Metode BKK Atasi Masalah Mapel Produktif

Oleh : Dyaning Liestyarini, SP

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan sangat berpengaruh bagi semua sektor. Begitu juga dengan pendidikan. Pembelajaran yang semula dilakukan dengan tatap muka diganti dengan daring. Keadaan ini juga dialami SMK Negeri 1 Ngablak yang berada di daerah pinggiran walaupun terletak di jalur lintas provinsi. Kondisi geografis di daerah gunung dan lembah, keluarga yang mayoritas petani, keinginan belajar yang masih berada pada level rata-rata menjadikan kendala utama dalam melaksanakan pembelajaran daring di masa pandemi.

Berbagai persoalan muncul manakala dalam mata pelajaran produktif menuntut siswa berkompeten dalam bidangnya. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk membuat model pembelajaran yang bisa mengakomodasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Metode awal pembelajaran masa pandemi dalam pembelajaran mata pelajaran Agribisnis Tanaman Pangan penulis menggunakan WhatsApp Grup/WAG pada tiap kelas yang diampu. Aplikasi WAG sudah biasa dipakai siswa dalam aktivitas mereka sehari-hari.

Guru mengirimkan materi atau tugas melalui WAG sesuai jadwal yang sudah disiapkan oleh bagian kurikulum. Dalam penyampaian materi atau tugas tersebut dituliskan juga perintah agar siswa mengirimkan jawaban melalui WA pribadi guru mata pelajaran untuk menjaga kerahasiaan jawaban dari siswa yang lain.

Baca juga:   Perdalam Materi Saklar Otomatik dengan Probing-Prompting

Di awal penggunaan metode ini hampir sebagian besar siswa mengumpukan jawaban walaupun tidak tepat waktu. Namun permasalahan muncul ketika siswa harus mengirimkan video pelaksanaan kompetensi dasar pengolahan/persiapan lahan tanaman pangan.

Mereka tidak punya lahan, sudah bosan belajar sendiri di rumah karena kadang kurang paham dengan materi yang diberikan. Kuota tidak mendukung untuk pengiriman video. Durasi yang lama untuk video tidak memungkinkan dikirim karena kapasitas HP yang kurang memadai.

Berbagai keluhan siswa itu membuat guru berpikir mengubah metode pembelajaran yang bisa menampung keluhan siswa. Tidak melanggar aturan dari pemerintah dan tidak melanggar peraturan protokol kesehatan. Akhirnya dipilih metode pembelajaran dengan metode Blok Kelompok Kecil (BKK) untuk praktik mapel Agribisnis Tanaman Pangan.

Manurut Mulyasa (2007: 92) dan Adikara (2008: 1) model mengajar kelompok kecil merupakan bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik. Metode ini menggunakan aturan, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi kelompok kecil dengan tiap kelompok beranggotakan 3-4 orang.

Baca juga:   Belajar Volume Tabung dengan Strategi Inkuiri Multimedia

Siswa diminta datang ke sekolah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan di bawah bimbingan guru. Setiap siswa diberi 1 bedeng pada petak lahan luasan tertentu dengan melakukan kegiatan sesuai kompetensi yang harus ditempuh sampai selesai.

Setiap kelompok kecil hanya akan berada di sekolah untuk pelaksanaan kompetensi tidak lebih dari 2 jam. Jika belum selesai dikerjakan dalam waktu tersebut akan dikerjakan kembali pada jadwal kedatangan berikutnya. Hal ini dilakukan untuk kelompok berikutnya sampai semua siswa kelas tersebut mendapatkan giliran datang ke sekolah.

Pemilihan metode BKK membuat siswa senang bisa ke sekolah setelah sekian waktu belajar sendiri di rumah. Guru mata pelajaran juga bisa menyampaikan kekurangan tugas yang harus dikerjakan siswa pada setiap pertemuan yang belum lengkap. Pengambilan penilaian praktik secara langsung dan bisa berdiskusi dengan siswa masalah yang dihadapi selama belajar dari rumah.

Guru secara langsung bisa memantau karakter siswa dan memberikan pemahaman untuk tetap belajar. Semangat menjaga kesehatan selama masa pandemi, menjaga iman dan menerapkan protokol kesehatan. (pm1/lis)

Guru Produktif Pertanian (Agribisnis Tanaman Pangan) SMKN 1 Ngablak, Kab. Magelang

Author

Populer

Lainnya