Pembelajaran Gerak Overhead Backhand Bulutangkis dengan PBL

Oleh : Slamet Sunardo S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, DALAM Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI nomor 22 tahun 2016 dijelaskan bahwa ”proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu, setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.”

Sasaran pembelajaran Gerak Spesifik Overhead Backhand dalam permainan bulutangkis mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”.
Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), perlu diterapkan dalam pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem based learning/PBL).

Langkah-langkah dalam pembelajaran gerak spesifik overhead backhand dalam permainan bulutangkis menggunakan model PBL, pertama, pendahuluan. Pada tahap ini, (tahap 1 yaitu mengorientasikan peserta didik pada masalah). Misalnya teknik overhead pada permainan bulutangkis backhand, merupakan teknik yang tidak mudah dilakukan. Teknik ini berhubungan dengan posisi pegangan raket. Kadang gerak langkah, posisi badan saat memukul, sampai pergerakan badan yang tidak tepat. Pada kasus ini, peserta didik diharapkan mampu melakukan teknik overhead backhand dengan benar. Caranya, 1) peserta didik mencermati (mengamati) dan mengeksplorasi masalah tersebut, misalnya dengan menduga kesalahan pada peganagan raket, saat perkenaan shuttle cock dan lain-lain. 2) Dengan bimbingan guru, peserta didik mengeksplorasi strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menggali sumber-sumber belajar yang sesuai dan mempraktikkannya. 3) Guru menekankan bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara-cara yang tepat. 4) Guru menginformasikan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk dapat melakukan overhead backhand.
Kedua, kegiatan inti. Meliputi, 1) guru mengorganisasi peserta didik untuk belajar dalam bentuk diskusi kelompok kecil (tahap 2, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar). 2) Dengan bimbingan guru, peserta didik SMPN 4 Sragi, secara berkelompok melakukan penyelidikan untuk menemukan teknik overhead backhand dalam permainan bulu tangkis. 3) Masing-masing kelompok atau salah satu kelompok terpilih mengomunikasikan hasil penyelidikan dan hasil diskusi (Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Kelompok lain memberikan saran dan tanggapan. 4) Guru membimbing diskusi kelas untuk mengklarifikasi pemahaman siswa-siswi SMPN 4 Sragi mengenai teknik overhead backhand dalam permainan bulu tangkis. 5) Peserta didik mengeksplor kembali mengenai teknik overhead backhand.

Baca juga:   Google Form Mempermudah Pembelajaran Pengolahan pada Mapel Prakarya

Ketiga, kegiatan penutup. Meliputi, 1) Dengan bimbingan guru, peserta didik membuat simpulan dan merangkum kegiatan pembelajaran. 2) Guru membimbing peserta didik untuk mengevaluasi proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. 3) Guru juga membimbing peserta didik untuk merefleksi seluruh akttivitas pembelajaran yang dilakukan. Refleksi dapat dikaitkan, difokuskan pada perilaku ilmiah yang dapat terbentuk pada diri peserta didik melalui akktivitas pembelajaran. Perilaku ilmiah tersebut seperti memiliki keingintahuan, objektif, jujur, teliti, cermat, tekun, hati-hati, bertanggung jawab, terbuka, kritis, kreatif, dan inovatif. Penilaian pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). (ti2/ida)

Guru PJOK SMPN 4 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya