Tingkatkan Keterampilan Speaking dengan Imitation

Oleh : M. istingal, M.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Seperti diketahui, kita perlu meningkatkan keterampilan speaking siswa-siswa di sekolah, maka siswa harus dibiasakan praktik berbicara. Mempelajari grammar tidak akan pernah meningkatkan keterampilan speaking. Listening juga tidak pernah akan meningkatkan keterampilan speaking. Siswa harus berlatih benar-benar untuk berbicara speaking. Namun demikian bagaimana jika siswa tidak mempunyai teman untuk diajak bicara ketika dia berada di rumah misalnya saat berlangsung PJJ (pembelajaran jarak jauh).

Bagaimana cara siswa belajar berbicara dalam bahasa Inggris sendirian? Ternyata ada teknik yang memungkinkan untuk diterapkan apabila siswa ingin belajar speaking sendirian. Tanpa teman atau orang lain sebagai partner atau lawan bicara. Dalam metode belajar ini tidak dibutuhkan orang lain sebagai lawan bicara. Teknik ini bahkan dapat meningkatkan beberapa aspek dalam keterampilan berbicara siswa kita. Misalnya struktur kalimat, grammar, vocabulary, dan yang paling penting kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan ide siswa secara efektif. Lalu, apakah teknik yang dimaksud di atas tersebut?

Teknik atau metode belajar speaking tersebut adalah imitation. Belajar berbicara dalam bahasa Inggris melalui imitasi. Learning to speak English through imitation (youtube.com/watch?v=CAU2zx2Ri_M). Itulah teknik yang penulis terapkan di SMK Negeri 1 Ngablak, Kabupaten Magelang dalam masa pandemi Covid-19. Imitasi tidak diartikan hanya sekadar pengulangan kata-kata yang sama dari ucapan pembicara asli untuk memperbaiki pronounciation. Terdapat sedikit pengembangan dari teknik imitasi pada metode ini.
Berikut ini adalah langkah-langkah metode imitasi untuk peningkatan keterampilan speaking siswa. Pertama-tama siswa diminta untuk mendengarkan sebuah percakapan, sebuah cerita, atau sejenis pidato. Setelah itu siswa dianjurkan menyampaikan apa yang telah didengarkannya dengan kata-katanya sendiri. Misalnya diperdengarkan dari rekaman HP : When I was young, I… kalimat yang yang diucapkan siswa berubah menjadi When he was young, he…

Baca juga:   Efektivitas Pembinaan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru

Naskah dari teks yang pernah penulis terapkan adalah seperti terurai di bawah ini. Diperdengarkan (Dp) : last summer, I took a trip to Australia. Ungkapan siswa (Us) : last summer, he took a trip to Australia. (Dp) : I really enjoyed my holiday there. (Us) : He really enjoyed his holiday there. (Dp) : the first tourist spot I visited was a marine park called Sea World. (Su) : the first tourist spot he visited was a marine park called Sea World. (Dp) : I had a wonderful time there. (Su) : he had a wonderful time there. (Dp) : The first thing I visited was the Oceanorium. (Su) : the first thing he visited was the oceanorium.

Itu tadi adalah salah satu cara yang dapat kita terapkan. Cara lainnya, kelompok kata atau kalimat pendek itu digantikan dengan bagian lebih panjang dari sebuah pidato yang dipenggal dengan melakukan pause rekaman dari HP misalnya. Siswa diminta untuk mendengarkan sebuah pendapat atau ide dari rekaman untuk diungkapkan dalam ucapannya sendiri. Dengan kata lain teknik yang kita gunakan bisa dinamakan dengan pendekatan imitasi dari mudah ke sukar. Cara ini didasarkan pada konsep pelatihan secara progresip.

Baca juga:   Belajar Grammar Lebih Mudah dengan Metode Mind Mapping

Prinsipnya adalah jika siswa mulai dari aktivitas yang mudah kemudian meningkat ke yang sukar akan memaksa siswa menjadi lebih baik. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pelatihan ini efektif.

Terdapat beberapa keunggulan yang didapat dari teknik ini. Misalnya, siswa dapat mendengarkan dan menirukan berbahasa Inggris yang benar dan dapat membentuk kalimat yang tepat. Siswa juga dapat belajar idiom, ungkapan, dan pola percakapan lain yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Melalui cara ini grammar dipelajari secara implisit. Siswa tidak merasa belajar grammar, seperti anak-anak kecil manakala belajar tata bahasa dari bahasa ibunya. Tatkala menirukan kalimat, siswa tidak berpikir tentang grammar, karena dia akan fokus pada aktivitas komunikasi. Siswa akan berkonsentrasi pada memahami dan mengungkapkan pendapat atau idenya. (pm1/lis)

Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Ngablak, Kabupaten Magelang.

Author

Populer

Lainnya