Tingkatkan Belajar Fiqih dengan Penerapan Targhib dan Tarhib

Oleh : Akhmad Sugeng Budiarjo S.Pd.I

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 berdampak besar dalam memcerdaskan anak bangsa, khususnya dalam membentuk karakter peserta didik. Pasalnya, dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), tingkat kedisiplinan dan motivasi belajar siswa menurun.

Bahkan sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) merasakan banyak peserta didik kehilangan karakternya terkait nilai-nilai dan kegiatan beribadah selama di rumah. Hal ini dimungkinkan karena minimnya pantauan dan bimbingan dari para orang tua masing-masing. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi belajar mengajar yang variatif, menyenangkan, dan bermakna. Dengan begitu, siswa dapat mandiri dan mencapai ketuntasan dalam belajar.

Menurut Fadhilah Kurnia (2020), pendidikan dalam konteks PAI berfungsi sebagai warasatu al-anbiya yang hakikatnya menjalankan misi sebagai rahmatan lil al-amin, yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk patuh dan taat pada hukum-hukum Allah SWT. Selanjutnya misi ini ditumbuhkembangkan kepada pembentukan kepribadian dan karakter yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh serta bermoral tinggi.

Dalam membentuk karakter peserta didik pada masa Covid-19 ini, pendidik harus mampu menunjukkan keteladanan agar peserta didik mengikutinya. Salah satunya dengan metode pembelajaran Targhib dan Tarhib. Tarhib dikenal dengan istilah reward yang berarti ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan dan merupakan media pendidikan yang dapat membentuk meotivasi yang baik, sementara tarhib dikenal dengan istilah punishment, hukuman atau sanksi sebagai bentuk penguatan kearah negatif, dengan cara yang tepat dan bijak tentunya.

Baca juga:   Konsistensi Pembelajaran IPS di Tengah Pandemi Covid-19

Metode targhib atau reward lebih diutamakan dari pada tarhib dalam pelaksanaannya. Pada materi pembelajaran salat Jumat dengan kompetensi dasar (KD) mempraktikan salat Jumat kelas VII SMPN 3 Weleri, penulis memberikan tugas, pertama, sebagai bentuk kewajiban terutama sebagai muslim laki-laki. Kedua, siswa dapat menggambarkan pelaksanaan salat Jumat di daerahnya masing-masing, dari protokol kesehatan (prokes), rukun, syarat, sunah, dan tema khutbah Jumat. Ketiga, selanjutnya siswa dapat menuangkan gambaran prosesi salat Jumat tersebut dalam lembar kertas/buku tugas dan dikumpulkan. Bagi peserta didik perempuan, bisa meminta bantuan keluarganya misalnyan ayah, kakak, atau adik laki-lakinya untuk mengambarkan pelaksanaan salat Jumat yang telah dilaksanakan. Siswa diberikan kesempatan selama satu minggu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Penghargaan bagi siswa yang memenuhi tugas sesuai jadwal dan diberikan nilai ketrampilan A (sangat bagus).

Tarhib memang tetap diperlukan, tetapi harus didahului keteladanan dan nasihat yang membangun. Jika teladan dan nasihat kurang mampu mengubah karena peserta didik malas melaksanakan kewajibannya, pendidik bisa menekankan pemberian hukuman atau sanksi yang edukatif. Misalnya dengan memberikan tugas dengan mencari kumpulan-kumpulan khutbah yang popular baik dari refrensi buku khutbah atau dari media internet. Dengan beberapa judul khutbah dari khutbah pertama sampai kedua dengan jumlah minimal tugas.

Baca juga:   Metode EGP dalam Pembelajaran Menyusun Cerpen

Hasilnya dengan metode tersebut, siswa kelas VII SMPN 3 Weleri lebih disiplin mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Meskipun masih ada beberapa siswa yang memiliki sifat malas dengan berbagai kendala dan alasan. Sebagai pendidik tetap harus memaklumi apalagi di masa pendemi Covid-19. Keuntungan dari metode Targhib wa Tarhib ini adalah untuk membangkitkan motivasi siswa dalam belajar maupun pengamalan materi yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan metode ini untuk membiasakan siswa melaksanakan dan mengamalkan materi yang diajarkan guru. (lbs1/ida)

Guru PAI SMPN 3 Weleri, Kabupaten Kendal

Author

Populer

Lainnya