Asyiknya Belajar Bahasa Inggris dalam Genggaman

Oleh: Dimar Siti Muntharoh, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Tidak terasa sudah setahun Covid-19 menemani negara kita. Seluruh aspek kehidupan tentu terkena imbasnya. Selain efek dalam bidang ekonomi yang begitu terasa, tidak dapat dipungkiri bahwa bidang pendidikan pun mengalami dampaknya. Kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara offline di sekolah, harus “dirumahkan” dengan segera.

Berbagai aplikasi dan media kemudian dimanfaatkan oleh tenaga pendidik untuk memaksimalkan pembelajaran dari rumah. Pada awal masa pandemi SMA Negeri 1 Karanganyar Demak belum menyediakan aplikasi khusus yang bisa digunakan oleh semua guru. Sehingga saya memilih Google Classroom sebagai salah satu aplikasi yang saya gunakan. Tentunya untuk lebih memudahkan pembelajaran daring selain dari whatsapp pribadi ataupun grup whatsapp yang sudah umum digunakan.

Mengutip dari wikipedia, Google Classroom (kelas Google) adalah layanan web gratis, yang dikembangkan oleh Google untuk sekolah, yang bertujuan untuk menyederhanakan membuat, mendistribusikan, dan menilai tugas tanpa harus bertatap muka. Tujuan utama Google Classroom adalah untuk merampingkan proses berbagi file antara guru dan peserta didik.
Memahami betul bahwa pembelajaran bahasa Inggris tanpa tatap muka tentu mempunyai tantangan tersendiri. Perbedaan bahasa yang diajarkan dengan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh peserta didik menjadi pangkal permasalahannya. Peserta didik yang terbiasa merespon langsung selama KBM, harus memahami dengan agak “berjarak”. Sehingga saya memutuskan untuk mengajar dengan dua bahasa sekaligus untuk memudahkan peserta didik memahami materi. Diawali dengan bahasa Inggris kemudian mengartikannya dalam bahasa Indonesia.

Baca juga:   Google Jamboard Alternatif Media Pembelajaran Interaktif

Karena mengampu bahasa Inggris wajib kelas X dan XI, salah satu materi yang penulis ajarkan adalah tentang song. Jika tahun sebelumnya penulis meminta peserta didik bernyanyi secara langsung di depan kelas dengan bergiliran, kali ini meminta mereka mengirimkan hasil bernyanyi secara individu dalam bentuk video.
Proses bernyanyi yang sudah divideokan kemudian diupload melalui Google Classroom dengan tetap memperbolehka mereka memaksimalkan kreatifitas yang ada.
Pada awalnya penulis berfikir cara ini kurang efektif mengingat file yang harus dikumpulkan berukuran lumayan besar. Ternyata peserta didik antusias untuk memberikan pekerjaan terbaik mereka. Dengan kreatifitas yang ada, mereka mengedit hasil rekaman bernyanyi misalnya untuk pemberian identitas. Komunikasipun terjalin semakin sering karena mereka begitu bersemangat untuk menanyakan detail tugas.

Tidak ada kesulitan yang berarti dalam memanfaatkan aplikasi ini. File video bisa diupload dengan mudah di Google Classroom. Sebagai guru dapat mengakses pekerjaan peserta didik dengan kapan saja. File video sudah tertata rapi di dalam aplikasi, sehingga memudahkan jika perlu dicari kembali.

Baca juga:   Menuju Kurikulum yang Integral (2)

Selain karena bisa diunduh secara gratis di Play Store, aplikasi ini pun mudah diakses dari gawai peserta didik. Dengan fitur yang cukup lengkap dan mudah digunakan, menurut saya Google Classroom bisa menjadi salah satu solusi kita sebagai pendidik yang saat ini dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan. Mari menjadi pendidik yang melek teknologi dengan tetap memberikan yang terbaik bagi generasi penerus kita. (kb4/lis)

Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Karanganyar, Demak.

Author

Populer

Lainnya