Menjaga Kesehatan Mental Siswa Selama Pandemi

Oleh : Sukamtiyana, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 telah membuat banyak orang mengalami gangguan kesehatan mental. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa namun anak-anak juga mengalaminya. Menguntip Medical Daily (1/10/2020) berdasarkan penelitian untuk anak usia 10 hingga 17 tahun harusnya mendapatkan perawatan kesehatan mental. Perawatan kesehatan mental anak-anak didasarkan pada gejala serta kebutuhan klinis anak dan rencana perawatan yang diperlukan.

Pada dasarnya anak usia bermain sangat mudah bosan. Ditambah dengan pandemi yang mengharuskan anak hanya berada di rumah. Rasa bosan dan jenuh pasti tidak dapat tertahankan oleh anak. Kebutuhan anak akan bermain dan bersosialisasi dengan teman seusianya tidak terpenuhi.

Saat seperti inilah, tidak jarang orang tua lebih fleksibel dengan pemberian gadget karena dianggap lebih mudah dan mampu memberikan hiburan bagi anak. Gadget dianggap mampu menggntikan kebutuhan anak akan kehadiran teman bermain.

Memang tidak salah apabila gadget dijadikan sarana hiburan bagi anak, namun orang tua juga harus hadir dan mendampingi anak serta memberikan durasi penggunaan gadget agar tidak menimbulkan hal negatif.

Baca juga:   Belajar Aktif dengan Resitasi melalui Google Clasroom

Tingkah laku dan emosi anak akan menimbulkan masalah selama masa pandemi ini. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi terutama rasa bosan anak yang timbul akibat kepenatan di rumah. Lalu bagaimana cara mengatasi anak yang rentan stres saat pendemi?

“Ciptakan ruang yang aman agar anak-anak dapat mengajukan pertanyaan dan menyampaikan kekhawatiran dan rasa frustasi mereka akibat hilangnya kegiatan dan rutinitas selama isolasi,” kata Dr. Barbara Nosal, Ph.D dikutip dari haibunda.com. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua dalam mendukung kesehatan mental dan emosional anak.

Di antarannya menciptakan ruang bagi anak agar dapat menyampaikan apa yang anak alami baik stres ataupun frustasi akibat hilangnya kegiatan dan rutinitas sebelum pandemi. Orang tua harus bisa membuat anak tetap tenang dan menciptakan hal menyenangkan untuk menghindari kebosanan. Orang tua dapat menggunakan teknologi agar anak tetap terhubung dengan guru serta teman-teman sekolahnya.
Orang tua juga dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk lebih memperhatikan anak. Memberikan kegiatan yang menyenangkan untuk menjalin hubungan emosional dengan anak. Salah satu contoh yang dapat dilakukan adalah memasak bersama, beres-beres rumah bersama, menonton televisi bersama dan kegiatan lainnya.

Baca juga:   Belajar PPKn dengan Memanfaatkan Classroom saat Pandemi

Orang tua juga harus bisa memahami tingkat frustasi anak. Misalnya anak ingin sendiri, anak perlu curhat dan menyampaikan perasaannya, maka orang tua wajib untuk mendukung serta mendengarkan keluh kesah anak.

Anak yang bahagia dan merasa dilindungi orang tua akan sedikit membantu dalam menghadapi rasa stres dan frustasi anak selama pandemi ini. Jika kesehatan mental anak terjaga maka tingkah laku dan emosional anak juga akan terjaga. Hal ini akan memberikan energi positif bagi anak sehingga anak mampu menjaga imun tubuh untuk kesehatan anak. Anak sehat, jiwa sehat, terhindar dari tertularnya virus. (pm2/lis)

Guru PJOK SDN Ketep 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya