Fenomena Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Umi Fatonah Primastuti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SUDAH 1 tahun lebih bangsa Indonesia dan masyarakat dunia terkena wabah penyakit Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Masa pandemi yang cukup lama ini baru pertama kali dialami, maka tidak heran situasi seperti itu melahirkan banyak fenomena yang terjadi ditengah masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun oleh setiap negara untuk menanggulangi wabah dengan perubahan kebiasaan hidup baru agar dapat memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Kebiasaan hidup baru telah direkomendasikan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan se dunia adalah mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak dan tidak berkerumun serta cek suhu badan. Kebiasaan tersebut menjadi sebuah fenomena di masa pandemi Covid-19 saat ini. Disamping itu muncul kebiasaan baru dalam bidang pendidikan. Berdasarkan Surat Edaran Mendikbud RI nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19, maka kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan secara online, atau Belajar Dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Fenomena PJJ ini menarik untuk dibicarakan karena pertama kali terjadi dalam sejarah Pendidikan negara kita dan dunia. Hampir semua lembaga pendidikan melaksanakan PJJ ini, termasuk di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bantul. Hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sehingga diawal kebijakan digulirkan sebagian besar pendidik merasa canggung dan kurang mantab dalam menjalankannya. Di MAN 2 Bantul sendiri, pembelajaran jarak jauh disepakati dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi E-smart, yang dapat diakses oleh siswa di rumah menggunakan HP atau laptop. Setelah setahun lebih melaksanakan PJJ, banyak fenomena yang dilihat dan dirasakan, baik oleh guru, siswa maupun orang tua siswa. Dipihak guru menjadi sangat akrab selalu memegang HP atau laptop untuk pelaksanaan PJJ.

Baca juga:   Asyiknya Bercerita dengan Talking Stick

Disamping itu beberapa guru yang dirumah belum ada jaringan internet, kemudian menghubungi PT. Telkom dalam rangka kelancaran tugas PJJ, maupun untuk kemudahan koordinasi tugas guru melalui berbagai rapat melalui aplikasi zoom meeting. Namun setelah PJJ berjalan satu tahun lebih, guru mulai merasakan kejenuhan dan bosan dengan situasi seperti itu, karena setiap waktu hanya melakukan aktivitas yang monoton, berinteraksi dengan siswa menggunakan media sosial tanpa bertatap muka, yang kadang banyak muncul permasalahan berkaitan dengan kelancaran & efektivitas PJJ. Dipihak siswa juga terjadi fenomena yang unik. Diawal PJJ beberapa siswa melakukan penggantian ponselnya menjadi yang lebih baik agar dapat mengakses PJJ dengan lancar dan mudah. Bahkan siswa yang belum memiliki HP harus membeli baru atau second. Beberapa siswa yang belum memiliki HP harus meminjam anggota keluarga untuk mengikuti PJJ. Pada awalnya PJJ berjalan baik dengan sedikit kendala, tetapi setelah setahun kemudian siswa mulai merasakan jenuh . Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah siswa yang malas mengerjakan dan mengirim tugas dengan berbagai alasan.

Baca juga:   Tingkatkan Hasil Belajar Asmaul Husna melalui Snowball Throwing

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, Pertama Pandemi Covid 19 pertama kali dialami manusia se-dunia, sehingga semua berusaha menghindari, mencegah dan menyembuhkan, baik berupaya memenuhi protokol kesehatan maupun pemberian vaksin dan obat lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kebiasaan hidup manusia dalam berbagai aspek. Kedua Pembelajaran Jarak Jauh merupakan pembelajaran model baru bagi siswa tingkat anak dan remaja sehingga belum terbiasa melakukannya, dalam pelaksanaannya memunculkan fenomena yang unik. Ketiga Pemanfaatan teknologi informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh terbukti belum mampu menggantikan proses pembelajaran tatap muka khususnya bagi usia anak dan remaja. (ipa1/zal)

Guru MAN 2 Bantul Yogyakarta.

Author

Populer

Lainnya