Demonstrative Model Mengenal Kegiatan Beribadah

Oleh : Surati, S.Pd.AUD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Anak usia dini merupakan salah satu fase perkembangan manusia setelah melewati jenjang balita. Pada fase ini, anak akan memiliki daya tangkap dan daya serap tinggi terhadap segala informasi yang didapatkannya. Informasi-informasi yang diserapnya akan menjadi pengetahuan yang baru untuk dirinya. Oleh karena tingginya daya serap yang dimiliki anak usia dini, peletakan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosio-emosional, konsep diri, seni, dan moral termasuk nilai-nilai agama (praktik beribadah) dalam diri anak sangat tepat. Pada anak usia dini, pengembangan aspek moral-agama mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan jiwa keagamaan pada diri anak. Nilai-nilai keagamaan yang harus ditanamkan meliputi tentang konsep Tuhan, ibadah, dan nilai-nilai moral yang ada di lingkungan setempat.

Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut anak belum mempunyai konsep-konsep dasar yang dapat digunakan untuk menyaring apakah anak setuju atau tidak setuju yang masuk pada dirinya.
Susilaningsih (2007: 15) mengungkapkan nilai-nilai agama yang ditanamkan akan menjadi fondasi pertama dari konsep diri anak dan dalam kehidupan selanjutnya. Fondasi nilai-nilai agama tersebut terbentuk menjadi kata hati (conscience) sebagai dasar dan referensi anak untuk menilai dan menyaring terhadap nilai-nilai yang masuk pada dirinya.

Baca juga:   Pantau Disiplin Siswa dengan Google Form di Era Pandemi

Guru sebagai civitas dunia pendidikan memiliki tanggung jawab memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam yang bertujuan menumbuhkembangkan pengetahuan, penghayatan, pengalaman peserta didik tentang agama Islam. Anak didik diharapkan menjadi muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada penyampaian materi keagamaan, penggunaan model pembelajaran sangat dibutuhkan, karena akan mempermudah proses pembelajaran dan mempermudah anak dalam memahami materi pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran anak usia dini adalah demonstrative model.

Syaiful Bahri (2008: 210), menjabarkan demonstrative model adalah model pembelajaran yang menampilkan proses suatu benda maupun peristiwa yang dicontohkan oleh guru atau pengajar sehingga peserta didik dapat memahami dengan lebih mudah. Model ini dipakai untuk mempertunjukkan sebuah proses atau bagaimana suatu benda bisa bekerja yang berkaitan dengan bahan pembelajaran.

Pendapat lain, Muhibbin Syah (2005: 208) menambahkan pengertian model demonstrasi adalah model mengajar dengan memperagakan kejadian, aturan, atau urutan proses, dengan menggunakan media yang relevan dengan materi yang dibahas. Penulis sebagai guru TK Pertiwi Panti Srini Botekan, Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang menerapkan model ini pada materi pembelajaran tentang Mengenal kegiatan beribadah sehari-hari.

Baca juga:   Belajar IPA dengan Dear Tuan Santak Lebih Asyik

Langkah-langkahnya pemanfaatan model pembelajaran demonstrasi adalah guru menyiapkan perencanaan pembelajaran. Kemudian pada saat awal pembelajaran, guru menyampaikan informasi terkait kompetensi dasar, tujuan pembelajaran dan model pembelajaran yang akan digunakan.

Guru menyajikan gambaran umum materi bahan ajar. Selanjutnya, guru membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok secara sederhana karena jenjang pendidikan anak usia dini. Guru menunjuk murid atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya.

Pada akhir pembelajaran guru memberikan penyimpulan berupa penguatan materi dan evaluasi ringan. Guru memberikan apresiasi kepada anak didik yang dapat mempraktikkannya dengan baik berupa pemberian penghargaan yang telah disiapkan sebelumnya. Pembelajaran ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk aplikasi dari pelaksanaan kegiatan beribadah. (gb1/lis)

Guru TK Pertiwi Panti Srini Botekan, Kec. Ulujami, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya