Menulis Deskriptif Bahasa Inggris dengan Strategi Picture Word Inductive

Oleh : Kasmirin,S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MENULIS adalah salah satu ketrampilan bahasa yang harus dipelajari siswa. Dengan menulis, seseorang bisa menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Salah satu kelebihan menulis dibandingkan dengan berbicara adalah siswa memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk merangkai kata-kata guna menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Selain itu, kesalahan siswa tidak diketahui secara langsung oleh orang lain, sehingga siswa tidak perlu merasa takut.

Tingkat literasi berbahasa Inggris bagi siswa SMP adalah tingkat fungsional. Siswa diharapkan bisa berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti menulis pesan singkat, kartu ucapan, undangan, pengumuman, dan lain-lain. Dalam pembahasan materi ini tentang teks deskriptif bahasa Inggris pada jenjang SMP Kelas VII dengan menggunakan Strategi Picture Word Inductive Model

Menurut Wikipedia dan kamus Webster, teks deskriptif adalah sebuah teks yang bertujuan memberikan gambaran yang jelas mengenai benda/orang/tempat tertentu.
Calhoun (1999) mengembangkan Picture Word Inductive Model (PWIM), menggunakan foto berisi objek yang dikenal siswa untuk memproduksi kata-kata dari anak-anak. Model ini membantu siswa menemukan beberapa kosa kata melalui apa yang mereka baca dan lihat, serta kosakata yang mereka tulis, dan juga menemukan prinsip fonetik dan struktural yang hadir dalam kata-kata.

Baca juga:   Pembelajaran TIK selama Pandemi dengan Berbagai Aplikasi

Meskipun tingkat literasi yang diharapkan dikuasai siswa hanyalah tingkat yang sangat sederhana, tetapi tidak mudah bagi siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Ampelgading Pemalang Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019 untuk mempraktikkannya. Banyak siswa (15 dari 28 atau ± 53,57%) kelas VII A SMP Negeri 3 Ampelgading Pemalang Tahun Pelajaran 2018/2019 pada Semester 2 tidak bisa mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional dan esei pendek sangat sederhana berbentuk deskriptif dan prosedur untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dengan baik.

Untuk mengatasi permasalahan siswa tersebut, peneliti mencoba menerapkan strategi Power Word Inductive Model guna membantu siswa dalam menemukan sebanyak mungkin kosa kata untuk kemudian disusun menjadi frase, kalimat, paragraf dan teks pendek sangat sederhana yang berbentuk dekriptif untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat. Penelitian ini menarik dilakukan karena peneliti berasumsi bahwa siswa akan dapat menuliskan banyak kosa kata secara bersama-sama dengan menggunakan strategi tersebut.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan pada semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019, dimulai pada bulan Februari 2019 sampai dengan bulan Maret 2019. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII A SMP Negeri 3 Ampelgading Pemalang Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019. Sebagai subyek penelitian adalah 28 siswa kelas VII A dengan siswa laki-laki sebanyak 16 siswa dan perempuan sebanyak 12 siswa. Untuk penelitian ini, diharapkan minimal 85% siswa mencapai hasil belajar  75 dalam mendiskripsikan benda/ orang/ tempat tertentu.

Baca juga:   Pembelajaran Descriptive Text dengan Kemicar Speaking Ability

Berdasarkan hasil penelitian dari Pra Siklus, Siklus I sampai Siklus III terdapat peningkatan nilai hasil belajar dalam menyusun teks deskriptif berbahasa Inggris pada siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Ampelgading Pemalang. Kondisi awal sebelum perbaikan rata-rata hanya mencapai 68,96, pada Siklus I rata-rata meningkat mencapai 71,78, lalu pada Siklus II meningkat lagi mencapai 75,18, dan pada Siklus III meningkat lagi mencapai 79,36.

Berdasarkan hasil pada kondisi awal sebelum diadakan tindakan, siswa yang tuntas hanya ada 13 siswa dengan persentase sebesar 46,43%, pada Siklus I jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat sebanyak 16 siswa dengan persentase sebesar 57,14%, dan pada Siklus II jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat sebanyak 20 siswa dengan persentase sebesar 71,43%, sedangkan pada Siklus III jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat sebanyak 25 siswa dengan persentase sebesar 89,29%. Dengan demikian hipotesis terbukti. (ag1/zal)

Guru SMPN 3 Ampelgading.

Author

Populer

Lainnya