Tumbuhkan Kompetensi Diri dengan Belajar melalui Metamorfose

Oleh : Roch Endah Herminingtyas, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Seorang pelajar selalu memiliki kiat agar berhasil di setiap usaha. Mereka memiliki kemampuan/kecakapan yang menghantarkan ke gerbang kesuksesan. Kesuksesan diri tumbuh karena ada kompetensi. Namun tidak semua kompetensi diri dapat dimaksimalkan hingga memperoleh prestasi. Kendala selalu ada di setiap usaha. Untuk dapat terus meningkatkan kemampuan diri serta memahami pelajaran dengan baik perlu cara-cara tertentu, yang bisa dilakukan. Salah satu cara tersebut adalah belajar melalui metamorfose.

Pengertian awal “methamorphoo” merujuk pada perubahan sikap dan mental seseorang sesuai dengan kesinambungan perkembangannya secara fisik dan intelek ke arah pembaharuan hidup setiap hari guna mencapai eksistensi yang sempurna menurut naturnya sebagai manusia. Prinsipnya perubahan sikap dan mental seseorang berbanding lurus dengan waktu pengalaman inteleknya (Alfrey, 2007). Menurut Kasandra dalam bukunya bertajuk Metamorfosis yang diluncurkan Rabu (17/9) di Essence Dharmawangsa, Jakarta. Mengatakan “Ketika kita bisa menerima ketidaksempurnaan kita, di situlah letak kebahagiaan kita.” Perubahan harus dimulai dari kemampuan dan kerelaan untuk mengetahui dan mengakui kelemahan dan kesalahan kita. Lalu belajar mengambil keputusan untuk keluar dari masalah, mencoba realistis dengan pikiran dan perasaan, mengembangkan kemampuan, menata kembali kehidupan, menganalisis tindakan, dan akhirnya melaksanakan keputusan kita.

Baca juga:   Perlunya Penekanan Pendidikan Karakter di Awal Pembelajaran Tatap Muka

Metamorfose adalah suatu perubahan wujud dari makhluk hidup. Pada prosesnya terjadi cukup panjang dan lama. Akan tetapi sederhana. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap usaha harus dilakukan dengan sabar dan tahan uji. Jangan berfikir dan bertindak secara instan. Segala tugas/usaha yang diperoleh secara instan hasilnya juga berakhir instan.

Berawal dari seekor ulat. Binatang ini identik dengan sesuatu yang menjijikkan, kita merasa geli, gatal melihatnya. Pelajaran dari seekor ulat bahwa kita dihadapkan dengan ketidakmampuan, rasa malas, tidak ada motivasi. Pada tahapan kepompong, mengajarkan bahwa dalam kesunyian kita mencoba merenung makna hidup ini.

Bermuhasabah diri, kilas balik terhadap peristiwa yang sudah kita lalui. Keberhasilan memang harus diperjuangkan. Kita memang butuh orang lain layaknya orang tua kita, tapi di saat kita sudah dewasa dan siap untuk menetas (mencari jati diri baru) maka ketergantungan itu hanya membuat kita semakin manja akan kehidupan.

Tuhan senantiasa tidak membiarkan kita hidup dalam hambatan. Beranikan diri untuk berubah. Bulatkan tekad untuk menjadi diri yang sesungguhnya. Niatkan dan kuatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesuksesan memang tidak datang begitu saja, kesuksesan harus diperjuangkan. Sesuai dengan QS 13 – 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Baca juga:   Metode “Tuba Nyapa” Meningkatkan Pemahaman Materi Dua Kalimah Syahadat

Metamorfose telah menginspirasi banyak orang, bahwa perubahan bentuk merupakan pelajaran dalam kehidupan. Kupu-kupu membantu penyerbukan tanaman. Pelajaran untuk kita, bahwa sebagai manusia hendaknya menjadi manfaat bagi manusia sekitarnya (HR.Ahmad).

Mulai dari hal kecil kita dapat berkontribusi di lingkungan sekitar kita, jauh lebih baik berpikir sesuatu yang sederhana dan kecil namun kita mampu untuk merealisasikannya. Hakikatnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain manfaatnya akan kembali kepada kita. Dengan kata lain membantu orang yang kurang beruntung kita telah berpartisipasi dalam upaya keberhasilan seseorang. Ketika semakin banyak orang yang berhasil maka hal itu berdampak besar pada kehidupan. Bermetamorfose lah menjadi pribadi yang sukses, menarik dan bisa diteladani. (lbs2/lis)

Guru SDN Tlogosari Kulon 02 Semarang

Author

Populer

Lainnya