Efektivitas Kombinasi Pembelajaran Daring-Luring di Masa Pandemi

Oleh : Sumarlan, SPd

spot_img

RADARSEMRANG.ID, Sejak merebaknya Covid-19 di Indonesia awal Maret 2020 hingga saat ini pemerintah masih mewajibkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi sekolah di semua jenjang pendidikan. Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai kendala yang mengganggu pembelajaran. Hal tersebut tentu saja kontra produktif dengan tujuan pendidikan. Menurut Bloom (1956) tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu: cognitive domain , yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

Affective domain, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Psychomotor domain, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, dan berenang.

Persoalan pembelajaran daring dari sisi siswa adalah ketersediaaan paket internet yang terbatas. Karena terdapat sekelompok siswa yang hanya mengandalkan bantuan kuota belajar dari pemerintah. Sehingga ketika kehabisan kuota, maka proses belajar terhenti. Sebagian proses belajar terkendala oleh sulitnya mendapatkan sinyal internet yang stabil. Dan yang paling memprihatinkan adalah beberapa siswa ada yang tidak memiliki smartphone sendiri.

Baca juga:   Belajar Akuntansi Lebih Efektif dengan PBL

Sedangkan dari sisi pengajar, persoalan yang timbul adalah keterbatasan menjelaskan materi secara detail dan kesulitan memantau afektif dan kehadiran siswa.

Persoalan tersebut menuntut guru untuk lebih bijaksana dalam menyikapinya. Salah satu solusinya adalah dengan menerapkan kombinasi pembelajaran daring dan luring. Secara teknis dalam penerapannya bisa dilaksanakan sebagai berikut: guru menyampaikan materi secara online/daring, namun tetap memberikan pemakluman terhadap siswa yang kurang mampu dan tidak memiliki gawai.
Pengumpulan tugas dan ulangan siswa pun dapat dilakukan dengan daring dan luring. Pemberian materi tatap muka berkelompok dan terbatas dengan menerapkan social distancing. Identifikasi mana materi pembelajaran yang bisa dilakukan dengan daring atau luring.

Dari penerapan kombinasi pembelajaran daring-luring akan menghasilkan dampak positif jika dikaitkan dengan teori pendidikan yang dikemukakan oleh Nana Sukmadinata (1997). Terdapat 4 teori pendidikan yang berhubungan dengan kurikulum yaitu pendidikan klasik, pendidikan pribadi, teknologi pendidikan dan pendidikan interaksional.
Pembelajaran luring memberikan kesempatan pada siswa untuk mendapatkan informasi dan penjelasan secara langsung dari guru, meskipun dengan cara dan waktu yang dibatasi. Sehingga pemahaman siswa lebih baik.

Baca juga:   Tingkatkan Keterampilan Berbicara Peserta Didik melalui Jigsaw

Pembelajaran daring memberikan ruang gerak yang luas pada siswa untuk belajar mandiri. Tidak hanya mempelajari materi yang diberikan guru, tetapi bisa menambah pengetahuan dari sumber-sumber lain yang ditemui siswa di sekitarnya.

Pembelajaran daring secara langsung menambah pengetahuan dan keterampilan guru dan siswa dalam memanfaatkan tekhnologi informasi sebagai media pembelajaran. Pembelajaran luring memungkinkan siswa dapat beriteraksi langsung dengan guru untuk menanyakan materi yang kurang dipahami. Sedangkan guru dapat memantau dan menilai secara langsung kondisi siswa, penguasaan siswa dan bagaimana sikap dan ketrampilan siswa.

Berdasarkan penjelasan di atas, solusi penerapan pelaksanaan pembelajaran kombinasi daring-luring ini sangat efektif dilaksanakan untuk sekolah dengan siswa yang memiliki latar belakang yang heterogen. Dan tentunya adil dan bijaksana karena tidak ada satu siswa pun yang akan merasa dirugikan. Seluruh siswa memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab yang sama. (pm1/lis)

Guru Biologi SMA Islam Sudirman Tembarak, Kabupaten Temanggung

Author

Populer

Lainnya