Penguatan Karakter Siswa dengan Perbanyak Membaca Cerpen

Oleh : Tri Indartati S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu menurunnya karakter siswa di SMP Satu Atap Luragung, adalah menurunnya sopan santun terhadap guru di sekolah. Faktor inilah yang menjadi pedoman guru untuk menanamkan pendidikan karakter. Hal ini dapat diimplementasikan pada pelajaran bahasa Indonesia, khususnya kelas IX. Pelajaran bahasa Indonesia kelas IX semester I terdapat materi membaca cerpen. Materi inilah yang diharapkan mampu menguatkan karakter siswa dengan cara memperbanyak membaca cerpen.

Cerita pendek menurut Poe dalam Burhan (2012:10), diartikan sebagai bacaan singkat yang dapat dibaca dalam sekali duduk dalam waktu setengah jam sampai dua jam. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan dalam sebuah novel. Cerpen memiliki efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. Sebagai cerita fiksi, diharapkan cerpen mampu menjadi contoh bagi anak yang memang masih dalam tahap pencarian jati diri. Sebab cerita dalam cerpen menampilkan tokoh dengan karakter yang kemungkinan besar akan mempengaruhi kepribadian siswa.

Penulis sebagai guru mata bahasa Indonesia mencoba memberikan tugas pada siswa untuk membaca cerpen. Cerpen yang dibaca oleh siswa sumbernya beragam, ada meminjam di perpustakaan sekolah, ada pula yang mencari sendiri di internet. Setiap siswa setelah membaca cerpen harus menuliskan beberapa karakter atau watak tokoh. Contoh hasil dari siswa adalah karakter tokoh aku dalam cerpen yang berjudul Semua Berawal dari Mimpi, si aku bercita-cita menjadi seorang dokter yang tidak mau menerima upah atau imbalan dari pasien yang kurang mampu. Artinya dokter tersebut berkarakter suka menolong orang yang susah.

Baca juga:   Bahan Ajar Digital Berbasis Microsoft Sway Tingkatkan Literasi Sains Siswa SD

Watak tokoh yang ditulis oleh siswa tentunya watak tokoh protagonis. Karena watak tokoh protagonis inilah yang sekiranya mampu memberikan contoh tauladan yang baik terhadap siswa. Setiap watak yang ditulis oleh siswa harus bisa dipertanggungjawabkan oleh siswa sendiri, dengan cara memberikan pertanyaan apakah watak tokoh tersebut dapat memberikan tauladan yang baik bagi siswa. Ternyata dari pertanyaan ini, siswa mampu menjawab dan mengetahui bahwa karakter atau watak tokoh yang ia tulis adalah baik, mampu memberikan suri tauladan bagi dirinya, tidak merugikan orang lain, sopan terhadap orang lain, hormat menghormati terhadap sesamanya maupun terhadap orang yang lebih tua, dan sebagainya. Namun, dalam kenyataannya siswa SMP Satu Atap Luragung bisa dikatakan jauh dari karakter atau watak yang mereka tulis.

Dari pengamatan dan pengalaman ini, penulis mencoba mengubah karakter peserta didik melalui kegiatan penguatan karakter siswa dengan memperbanyak membaca cerpen dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Watak tokoh protagonis yang telah ditulis siswa harus dipraktikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, ataupun sekolah. Ketika mereka mempraktikkan karakter baik tersebut, harus ada bukti, seperti foto atau tanda tangan orang lain, bisa teman yang melihat bahwa siswa tersebut telah menirukan karakter tokoh yang telah ia tulis di lingkungan sekolah. Hal ini memang terkesan agak berlebihan, tetapi apa salahnya dilakukan demi perubahan ke arah yang lebih baik dan mulia. Hasilnya, setelah beberapa bulan mengimplementasikan karakter tokoh protagonis dalam kehidupan nyata, banyak perubahan sikap pada peserta didik. Meski tidak seratus persen perubahan tersebut terjadi. (ti2/ida)

Baca juga:   Power Point, Mudahkan Belajar Bahasa Jerman

Guru Bahasa Indonesia SMP Satu Atap Luragung, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya