Mind Mapping Karakteristik Aktifitas Negara di Wilayah ASEAN

Oleh : Sumarsih, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Proses pembelajran yang ditampilkan guru memiliki berbagai variasi dan model yang berbeda. Beberapa guru menggunakan model pembelajaran yang tepat, akan tetapi tidak sedikit pula guru yang menggunakan model kurang sesuai. Model pembelajaran yang kurang sesuai dan yang bersifat monoton akan membuat siswa menjadi penat dan bosan. Akibatnya kualitas proses pembelajaran yang rendah dan hasil belajar siswa yang tidak mencapai kriteria minimal. Pemikiran guru hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi standar membuat tidak ada keinginan untuk berkembang.

Menjelang era industri 4.0 ini guru seharusnya terpacu untuk dapat berkreasi dan berinovasi dalam segala langkah yang terkait dengan pendidikan. Perubahan guru dapat dimulai dengan membuat perencanaan pembelajaran yang singkat, padat, jelas dan mengena. Kemudian guru meningkatkan proses pembelajaran agar lebih menggairahkan dan menarik. Evaluasi pembelajaran yang unik dan sederhana. Model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk pro aktif adalah Cooperative Learning atau Pembelajaran Kooperatif.

Slavin dalam Isjoni (2009: 15) mendefinisikan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan Anita Lie (2007: 29) mengungkapkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada lima unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang 10 membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dengan benar akan menunjukkan pendidik mengelola kelas lebih efektif. Salah satu model pembelajaran yang mengedepankan prinsip pembelajaran kooperatif adalah Mind Mapping.

Baca juga:   Supervisi Klinis Pengawas Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Guru

Tony Buzan (2009: 4) sebagai pencetus model ini menjelaskan bahwa Mind Mapping adalah suatu cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran. Caroline Edward (2009: 64), ikut menjabarkan bahwa Mind Mapping adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukan, menyimpan dan mengeluarkan data dari atau ke otak. Sistem ini bekerja sesuai cara kerja alami otak kita, sehingga dapat mengoptimalkan seluruh potensi dan kapasitas otak manusia.

Penulis sebagai guru SD Negeri 01 Mejasem Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan merasakan model pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan pada pembelajaran kelas enam semester dua tentang karakteristik geografis dan kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik di wilayah ASEAN. Tahapan pembelajarannya yaitu guru mengutarakan kompetensi dasar yang harus diraih oleh para siswa, tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan digunakan. Tahap berikutnya guru membuat grup kecil dengan total anggota dua sampai tiga siswa secara heterogen. Kemudian setiap grup diminta untuk menuliskan ide jawaban pada saat diskusi. Hasil diskusi akan dipresentasikan oleh tiap grup dengan cara diundi. Saat presentasi siswa, guru akan menuliskan seluruh jawaban berdasarkan kriteria yang telah disusun. Pada tahap terakhir, guru dan siswa secara bersama membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dicatat oleh guru. Guru memberikan penguatan materi yang telah dibahas dan memberikan evaluasi sebagai kontrol terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Penulis sebagai guru merasakan peningkatan yang sangat signifikan pada siswa meliputi minat, motivasi dan hasil belajar. (gb1/ton)

Baca juga:   Senangnya Belajar PPKn Menggunakan Flanelgraf

Guru SD Negeri 01 Mejasem Kec. Siwalan Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya