Guru Menjadi Model bagi Anak

Oleh : Helitriwinarni, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Perhatikan anak-anak kita, ia selalu memiliki kecenderungan untuk meniru. Tidak heran ketika ada tayangan TV yang begitu menarik, dalam waktu singkat sudah bisa ditiru. Anak-anak yang baru berusia dua tahun sudah minta baju, tas sesuai dengan apa yang dilihat di TV. Mereka ingin meniru gaya jagoan yang disukai.

Itulah memang dunia anak, dunia bermain dan dunia meniru. Ketika melihat sesuatu yang ditiru oleh anak itu positif, maka perlu terus dipompa sehingga apa yang menjadi keinginan anak bisa tercapai. Misalnya saja si anak ingin menjadi dai cilik sebagaimana yang diidolakan di TV. Mungkin saja anak ingin menjadi penyanyi cilik sebagaimana Debo yang menjadi penyanyi melalui kontes idola cilik. Namun ketika anak sudah mulai berperilaku dengan menyontoh yang negatif, maka segeralah untuk diperbaiki.

Sekolah sebenarnya bisa dijadikan satu kekuatan untuk melakukan perbaikan. Sekolah seharusnya bisa berfungsi sebagi filter pembentuk perilaku positif bagi anak. Mungkin pada saat masa tanam terjadi konsep yang salah pada orang tua. Maka sekolah bisa untuk mengubahnya.

Fungsi sekolah bukan hanya untuk transfer knowladge, tetapi juga sebagai agen perubahan. Untuk menjadi agen perubahan, dibutuhkan guru-guru yang berkualitas, guru-guru yang profesional dan mempunyai visi serta misi ke depan dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Baca juga:   Belajar Fisika Jadi Asyik dengan Focus Group Discussion dan Media Kartu Apik

Guru sebagaimana orang tua sudah seharusnya bisa menjadi model bagi anak-anak. Perilaku keseharian bisa menjadi teladan bagi anak-anak didik. Guru bisa menjadi figur sentral dalam pembentukan kepribadian anak.

Jujur, saat ini banyak anak kehilangan figur sentral. Banyak anak yang lebih cenderung untuk menjadikan tontonan sebagai model. Bisa saja hal ini terjadi karena orang tua yang mestinya bisa sebagai model jarang ditemui karena sibuk. Sehingga anak-anak mencari figur lainnya. Misalnya saja model itu bisa ditemukan pada diri pembantu, pada tokoh sinetron yang dikagumi, atau mungkin sahabatnya yang dijadikan figur.

Guru dituntut untuk menjadi model. Berikan yang terbaik buat anak-anak kita. Banyak anak-anak yang sukses karena melihat figur gurunya yang bersahaja, tegas, dan berwibawa.

Dalam proses transfering values and knowladge guru senantiasa mengajar dan berkomunikasi. Guru tidak bisa meninggalkan nilai-nilai dalam mendidik putra-putrinya. Sekali lagi, sebagai agen perubahan, guru bukan hanya transfer knowledge, tetapi transfer nilai-nilai. Hal-hal yang tidak baik segera diganti dengan nilai-nilai yang baik.

Baca juga:   Membangun Generasi Tahu Diri Lewat Kegiatan Orientasi

Berbagai teori telah menyebutkan bahwa apa yang sudah diterima anak di masa tanam akan masuk dalam memori jangka panjang atau tersimpan pada alam bawah sadar. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa, tidak boleh hawatir untuk melakukan perubahan. Masa model bisa untuk memperbaiki kondisi yang pernah terjadi di masa tanam.

Kita bisa melihat cara kerja komputer. Ketika masih baru dan mulai diisi kemudian disimpan, maka itulah yang akan tersimpan terus. Namun suatu saat apa yang tersimpan itu harus kita delet untuk diganti dengan yang lebih baik, maka yang sudah didelet itu akan hilang. Berbeda jika ada file baru yang masuh dan tersimpan, maka sejauh mana file yang tersimpan itu terbuka kembali.

Di sinilah peran guru sebagai agen perubahan. Guru berperan sebagi model yang bisa diteladani oleh anak-anak. Banyak model yang dilihat oleh anak-anak di luar sekolah. Namun di sekolahlah yang diharapkan model itu bisa ditemukan oleh anak. Sekolah setidaknya mampu menjadi filter terhadap pengaruh yang terjadi di luar rumah. (ag1/ton)

Guru TK Pembina Ampelgading Kec. Pemalang Kab. Pemalang

Author

Populer

Lainnya