Belajar Ekonomi Kreatif dengan Membuat Karya dari Barang Bekas

Oleh : Bambang Sigid Pramono M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Banyak guru IPS mengeluh dalam pembelajaran daring kurang bergairah, kurang bersemangat, dan banyak yang tidak mengerjakan tugas. Selain faktor kejenuhan, mata pelajaran IPS dianggap membosankan, menjenuhkan dan dianggap pula sebagai mata pelajaran yang cenderung hapalan karena materi IPS berupa pemahaman konsep dan kurang memupuk peserta didik untuk berkreasi.
Untuk memupuk peserta didik bergairah belajar lagi di masa pademi Covid-19, guru diharapkan dapat memotivasi peserta didik untuk lebih bersemangat mempelajari, memahami, dan mencintai IPS. Berdasarkan pengalaman dan data penulis selama pembelajaran daring ternyata motivasi belajar IPS masih cenderung rendah dan kurang antusias ditandai menurunnya keaktifan peserta didik menyelesaikan tugasnya. Untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik perlu adanya inovasi dalam proses pembelajaran. Yakni dengan menggunakan media pembelajaran menyenangkan dan menantang dari hasil karya peserta didik.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), karya berarti hasil atau perbuatan. Sedangkan barang bekas menurut Rosdianawati (2003) berarti kegiatan daur ulang atau memanfaatkan barang bekas. Yakni, membuat mainan atau benda dengan mempergunakan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, seperti kotak korek api, botol, karton, plastik, kayu, dan lain-lain.
Manfaat penggunaan kembali barang bekas menghemat bahan mentah, mengurangi kebutuhan akan tempat sampah, dapat memberikan lapangan pekerjaan yang berkelanjutan, dan bermanfaat bagi konsumen, karena menghemat uang serta memupuk kreativitas. Selain itu, menumbuhkan motovasi peserta didik untuk berkarya yang bernilai ekonomi. Ke depannya bisa berjiwa wiraswasta. Hal ini dialami peserta didik kelas 9 SMPN 14 Surakarta ketika pembelajaran IPS materi ekonomi kreatif. Hasilnya, siswa jauh lebih antusias, aktif bertanya dengan guru, bahkan sangat antusias mengirim foto hasil karyanya berikut proses pembuatannya melalui Google Classroom.

Baca juga:   Teknik Probing-Prompting Tingkatkan Kualitas Pembelajaran IPS

Tahapan pembelajaran daur ulang ini meliputi, pertama, berikan penjelasan kepada peserta didik tentang materi ekonomi kreatif dari barang-barang bekas bernilai ekonomi dan contoh produknya. Kedua, mengajak peserta didik membuat rancangan atau desain karyanya dan menentukan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat karya dari barang bekas. Setelah membuat desain atau rancangan, peserta didik mencari dan mengumpulkan barang bekas serta bahan pendukung di sekelilinya untuk membuat karya bernilai ekonomis. Ketiga, membuat karya sesuai rancangan atau desain dari barang-barang bekas. Keempat, penyelesaian dan penyempurnaan karya atau finishing sampai karya jadi. Setiap langkah pembuatan karya didokumentasi sebagai lampiran laporan. Kelima, peserta didik mengirimkan laporan proses pembuatan dan hasil karya melalui Google Classroom. Guru berperan sebagai fasilitator dan memberikan nilai hasil karya peserta didik.

Hasil penerapan metode tersebut, sangat memuaskan. Hampir 92 persen peserta didik mengirimkan hasil karya dan laporannya. Hal ini membuktikan, peserta didik merasa senang, tertantang, dan bersemangat menyelesaikan tugas guru dalam membuat karya dari barang bekas. Peserta didik bisa meengekspresikan kreativitasnya dan kemampuannya untuk membuat karyanya sendiri. Mereka merasa senang, pembelajaran berlangsung dinamis, dan peserta didik lebih mudah memahami materi yang dipelajari berkaitan dengan ekonomi kreatif. (kb4/ida)

Baca juga:   Mengenal Aksara Jawa dengan Permainan Ular Tangga

Guru IPS SMPN 14 Surakarta

Author

Populer

Lainnya