Pembelajaran Seni Rupa Berbasis Ekopedagogik selama PJJ

Oleh : Lukmono Adi S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, EKOPEDAGOGIK dapat diartikan sebagai gerakan akademik untuk menyadarkan para peserta didik menjadi seorang individu yang memiliki pemahaman, kesadaran, dan keterampilan hidup selaras dengan kepentingan pelestarian alam (Kahn, 2010). Melalui sistem pembelajaran ekopedagogik diharapkan timbul karakter positif pada diri siswa yang berimplikasi dalam sikap dan perilaku hidupnya yang benar-benar peduli pada lingkungan hidup.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, guru dituntut beradaptasi dengan situasi ini. Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaranpun harus menyesuaikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Nisya (2018), strategi yang dipersiapkan guru dengan mempertimbangkan banyak hal, guru harus memiliki kemampuan meninjau kurikulum ataupun siapakah yang akan diajar. Setelah menentukan strategi pembelajaran, guru harus dapat menyiapkan media pembelajaran sebelum melakukan aktivitas belajar mengajar.

Pada era pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam pembelajaran seni rupa di SMPN 28 Semarang, penulis masih menerapkan metode ceramah melalui zoom metting. Guru menyampaikan pembelajaran secara lisan serta memegang kendali penuh akan kelas. Metode demonstrasi dengan memperagakan suatu proses, situasi, atau benda tertentu pada saat pengajaran. Metode diskusi menggunakan platform google classroom dengan belajar memecahkan masalah berkaitan dengan isu-isu lingkungan. Bisa juga dilakukan melalui chat forum antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa lainnya. Metode tanya jawab dengan mengajak siswa berpartisipasi secara aktif pada pembelajaran untuk bertanya dan menjawab.

Baca juga:   Peningkatan Kemampuan Individu dalam Bermain Musik dengan Discovery Learning

Iswidayati (2011) menjelaskan bahwa media pembelajaran membantu berlangsungnya interaksi antara guru dan peserta didik, sehingga tujuan, materi, metode dan sumber belajar dapat berkaitan satu sama lain dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang diinginkan. Berdasarkan hal tersebut, bentuk penugasan kepada siswa dilakukan dalam pembelajaran seni rupa berbasis ekopedagogik di SMPN 28 Semarang agar para siswa terbiasa menggunakan media alami dan bahan daur ulang yang bermanfaat untuk kehidupan. Siswa diberi tutorial pembuatan tugas seni rupa berbasis alam dan daur ulang melalui video yang dishare lewat Google Form dan Google Classroom. Untuk selanjutnya siswa diberi kelonggaran waktu untuk mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk selanjutnya dikerjakan menjadi sebuah karya seni lukis dan patung seperti yang ditugaskan oleh guru.

Selain penugasan untuk berkarya seni rupa dengan menggunakan bahan-bahan alam dan daur ulang, guru juga menyampaikan tugas yang berkaitan dengan tema-tema pelestarian alam misalnya, masalah reboisasi, pencemaran lingkungan, global warming, menjaga kebersihan lingkungan dan lainnya. Tugas tersebut diwujudkan dalam tema-tema untuk membuat gambar ilustrasi. Pengumpulan tugas-tugas praktik tidak dilakukan secara langsung, namun semua karya difoto untuk selanjutnya dikirimkan melalui aplikasi google form dan google classroom.

Baca juga:   Belajar Tex Explanation dengan Koperatif Jigsaw

Kesan indah dalam karya seni rupa berbahan alami hampir dijumpai di setiap karya siswa SMPN 28 Semarang. Bentuk objek yang dibuat dengan teliti dan rapi. Terdapat banyak bentuk karya memiliki karakteristik yang berbeda. Penggunaan bahan alami yang beragam dan teknik yang beragam menambah keindahan karya seni rupa mereka. Kemudian karya seni rupa hasil pembelajaran ekopedagogik ini jga bersifat alami. Hal ini tampak pada penggunaan media alami seperti ampas kopi, pelepah pisang, koran bekas dan bahan daur ulang lainnya.

Diharapkan melalui berbagai pendekatan dalam pembelajaran seni rupa berbasis ekopedagogik di SMPN 28 Semarang tumbuhlah kesadaran ekologis dan karakter peduli ingkungan dari para siswa, seperti yang disampaikan oleh Muhaimin (2015), bahwa sikap bukanlah suatu bentuk yang statis, melainkan selalu berkembang secara dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk itulah sikap yang berkenaan dengan moralitas lingkungan perlu dibentuk secara terus-menerus sehingga terbentuk kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. (ipa1/ida)

Guru Seni Budaya SMPN 28 Semarang

Author

Populer

Lainnya