Eksperimen Mandiri IPA di Masa Pandemi

Oleh : Drs. Yusuf Adriyanto

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Masa pandemi Covid-19 merupakan suatu wabah internasional yang memberikan pukulan telak dalam dunia pendidikan. Banyak kendala yang muncul akibat serangan virus yang mematikan ini. Sudah banyak korban berjatuhan dan meninggal di seluruh muka bumi. Covid-19 ibarat badai yang menghantam semua sektor kehidupan seperti sektor industri, transportasi, pariwisata, ekonomi, dan sebagainya.

Di bidang pendidikan muncul berbagai keluhan baik dari orang tua, peserta didik, maupun guru. Keluhan orang tua di antaranya harus mengeluarkan uang kuota, membeli HP android, sementara perekonomiannya agak oleng karena penghasilan menurun bahkan ada yang terkena PHK.

Masalah dari peserta didik yaitu motivasi belajar menurun sehingga daya serap materi juga menurun. Hal ini bisa dimaklumi karena peserta didik belum terbiasa dan kurang mampu belajar mandiri tanpa harus didampingi guru. Berdasar dari keadaan inilah maka guru berusaha variasi pembelajaran agar tidak jenuh buat peserta didik.

IPA yang dalam pembelajaran sekalipun secara PJJ tetap harus melakukan kegiatan praktikum/eksperimen. Demikian juga di SMP Negeri 5 Salatiga, untuk mendapatkan nilai keterampilan salah satunya dengan melakukan eksperimen yang dilakukan secara mandiri. Guru sebagai desainer pembelajaran membuat panduan eksperimen mandiri dengan bahasa yang mudah dipahami peserta didik, dan mudah dipraktikkan oleh peserta didik. Dalam merancang eksperimen mandiri, guru mempertimbangkan alat dan bahan yang mudah didapatkan peserta didik, jangan sampai peserta didik kesulitan mencari alat dan bahan eksperimen.

Baca juga:   Belajar Menghitung Luas Permukaan Prisma dengan Alat Peraga

Materi kelas VII semester genap salah satunya adalah pencemaran air. Berkaitan dengan eksperimen, maka peserta didik diminta melakukan proses penjernihan air. Kebetulan saat pembahasan materi masih berlangsung musim hujan dimana air hujan yang jatuh ke tanah dan mengalir di permukaan tanah tampak keruh berwarna kecoklatan. Demikian juga air hujan yang masuk ke saluran air semuanya juga keruh berwarna kecoklatan karena banyak mengandung partikel tanah.

Peserta didik diberi tugas merancang dan membuat alat penyaringan air dengan alat dan bahan bebas dengan memanfaatkan alat dan bahan yang mudah dijumpai di rumah dan di lingkungan rumah peserta didik. Sebagai perbandingan, peserta didik boleh melihat contoh di buku paket atau di internet, tetapi peserta didik diberi kebebasan merancang alat penjernih sendiri. Kreativitas dan daya nalar peserta didik akan nampak dengan membuat alat penjernihan air dari idenya sendiri. Alat penjernih air yang sudah dibuat harus diuji secara langsung dengan menyaring air keruh, kemudian dilihat air hasil penyaringannya. Langkah demi langkah harus didokumentasikan. Jika hasilnya kurang memuaskan, peserta didik bisa mengulang kembali eksperimennya sampai berhasil. Sebagai indikator keberhasilan alat yang dibuatnya adalah tingkat kejernihan air hasil penyaringan, makin jernih berarti makin bagus.

Baca juga:   Pentingnya Olahraga saat Masa Pandemi di Bulan Ramadan

Peserta didik selanjutnya membuat laporan dari alat, bahan, cara pembuatan, pengujian, hingga hasilnya. Peserta didik juga menuliskan kesan pesannya setelah membuaat dan melakukan eksperimen ini. Laporan harus dilampiri dokumentasi boleh berupa foto atau video, terserah peserta didik. Guru dalam menilai juga membuat pedoman penilaian dengan rubrik penilaian yang mencakup dari rancangan eksperimen sampai hasilnya. Diharapkan dengan langkah seperti ini akan memberikan pengalaman faktual secara langsung sehingga suatu saat di kemudian hari bisa dikembangkan dan dimanfaatkan. (ss1/lis)

Guru SMPN 5 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya