Kelas Terbalik saat Pembelajaran Matematika di SMPN 1 Salatiga

Oleh : Nur Irfani, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020 di Indonesia memaksa pembelajaran sekolah beralih ke sistem daring. Karena pembelajaran tatap muka secara langsung tidak memungkinkan.
Banyak guru tidak memiliki pengalaman pengajaran daring seperti yang mereka miliki dalam pembelajaran tatap muka. Hal inilah yang mendorong intitusi atau lembaga sekolah untuk menggunakan teknologi dalam melakukan pembelajaran. Banyak guru cenderung hanya mengubah pembelajaran tatap muka ke sistem dalam jaringan. Banyak orang tua dan peserta didik protes tidak paham dengan materi pembelajaran yang di berikan guru, karena hanya memberika tugas yang gila-gilaan. Matematika sebagai ilmu yang berkaitan dengan angka dan simbol serta sifat matematika yang abstrak membuat peserta didik merasa kesulitan memahami matematika. Apalagi dengan pembelajaran daring.

Banyak faktor yang menyebabkan matematika sulit diterima peserta didik. Salah satunya, metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran daring. Metode pembelajaran daring yang membosankan apalagi pemberian tugas dan tugas akan membuat anak kurang kreatif. Bahkan malas dalam belajar matematika. Sebagian besar dari kita setuju bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa. Ada banyak metode pembelajaran matematika yang dianggap efektif yakni pembelajaran daring dengan metode kelas terbalik atau flipped classroom.

Baca juga:   Melawan Buta Aksara Jawa

Metode flipped classroom adalah metode dimana peserta didik diberikan sumber sumber belajar oleh guru di luar kelas sehingga peserta didik mempelajari materi tersebut di rumah sebelum materinya diajarkan guru.

Di dalam kelas daring yakni tatap muka melalui aplikasi, siswa hanya mengaplikasikan, mendiskusikan, menemukan masalah yang muncul dari materi terserbut. Metode ini dianggap efektif dalam pembelajaran secara daring dikarenakan peserta didik dituntut belajar mandiri dan aktif dalam memahami materi pembelajan yang diberikan guru.

Dalam pembelajaran tatap muka daring, peserta didik diharapkan tidak hanya mendengarkan guru berceramah melainkan dapat memahami materi lebih mendalam. Sebagai fasilitator guru membantu siswa dalam memecahkan masalah dan mengonfirmasi pemahaman materi yang di sampaikan serta memastikan bahwa informasi yang diberikan sampai pada peserta didik.

Metode flipped classroom dianggap efektif dalam pembelajaran matematika dalam penelitiannya Damayanti dan Sutama (2016). Penerapan model flipped classroom terbukti efektif meningkatkan sikap kreatifitas mandiri, tanggung jawab dan keterampilan peserta didik. Hal ini terjadi karena peserta didik diwajibkan memahami terlebih dahulu materi pembelajaran sebelum kelas dimulai. Dengan memberikan materi berupa teks, gambar, video maupun media lain, bahkan peserta didik boleh mencari sumber sumber lain yang relevan dengan materi pembelajaran. Metode ini sangat relevan dengan pendekan pembelajaran yang berpusat dengan peserta didik. Sehingga dengan flipped classroom peserta didik akan lebih aktif, kreatif dan inovatif, siswa telah siap menerima pembelajaran dalam kelas daringnya.

Baca juga:   Pembelajaran IPS Masa Kondisi Darurat Covid-19 dengan GCR

Metode ini juga meminimalkan waktu agar efektif dalam pembelajaran daring. Guru lebih sedikit menjelaskan materi pembelajaran, memfasilitasi dalam berdiskusi dan menemukan masalah dalam pembelajaran.

Adapun skema pembelajaran kelas terbalik di SMP Negeri 1 Salatiga yakni guru memfasilitaasi peserta didik dengan materi pembelajaran berupa video, teks semenarik mungkin untuk pembelajaran yang akan datang. Guru mengarahkan peserta didik untuk menonton video tersebut sebelum pertemuan agar dipahami terlebih dahulu.

Guru mengulas materi dengan tanya jawab terhadap peserta didik sebatas materi yang belum dipahami. Selanjutnya jika materi telah dikuasai, guru memberikan pertanyaan berbasis pemecahan masalah serta contoh soal dan latihan. Peserta didik diminta menyelesaikannya. Guru meminta peserta didik menyampaikan pendapatnya. Terakhir, guru mengonfirmasi jawaban dan pemahaman yang dimiliki peserta didik. Metode ini sangat efektif karena peserta didik mendalami materi secara mandiri yang akan membentuk ingatan dan pemahaman dalam jangka yang sangat panjang. (ssi/lis)

Guru SMP Negeri 1 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya