Memahami dan Meneladani Kepahlawanan Sang Gathutkaca melalui Bermain Peran

Oleh : Priyasa Hevi Etikawan, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dunia pewayangan untuk generasi muda di zaman sekarang agaknya asing dan kurang diminati. Generasi muda sekarang lebih familiar dengan cerita-cerita drama yang berasal dari luar negeri. Padahal banyak nilai-nilai luhur yang bisa diteladani dari cerita-cerita wayang nusantara. Sebut saja misalnya dalam epos Mahabharata menceritakan tentang pertempuran antara Pandhawa melawan Kurawa. Di mana sejatinya sebagai simbol kebaikan melawan kejahatan.

Di dalam mata pelajaran Bahasa Jawa SD kelas VI terdapat materi tentang cerita pewayangan yaitu pada kompetensi dasar 3.2 memahami teks cerita wayang “Gathutkaca Gugur” serta kompetensi dasar 4.2 menanggapi nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita wayang “Gathutkaca Gugur”. Penulis sekaligus guru kelas VI SDN 02 Pakembaran Kabupaten Pemalang menerapkan metode bermain peran (role playing) untuk menyampaikan materi tersebut. Oleh karena penulis menganggap metode bermain peran sangat cocok diterapkan untuk pembelajaran tentang cerita-cerita wayang.

Menurut Corsini (dalam Tatiek 2001:99) metode bermain peran adalah suatu alat belajar yang mengembangkan keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antar manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel dengan yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sedangkan menurut Yamin (2007) bermain peran adalah metode yang meletakkan Interalisasi antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Siswa melakukan peran masing-masing sesuai dengan pokok yang ia yakini. Mereka berinteraksi dengan sesama peran secara terbuka. Metode ini dapat dipergunakan dalam mempraktikan pelajaran yang baru.

Baca juga:   Memahami Konsep Keseimbangan Harga Lebih Asyik dengan Role Playing

Langkah-langkah pembelajaran yang penulis terapkan sebagai berikut : Pertama, pada hari sebelumnya guru telah membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5 orang dan menyampaikan gambaran umum tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan esok hari. Kedua, keesokan harinya siswa sudah membawa alat-alat properti yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing. Ketiga, guru menyampaikan kembali kompetensi dasar, tujuan pembelajaran serta metode yang akan digunakan sebagai penegasan kepada siswa. Keempat, siswa membaca kembali naskah cerita wayang “Gathutkaca Gugur” yang sudah diberikan di hari sebelumnya agar siswa lebih memahami dan menghayati isi cerita tersebut sebelum tampil memerankannya di depan kelas. Kelima, guru meminta setiap kelompok tampil dengan memakai properti sesuai peran masing-masing, saat siswa bermain peran di depan kelas guru memperhatikan serta mengamati penampilan masing-masing kelompok. Keenam, setelah semua kelompok tampil, guru bersama siswa menyimpulkan isi, makna dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita wayang “Gathutkaca Gugur”. Kegiatan diakhiri dengan mengadakan evaluasi.

Cerita pewayangan mungkin terkesan kuno bagi siswa di jaman sekarang. Tapi dengan metode bermain peran (role playing) pembelajaran tentang memahami isi serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita wayang “Gathutkaca Gugur” menjadi lebih menarik dan menantang bagi siswa. Mereka menjiwai peran masing-masing tokoh dalam cerita tersebut. Yang pada akhirnya memahami intisari dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Guru memang seorang sutradara di dalam pembelajaran. Seorang guru harus berpikir cerdas, kreatif, serta inovatif meramu pembelajaran menjadi sesuatu yang menarik dan tidak membosankan. Sehingga berujung pada tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran yang diharapkan. (pg3/ton)

Baca juga:   Pentingnya Media sebagai Alat Pendukung Pembelajaran

Guru SDN 02 Pakembaran Kec. Warungpring Kab. Pemalang

Author

Populer

Lainnya