Mudah Pahami Kisah Nabi Ilyasa AS dengan Metode Role Playing

Oleh : Sholehuddin,S.Pd.I

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individual, yang mengubah stimuli dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi. Kemudian, hasil belajar terpatri dalam bentuk ingatan jangka panjang.

Sedangkan pembelajaran mengesankan dan menyenangkan, jika metodenya tepat. Rasa gembira dalam belajar, menjadi kunci besar kesuksesan siswa dalam kelas pembelajaran.

Walaupun mewujudkannya banyak kendala, sebagaimana dialami penulis di kelas VI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN 01 Pakisputih, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Karena itu, penulis menerapkan pembelajaran mengesankan dengan metode Role Playing pada materi kisah Nabi Ilyasa AS. Metode ini dipercaya mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar.

Menurut Nurul Ramadhani Makarao (2009:121) menjelaskan bahwa Role Playing merupakan metode pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk bermain peran pada skenario tertentu. Peserta didik diberikan kartu peran (role card) untuk dipelajari kemudian dipraktikkan dalam suatu situasi permainan peran sesuai dengan skenario yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut Mulyono (2012) Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran yang diarahkan untuk mengreasi peristiwa sejarah, peristiwa aktual, atau kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.

Tujuan metode pembelajaran Role Playing yaitu memberikan pengalaman konkret dari apa yang telah dipelajari, mengilustrasikan prinsip-prinsip dari materi pembelajaran, menumbuhkan kepekaan terhadap masalah-masalah hubungan sosial, menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa, menyediakan sarana untuk mengekspresikan perasaan yang tersembunyi di balik keinginan.

Baca juga:   Menciptakan Budaya Kerja Industri di SMK

Materi pembelajaran kisah keteladanan Nabi Ilyasa AS memuat kompetensi dasar (KD) pada ranah pengetahuan mengetahui kisah keteladanan Nabi Ilyasa AS. Pada ranah keterampilan, menceritakan kisah keteladanan Nabi Ilyasa AS.

Indikator capaian belajarnya siswa mampu mengidentifikasi kisah keteladanan Nabi Ilyasa dan siswa mampu menceritakan/menjelaskan kisah Nabi Ilyasa. Tujuan pembelajaran materi ini, siswa dapat meneladani sikap hidup Nabi Ilyasa untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari–hari.

Langkah–langkah pelaksanaan model pembelajaran Role Playing pada materi kisah keteladanan Nabi Ilyasa sebagai berikut, pertama, guru melakukan apersepsi dan memotivasi siswa. Dalam memotivasi, guru memberikan cerita narasi yang bersifat memberikan semangat belajar dan menghangatkan suasana. Kedua, memilih peran dalam pembelajaran. Langkah ini, siswa dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter dalam kisah keteladanan Nabi Ilyasa. Ketiga, menyusun peran. Pada langkah ini, para pemeran menyusun garis besar adegan yang akan dimainkan. Keempat, menyiapkan pengamat. Sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua siswa turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Kelima, pemeran. Para siswa mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Pemeran bisa berhenti jika para siswa telah merasa cukup. Keenam, diskusi dan evaluasi. Setelah melakukan peran, analisis bermain peran tersebut. Para pemain diminta mengemukakan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan, begitu pula dengan peserta yang lain. Diskusi dimulai dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para siswa akan segera terpancing untuk diskusi. Terakhir, ketujuh, mengambil kesimpulan dan refleksi. Pada langkah ini, siswa saling mengemukakan pengalaman dalam bermain peran. Semua pengalaman siswa bisa diungkap atau muncul secara spontan. Guru menyimpulkan materi pembelajaran yang diperankan oleh siswa tersebut.

Baca juga:   Tingkatkan Belajar Fiqih dengan Penerapan Targhib dan Tarhib

Kelebihan menerapkan metode Role Playing, memberikan kesan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Selain itu, menjadi pengalaman yang menyenangkan memberi pengetahuan yang melekat dalam memori otak, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan antusias, membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. (ce2.2/ida)

Guru PAI SDN 01 Pakisputih, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya