Peran Sejarah dalam Penanaman Karakter Peduli Lingkungan pada Masa Pandemi

Oleh : Siti Haniah, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah mengubah segala tatanan kehidupan, tak terkecuali aktivitas pembelajaran di satuan pendidikan. Guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran online dan siswa beradaptasi belajar secara mandiri. Orang tua harus menyediakan android dan biaya internet. Disamping itu, melakukan pengawasan terhadap proses pembelajaran putra-putrinya karena pelaksanaan pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing.

Salah satu ajaran yang terkenal dari sang Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara adalah : Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah. Maka kita dapat mengambil dua pelajaran dari ajaran tersebut. Pertama, setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Kedua, setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi anggota keluarga, khususnya anak-anak, untuk memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan.

Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter peserta didik. Pembentukan karakter siswa di masa belajar di rumah harus tetap dikawal dan diawasi oleh guru.

Menurut Muchlas Samani dan Hariyanto (2013:237) karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain. Serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembentuk karakter siswa adalah sikap sosial antara lain sikap atau karakter peduli.

Baca juga:   Mendalami Sandhangan Swara melalui TGT

Sikap atau karakter peduli yang ingin ditanamkan pada siswa SMA Negeri 1 Kota Mungkid melalui pembelajaran sejarah Indonesia kelas XII KD 3.3 Menganalisis perkembangan kehidupan politik dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa orde baru. Pada KD ini terdapat materi tentang revolusi hijau yang dapat digunakan untuk menanamkan karakter peduli lingkungan.

Menurut Wahyuni (2016), peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Hal ini sejalan dengan pencanangan SMA Negeri 1 Kota Mungkid pada 2020 sebagai Sekolah Adiwiyata. Program Adiwiyata adalah salah satu program kerja berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mewujudkan pengembangan pendidikan lingkungan hidup. Diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah pertama, guru mempersiapkan dengan menyusun perangkat pembelajaran dengan memasukkan karakter peduli lingkungan yang disesuaikan dengan masa pandemi. Kedua, guru menyampaikan tugas melalui Google Classroom, siswa melaksanakan kegiatan penanaman pohon di lingkungan tempat tinggal. Dengan ketentuan pohon yang ditanam dapat bermanfaat untuk masa mendatang.

Baca juga:   Problem Solving Atasi Kesulitan Belajar Anak pada Masa Pandemi Covid-19

Pohon yang dimaksud antara lain lidah mertua, puring atau tanaman buah-buahan yang tahan hidup lama. Ketiga, siswa melakukan pengamatan mulai dari penanaman sampai batas waktu pelaporan kurang lebih 4 bulan. Keempat, siswa membuat laporan penanaman pohon dari awal sampai akhir disertai bukti fisik berupa foto kegiatan. Laporan ini menjadi penilaian sikap dan keterampilan.

Dengan kegiatan ini ternyata siswa yang tadinya kurang peduli terhadap lingkungan menjadi sadar pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan siswa dalam merawat dan memelihara tanaman sampai pembuatan laporan sehingga nilai karakter dan keterampilannya menjadi baik.

Apalagi dalam kegiatan ini juga adanya keharusan melibatkan orang tua. Sehingga orang tua di rumah dapat mengajak putra-putrinya untuk melanjutkan kegiatan tersebut di lingkungan rumah masing-masing. (dm2/lis)

Guru Sejarah SMA Negeri 1 Kota Mungkid

Author

Populer

Lainnya