpulkan benar-benar pekerjaan siswa atau sebagian dikerjakan siswa, atau seluruhnya bukan siswa yang bersangkutan yang mengerjakan?

Baca juga:   Latih Siswa Beri Tanggapan terhadap Situasi dengan Model Probex

Bagaimana guru mengetahui adanya kecurangan/ketidakjujuran peserta didik ketika orang tua mengirimkan video anak mereka? Kita ambil contoh ketika harus setoran hafalan, dapat terlihat dari gestur mereka. Akan terlihat jelas perbedaan dari pandangan mata anak yang sudah hafal dan anak yang belum hafal. Peserta didik yang sudah hafal akan terlihat santai dan wajar. Sedangkan mereka yang belum/kurang hafal akan memfokuskan pandangan pada satu titik, tidak rileks, dan sering pelafalannya pun tidak pas. Mengapa? Karena ketika orang tua merekam melalui video, si anak fokus pada bacaan yang sengaja disediakan untuk membantu anak supaya terlihat lancar dan tanpa salah.

Kecurangan yang paling mudah terlihat dan seringkali muncul adalah pada bukti fisik, yaitu hasil pekerjaan siswa (prakarya) maupun tulisan. Kerapian, ketepatan, dan keindahan sebuah hasil karya akan terlihat sangat berbeda ketika dikerjakan oleh anak atau orang dewasa, begitu juga dengan tulisan. Pada anak usia sekolah dasar tulisan tangan mereka cenderung tebal, ada tekanan, hurufnya standar, dan sering kali dijumpai salah tulis; kurang huruf atau salah huruf. Dibandingkan dengan tulisan orang dewasa yang terlihat rapi, tebal tipis tulisan konsisten, huruf maupun penulisannya tepat. Sebagai pendidik, kita sering menemukan tugas para siswa yang sengaja ditulis/dikerjakan orang tua mereka meskipun dengan berbagai alasan, hal tersebut sebenarnya tidak bisa dibenarkan karena justru akan berakibat buruk bagi anak maupun orang tua sendiri.

Baca juga:   Asyik Belajar Materi Perilaku Terpuji dengan Bermain Peran

Dari contoh tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa integritas/kejujuran menjadi hal penting dan butuh perhatian serius. Kecurangan yang sengaja dilakukan meskipun sekadar hal kecil akan melekat menjadi kebiasaan. Integrity is doing the right things, even when no one is watching. Prestasi akademis, nilai bagus tidak akan bermakna jika bukan hasil karya atau jerih payah anak sendiri. Perlu kita ingat adalah setiap manusia membawa sifat integritas dalam dirinya, tinggal bagaimana kita sebagai orang dewasa (orang tua dan pendidik) mengarahkan agar anak-anak kita nantinya menjadi manusia berintegritas. (bs1/ton)

Guru SD Muhammadiyah (Plus) Salatiga

Author

Populer

Lainnya