Metode Layanan Bimbingan dan Konseling Blended Learning di Era Industri 4.0

Oleh : Nurul Hidayati, S.Psi, M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Revolusi industri 4.0, yang merupakan pergerakan industri nasional indonesia menuju sepuluh besar peringkat negara ekonomi terbesar di dunia, ditandai dengan teknologi yang serba otomatisasi dan digitalisasi. Sekolah sebagai salah satu lembaga yang menghasilkan sumber daya manusia (SDM), harus dapat menjawab kebutuhan dalam menghadapi era 4.0. Sekolah harus mengambil inisiatif dalam melakukan revitalisasi sebagai bentuk nyata dalam menghadapi dan merespons perubahan- perubahan yang dimaksud. Revitalisasi yang diharapkan yaitu program dan kurikulum yang diberlakukan di sekolah menjawab tantangan dan kebutuhan pada era 4.0.

Bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari sistem pendidikan di sekolah dalam upaya membantu peserta didik agar dapat memainkan peran dan mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan tujuan, keterampilan dan potensi yang dimiliki nya. Sehingga menjadikannya termasuk kategori sumber daya manusia yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan di era Revolusi Industri 4.0. Inovasi pelaksanaan bimbingan dan konseling “Blended learning” yang mengikuti era 4.0 dengan serba otomatisasi dan digitalisasi dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi era tersebut. John Merrow (2012) menyatakan “blended learning is some mix of traditional classroom interaction (which in it self variesconsiderably) and instraction mediated by technology”. Dengan kata lain, pembelajaran campuran atau Blended learning merupakan perpaduan pembelajaran kelas tradisional dengan pembelajaran berbasis teknologi (modern).

Baca juga:   Belajar Pemrograman Berorientasi Objek dengan Aplikasi Quizizi

Metode layanan Bimbingan dan Konseling “Blended learning” merupakan konfigurasi Inovasi dalam Bimbingan Konseling yang mempunyai keterbatasan waktu dalam layanan tatap muka. Pengembangan metode layanan Bimbingan dan Konseling dilakukan dalam beberapa tahap antara lain (1) Analisis identifikasi meliputi, daftar kebutuhan siswa, sumber dan media serta mempertimbangkan karakteristik siswa, (2) Rancangan yang terdapat tujuan yang hendak dicapai dalam layanan yang diberikan guru BK melalui strategi dengan menggunakan sumber dan bahan layanan yang sesuai, (3) Serta melakukan evaluasi dan analisis serta tundak lanjut dari layanan tersebut.

Pelaksanaan metode layanan Bimbingan dan Konseling secara blended learning lebih banyak menggunakan sumber/bahan layanan dan media secara online dan offline. Blended learning cukup mudah dilakukan. Interaksi antara guru BK sebagai konselor dengan peserta didik sebagai klien tidak hanya dilakukan melalui layanan tatap muka tetapi juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui media sosial di intenet. Di antaranya bisa memanfaatkan telepon, atau video call di jejaring sosial aplikasi e- learning, seperti facebook, twiter, imo, telegram, instagram serta google classroom, edmodo, zoom, youtube dan lainnya.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Bahaya Narkoba dengan Metode Examples Non-Examples

Blended learning sebagai langkah penerapan teknologi dalam layanan bimbingan dan konseling menghadapi era 4.0 diharapkan dalam penyelenggarannya tetap menjaga etika dalam bimbingan konseling yang ada dalam kode etik yang telah ditetapkan. Tidak ada salahnya melakukan inovasi untuk suatu layanan agar mempunyai nilai efektif dan efisien dan tepat guna sesuai dengan tujuannya. Yaitu memaksimalkan potensi dan memandirikan peserta didik menjadi guru bimbingan konseling yang profesional dengan inovasi layanan sesuai tuntutan dan kebutuhan era 4.0. Selamat mencoba metode layanan Bimbingan dan Konseling “Blended Learning”. (kb4/ton)

Guru BK SMK N 1 Sayung

Author

Populer

Lainnya