Asyik Menulis Narasi dengan Buku Harian

Oleh: Windarti, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Budaya membaca, menulis dan berhitung selanjutnya disebut literasi.

Tiga kemampuan siswa tersebut perlu mendapat perhatian lebih mengingat tuntutan dunia abad 21. Membaca sangat penting guna menyelaraskan informasi dan pengetahuan yang tersebar sangat banyak di media. Kemampuan menulis juga tidak kalah penting agar siswa mampu menyampaikan ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat tulisan agar tersampaikan dan berguna bagi kehidupannya dan orang lain.
Syafi’ei (1999:2) menyatakan kemampuan dan keterampilan baca tulis, khususnya keterampilan membaca harus dikuasai oleh para siswa sekolah dasar (SD). Karena kemampuan dan keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh program belajar siswa di sekolah dasar (SD) dan juga pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Keberhasilan belajar mereka dalam mengikuti program belajar mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca dan menulis mereka.

Walaupun kemampuan menulis tidak disukai banyak orang, pada hakikatnya kemampuan menulis sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari terutama sebagai alat komunikasi. Ada kecenderungan anak dalam menyusun kata atau kalimat belum sepenuhnya sempurna.

Baca juga:   Belajar Administasi Umum dengan Model Pembelajararan Artikulasi

Semisal saat menuliskan pesan di handphone. Tulisan mereka cenderung disingkat, ada juga yang menuliskan dengan struktur kalimat kurang pada tempatnya. Hal ini yang penulis alami di SD Negeri Bandongan 4 saat menerima tugas dari siswa ketika pandemi seperti sekarang ini. Penggunaan buku harian dapat menjadi sarana pengembangan kemampuan siswa dalam hal menulis. Buku harian dianggap dekat dengan aktivitas kehidupan siswa sehari-hari.

Pada awal penggunaan strategi ini diterapkan, masih banyak siswa yang hanya menuliskan beberapa kalimat saja. Alasannya karena karena siswa belum terbiasa mengungkapkan apa yang mereka alami melalui sebuah tulisan. Buku harian sebaiknya ditulis setiap hari. Hal ini dimaksudkan agar peristiwa atau kejadian yang telah dialami dapat ditulis secara runtut. Penulisan kejadian sesuai urutan waktu inilah yang perlu ditekankan oleh guru pada siswa agar mereka lebih mudah memahami jenis karangan narasi.

Jika masih ada siswa yang mengalami kesulitan menuliskan catatan di buku harian, hal yang bisa dilakukan guru antara lain memberikan beberapa pertanyaan pancingan untuk memunculkan ide siswa.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru antara lain: Jam berapa kamu bangun pagi ini? Hal pertama apa yang kamu lakukan setelah itu?

Baca juga:   Belajar Sejarah Indonesia Lebih Bermakna dengan Sosiodrama

Apa saja yang kamu alami sepanjang hari ini? Di mana kamu mengalami peristiwa tersebut? Senangkah kamu mengalami peristiwa tersebut? Mengapa? Pelajaran apa yang dapat kamu ambil setelah mengalami peristiwa tersebut? Jika lain kali kamu mengalami hal itu kembali, apa yang akan kamu lakukan? Langkah pembiasaan menulis buku harian pada siswa kelas VI SD Negeri Bandongan 4 terbukti berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan menulis narasi siswa. Indikator yang bisa dilihat adalah sekitar 90 persen siswa mampu menulis narasi secara runtut. (pm2/lis)

Guru Kelas SDN Bandongan 4, Kec. Bandongan, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya