Mengubah Paradigma Siswa SD terhadap Matematika yang Sulit dan Membosankan

Oleh: Heni Lusianti, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran Matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakekat anak dengan hakekat Matematika. Untuk itu diperlukan adanya jembatan yang dapat menetralisasi perbedaan atau pertentangan tersebut.

Dalam pembelajaran di SD Negeri 03 Wonogiri Kabupaten Pemalang pada pelajaran Matematika ditemukan fakta – fakta bahwa anak kurang memiliki minat dan motivasi untuk mempelajarinya. Akibatnya hasil tes formatif pada akhir kegiatan sangat rendah. Perlu diketahui bahwa nilai akhir kegiatan sebagai tolak ukur keberhasilan pada suatu pembelajaran.

Penggunaan metode pembelajaran ceramah saja tidak tepat karena metode tersebut memiliki banyak kelemahan, di antaranya adalah : 1) Dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa apalagi bila guru kurang dapat mengorganisasikannya; 2) Menimbulkan verbalisme pada siswa; 3) Materi ceramah terbatas pada apa yang diingat guru; 4) Merugikan siswa yang lemah dalam keterampilan pendengaran; 5) Menjejali siswad engan konsep yang belum dapat diingat terus; 6) Tidak merangsang perkembangan kreatifitas siswa; 7) Terjadi proses satu arah yaitu dari guru kepada siswa.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Kesebangunan dengan Video Pembelajaran

Kemampuan guru yang penting dalam interaksi pembelajaran yang dilakukan adalah kemampuan menggunakan metode pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan karakteristik siswa. Tetapi pada kenyataannya banyak ditemukan masalah bagi siswa yang tertarik pada pelajaran matematika. Sedikit siswa yang tertarik pada pelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena para siswa mempunyai paradigma bahwa pelajaran matematika sulit untuk dipahami dan membosankan. Paradigma inilah yang kemudian memunculkan rasa pesimis atau tidak antusias siswa terhadap pelajaran matematika.

Tingkat pemahaman usia SD mengalami kesulitan merumuskan, didefinisikan dengan kata – kata sendiri. Mereka belum membuktikan dalil secara baik. Apabila mereka bisa menyebutkan definisi atau dapat menyebutkan dalil secara benar, maka besar kemungkinan karena hafalan bukan pengertian. Mereka masih kesulitan berpikir secara induktif apalagi secara deduktif, umumnya mereka berpikir secara transitif (dari khusus ke khusus dan belum mampu membuat kesimpulan).

Dari uraian di atas jelas bahwa anak itu bukanlah tiruan dari orang dewasa. Anak bukan bentuk mikro dari orang dewasa. Anak – anak mempunyai kemampuan intelektual yang berbeda dengan orang dewasa. Cara berpikir anak berbeda dengan cara berpikir orang dewasa.

Baca juga:   Tingkatkan Kualitas Belajar Siswa melalui Peran Orang Tua

Dalam pelajaran Matematika di SD banyak materi yang harus dikuasai oleh siswa sebagai dasar dari ilmu Matematika, sehingga guru harus mampu berinovasi dan kreatif dalam mengembangkan metode dan media pembelajaran guna mensiasati agar siswa termotivasi dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Contoh metode pembelajaran : unit teaching, mind mapping, Latihan/drill, penemuan (Discovery), simulasi, demonstrasi, problem solving dll sedangkan contoh media pembelajaran antara lain : Model bangun, alat ukur, alat permainan, skema konsep, peragaan rumus, gambar diagram dll. Penggunaan metode dan media pembelajaran disesuaikan dengan materi pelajaran secara tepat, menarik dan variatif diharapkan mampu mengubah paradigma siswa terhadap pelajaran matematika yang semula membosankan dan sulit menjadi asyik dan menyenangkan dengan begitu tujuan pembelajaran matematika khususnya di SDN 03 Wonogiri akan diperoleh secara maksimal. Media pembelajaran sebagai teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran (Wilbur Schramm ;1997). (ag1/ton)

Guru Matematika SDN 03 Wonogiri.

Author

Populer

Lainnya