Raport Solusi Penilaian di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Nur Kartika Wulandari, S.P

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid 19 sangat mempengaruhi kondisi fisik, psikis maupun sosial warga dunia. Termasuk dunia pendidikan. Pemerintah dalam posisinya sebagai stakeholder pendidikan telah memberikan solusi agar pendidikan tetap berjalan. Yaitu menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Media berupa aplikasi di internet yaitu melalui jejaring/media sosial seperti WA, IG, Facebook, MS-teams, YouTube dan lainnya. Realitas di lapangan sering ditemui berbagai kendala. Antara lain kondisi geografis rumah siswa (modulasi frekuensi sinyal kurang maksimal), kondisi sosial ekonomi orang tua, psiko-sosial siswa belum terbiasa dengan PJJ.

PJJ terlaksana merupakan sinergi sekolah, orang tua dan masyarakat sehingga peran serta ketiganya sangat diperlukan untuk tercapainya tujuan pendidikan di era pandemi. Pemantauan partisipasi siswa melalui Google form/Zoho form video conference (cisco webex meeting, google meet, whatsapp meeting/messenger facebook atau zoom meeting) dan juga memeriksa hasil pekerjaan siswa melalui Google classroom.

Jumlah partisipan yang terlibat masih jauh dari harapan bahkan. Data dari beberapa guru dalam satu sekolah dengan penulis ternyata tingkat respon siswa tetap rendah dengan berbagai aplikasi pembelajaran via daring.
Dalam proses pencapaian kompetensi, dibutuhkan pengambilan penilaian atau evaluasi oleh guru yang bersangkutan. Menurut Arends (1997) dalam Mahdiansyah, et al (2017), penilaian biasanya mengacu pada seluruh informasi penilaian oleh guru untuk membuat keputusan tentang peserta didik dan kelasnya. Informasi tentang siswa dapat diperoleh secara informal seperti observasi dan perubahan verbal, dapat pula secara formal dengan tes, pekerjaan rumah, dan laporan secara tertulis.
Penilaian kompetensi yang bermuara dari penilaian formatif dan sumatif meliputi penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian formatif maupun sumatif di masa PJJ ini dilakukan secara daring dengan berbagai platform sesuai yang dikehendaki guru dan siswa.
Dalam hal ini Nana Mulyana,S.P., M.Si, kepala SMK Negeri 1 Ngablak memunculkan gagasan dalam menstimulus siswa agar dapat memenuhi dan layak mendapatkan nilai kompetensi. Baik berupa nilai angka maupun nilai-nilai kebaikan yang berguna di kemudian hari apabila sudah bergaul di masyarakat.

Baca juga:   Belajar Keberagaman SARA dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika melalui STAD

Adapun ide tersebut adalah berupa penilaian melalui RAPORT (Real Activities Pasport), yaitu berupa pelaporan segala kegiatan siswa di rumah yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Penulis beserta guru mata pelajaran yang lain telah melaksanakannya dengan teknis sebagai berikut : siswa diminta mengirimkan foto aktivitas di rumah seperti membantu pekerjaan orang tua baik pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan profesi dari orang tua.

Contoh nyata menjaga warung apabila orang tua mempunyai warung, menyapu, mencuci baju, mencuci piring, mencari rumput untuk makanan ternak bagi orang tuanya yang mempunyai ternak, membantu pekerjaan di kebun apabila orang tuanya berkebun/sawah.
Semua aktivitas tersebut secara berkala mingguan dikirim ke wali kelas. Lalu wali kelas akan membagikannya di Google Classroom sehingga semua guru yang mengajar di kelas tersebut dapat memanfaatkannya dalam penilaian.

Penilain Raport (Real Activities Pasport) ini masuk ke dalam ranah penilaian afektif dan psikomotorik. Selain pelaporan berupa foto kegiatan di rumah, yaitu tentang pemasangan foto profil yang keren berpakaian rapi berdasi bak seorang owner suatu perusahaan di berbagai platform medsos yang digunakan. Hal ini bertujuan agar dapat menjadi semacam stimulus bagi siswa dalam meraih cita-citanya kelak.

Baca juga:   Pembelajaran HOTS dengan Penerapan Inquiry Learning

Dengan adanya Raport (Real Activities Pasport) diharapkan penilaian kompetensi dari guru dapat bersifat objektif dan akuntable. Meski kondisi pandemi diharapkan perbedaan hasil akhir dari pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka tidak jauh berbeda. Pendidikan menjadi tidak terabaikan karena menentukan masa depan bangsa. (pm1/lis)

Guru Produktif SMKN 1 Ngablak, Kabupaten Magelang.

Author

Populer

Lainnya