Dengan Media Baper Tak Lagi Takut Matematika

Oleh : Sahrul S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KUALITAS pendidikan dapat diukur dari adanya peningkatan hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya penggunaan alat peraga oleh pendidik dalam proses belajar mengajar. Terutama dalam pelajaran pelajaran matematika di tingkat sekolah dasar (SD).

Usia 6-8 tahun merupakan awal usia sekolah yang sebenarnya bagi anak. Masa ini merupakan masa peralihan dari masa pra sekolah ke masa sekolah. Kemampuan anak untuk berpikir logis sudah berkembang dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Ketidaktertarikan peserta didik dalam menerima pelajaran matematika pada materi operasi bilangan bulat, pada peserta didik kelas 3 SDN 01 Sastrodirjan menimbulkan hasil belajar tidak tuntas.

Penulis berusaha mengubah metode tradisional menjadi metode yang menarik dengan media pembelajaran. Yaitu menerapkan Batang Napier (Baper) atau batang perkalian. Alat peraga harus digunakan secara tepat, disesuaikan sifat materi yang disampaikan dan sesuai dengan tahap perkembangan mental anak.

Alat peraga batang perkalian ini terinspirasi dari alat peraga yang diciptakan oleh John Napier pada tahun 1617. Awalnya alat peraga ini disebut sebagai Tulang Napier. Kala itu, John Napier masih menuliskan angka-angkanya pada potongan tulang-tulang hewan. Seiring perkembangan zaman, banyak yang meniru ciptaan John Napier dengan menuliskannya pada potongan batang-batang pohon. Setiap batang yang terdiri atas 1 kolom, kemudian dimasukkan ke dalam satu kotak kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana. Alat dan bahan styrofoam, kertas HVS, kertas padi, gunting, dan double type. Cara membuatnya adalah pertama, membuat tulisan angka untuk setiap kolom, agar terlihat rapi, bisa dengan bantuan Microsoft Office Word. Kedua, buatlah dalam setiap kolom terdiri atas 10 kotak untuk batang pada basis 10 (basis decimal), dan 8 kotak untuk basis 8. Pastikan setiap kolom memiliki ukuran kotak yang sama panjang dan sejajar. Begitu juga antarkolom satu dengan yang lain harus mempunyai ukuran yang sama. Jika menggunakan Microsoft Office Word tinggal menggunakan menu copy paste untuk menggandakan setiap kolom agar tetap sama. Buatlah sebanyak 11 kolom untuk basis 10 dan 8 kolom untuk basis 8. Ketiga, jika sudah selesai silahkan cetak hasilnya. Keempat, gunting hasil cetakan tersebut berdasarkan garis yang terletak pada setiap sisi kolom. Kelima, tempelkan hasil potongan kolom tersebut dengan styrofoam yang berwarna putih dan potong styrofoam tersebut berdasarkan panjang kertas kolom yang ditempelkan, lalu bagian lain dari styrofoam (yang berwarna) ditempel kolom basis 8. Lakukan seterusnya sampai semua kertas kolom sudah terpasang. Keenam, lipat-lipat kertas padi hingga membentuk seperti balok tanpa tutup dengan bagian atas yang tidak terlipat, ukuran balok disesuaikan dengan panjang susunan semua kolom yang sudah dibuat sebelumnya. Cara penggunaannya adalah, ambil batang 4 dan 8, lalu tuliskan baris ke-3 dan ke-7. Kemudian jumlahkan menurut arah diagonal panah dimulai dari kotak kanan ke kotak paling kiri. Kolom paling kanan 6, kolom berikutnya 4 + 5 + 8 = 17, maka dituliskan ke kolom berikutnya. Kolom berikutnya 1 + 2 + 2 + 2 = 7. Jadi hasil perkaliannya dari 48 x 37 sama dengan 1776.

Baca juga:   Vipel Memudahkan Siswa Belajar Praktik Produktif Peternakan dalam Pembelajaran Daring

Setelah siswa mendapat kesempatan terlibat dalam proses pengamatan dengan bantuan alat peraga, maka dapat diharapkan akan tumbuh minat belajar matematika pada dirinya, dan akan menyenangi konsep yang disajikan. Ini karena sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya, yang masih menyenangi permainan. (ce4/ida)

Guru SDN 01 Sastrodirjan, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.

Author

Populer

Lainnya