Belajar Kehidupan Masa Praaksara dengan Media Historial Comic

Oleh: Siti Khapsah

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran sejarah memiliki arti yang strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Dalam dunia pendidikan, sejarah mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, pembentukan sikap, watak, dan kepribadian peserta didik. Pelajaran sejarah sering dianggap mudah dan digampangkan. Materi pelajaran sejarah yang panjang memaksa siswa untuk mengingat dan menghafal isi dari materi tersebut. Hal ini membuat para siswa enggan belajar sejarah.

Para siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kesesi memiliki kecenderungan kurang tertarik pada mata pelajaran IPS, terutama materi sejarah perkembangan kehidupan masa praaksara. Selain itu, minat baca siswa kelas VII kurang tinggi. Mereka lebih memilih bacaan yang ringan, menghibur, dan menampilkan banyak gambar. Hal ini dikarenakan pada usia-usia tersebut, mereka lebih menyukai hal-hal yang bersifat permainan. Ini tentu saja mempengaruhi minat para siswa terhadap pelajaran IPS materi sejarah.

Beberapa faktor yang melatarbelakanginya menurut pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan di antaranya adalah masalah model pembelajaran sejarah, kurikulum sejarah, masalah materi, dan buku ajar atau buku teks, profesionalisme guru sejarah, dan lain sebagainya (Siswanto, 2009). Upaya meningkatkan kemampuan anak dalam menerima pelajaran sejarah dengan baik diperlukan berbagai peralatan dan model yang dapat dipilih oleh para pengajar sejarah sesuai dengan bahan yang dikembangkan dari masa ke masa (Kasmadi, 1996:9).

Baca juga:   Belajar IPS dengan Bermain Ular Tangga

Seorang pengajar IPS khususnya pada materi sejarah diharuskan memiliki kemampuan untuk memilih model dan media yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Guru IPS hendaknya menyajikan materi dengan model yang bervariasi dibantu dengan media yang tepat, sehingga pembelajaran menjadi menarik dan tidak membosankan. Salah satunya lewat media historical comic atau komik sejarah.

Komik merupakan bacaan yang cukup digemari oleh semua kalangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Walt Disney dalam Johana (2007:31), elemen-elemen dalam komik menyediakan penceritaan tingkat menengah dan hiburan visual yang dapat memberikan kegembiraan dan informasi kepada siapa saja tanpa memandang usia di seluruh dunia. Komik akan lebih tepat jika diterapkan pada anak dengan tahap operasi konkret (umur 7-11 tahun) atau pada usia SD dan SMP awal, di mana pada usia-usia ini anak lebih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan permaianan dan gambar.

Menurut Jean piaget (2001 :87) tahap operasi konkret ini dicirikan dengan pemikiran anak yang sudah berdasarkan logika tertentu dengan sifat reversibilitas dan kekekalan. Pemikiran anak dalam banyak hal sudah lebih teratur dan terarah, karena sudah dapat berpikir serasi. Meskipun demikian, pemikiran logis dengan segala unsurnya masih terbatas diterapkan pada benda-benda yang konkret. Pemikiran itu belum diterapkan pada kalimat verbal, hipotesis, dan abstrak. Maka anak pada tahap ini masih kesulitan yang mempunyai segi dan varibel terlalu banyak. Itulah sebabnya, anak pada tahap ini lebih menyukai hal yang berhubungan dengan permainan.

Baca juga:   Mengembangkan Nilai-Nilai Nasionalisme melalui Role Play

Berdasarkan uraian permasalahan di atas historical comic dapat digunakan untuk mengatasi atau meminimalkan masalah-masalah yang selama ini melingkupi kondisi pembelajaran sejarah di sekolah, terutama kelas VII SMP Negeri 1 Kesesi. Historical comic diharapkan mampu membuat siswa lebih memahami materi tentang perkembangan kehidupan pada masa pra-aksara meski dalam waktu yang cukup singkat. Selain itu, minat baca para siswa-siswi pun akan meningkat, karena komik merupakan bentuk bacaan yang ringan. Hal ini akan mempengaruhi minat siswa terhadap mata pelajaran IPS materi sejarah. Dengan kata lain, ketika mengaplikasikan materi sejarah dalam sebuah komik, akan ada dua manfaat yang didapat para pembaca dalam hal ini siswa SMP kelas VII. Pertama, siswa mendapatkan pengetahuan mengenai materi peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masa bercocok tanam dengan cara yang lebih menarik. Kedua, minat siswa SMP kelas VII terhadap pelajaran IPS materi sejarah akan lebih meningkat. (ti2/aro)

Guru SMP Negeri 1 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya