Metode PBL Dapat Menarik Minat Belajar Siswa

Oleh : Sumarjana, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Strategi pembelajaran adalah salah satu faktor dan cara yang dapat mempengaruhi tujuan pembelajaran. Karena jika penggunaannya tidak tepat dapat menghambat tujuan pembelajaran tersebut. Untuk melaksanakan suatu strategi pembelajaran maka digunakan model mengajar. Menurut Fathurrohman (dalam Hamruni, 2012:7) model mengajar adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Pendekatan teacher centered sudah dianggap tradisional dan perlu diubah. Karena teacher centered, berpusat pada pendidik dengan penekanan pada peliputan dan penyebaran materi, sehingga siswa kurang aktif.

Dengan membiarkan siswa pasif, sulit mengembangkan kecakapan berpikir, interpersonal, dan beradaptasi dengan baik. Tidak banyak yang mereka dapatkan bila partisipasi minim dalam proses pembelajaran. Padahal berbagai kecakapan ilmiah itu yang nantinya dibutuhkan saat menjalani kehidupan dewasa.

Maka dibutuhkan model pengajaran yang sesuai. Salah satunya adalah model problem based learning (PBL). Menurut Duch, Allen dan White dalam Hamruni (2012:104) model problem based learning menyediakan kondisi untuk meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan analitis serta memecahkan masalah kompleks dalam kehidupan nyata. Sehingga akan memunculkan “budaya berfikir” pada diri siswa.

Proses pembelajaran ini menuntut siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru. Dengan begitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran yang disampaikan.

Baca juga:   Belajar Prosedur Darurat dengan Metode Role Playing

Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan guru sebagai fasilisator. Kegiatan belajar mengajar akan dititikberatkan pada keaktifan siswa. Proses pembelajaran yang mengikutsertakan siswa secara aktif baik individu maupun kelompok, akan lebih bermakna karena dalam proses pembelajaran siswa mempunyai lebih banyak pengalaman.

Di dalam pelajaran praktik teknik pemesinan frais kelas XII SMKN 1 Windusari siswa diajarkan bebrapa materi di antaranya merencanakan dan membuat roda gigi. Untuk membuat pelajaran lebih menarik dan bermakna, pada suatu waktu siswa diajak langsung ke masyarakat pedesaan. Melihat secara langsung bagian dari mesin penggiling padi sederhana yang salah satu bagian yaitu reducer yang di dalamnya ada roda gigi. Nah dari sini pembelajaran bermakna dimulai.

Siswa diajak mengamati seluruh bagian dari mesin tersebut. Juga diajarkan cara membongkar mesin tersebut kemudian mengambil satu part pada mesin yaitu roda gigi kemudian dipelajari jenis dan bentuk serta ukuran roda gigi. Bagaimana merencanakan pembuatan dengan rumus perhitungan yang telah diajarkan di sekolah dan juga perhitungan bahan yang diperlukan.

Setelah mengerti gambaran roda gigi yang akan dibuat, siswa dibimbing dalam perencanaan perhitungan pembuatan roda gigi/suku cadang pada mesin penggilingan padi tersebut.

Setelah siswa membuat perencanaan sesuai perhitungan yang telah diajarkan di sekolah, perencanaan tersebut diperiksa guru. Setelah dinyatakan benar dan bisa dikerjakan, siswa diberi bahan untuk membuat roda gigi tersebut di bengkel sekolah.

Baca juga:   Belajar Siklus Biogeokimia Mudah dengan Media Flip Chart

Dalam pembuatan selalu dipantau guru supaya sesuai standar perhitungan yang telah direncanakan sehingga bisa digunakan sebagai part/suku cadang pada mesin penggilingan padi tersebut. Setelah selesai dibuat, roda gigi tersebut dipasang untuk mengganti part yang asli. Kemudian dicoba untuk menggiling padi. Ternyata bisa berfungsi sesuai suku cadang yang asli.

Suku cadang yang asli dipasang kembali dan roda gigi yang telah dibuat siswa disimpan. Bila suatu saat roda gigi pada mesin penggilingan padi rusak, roda gigi yang telah dibuat oleh siswa bisa untuk mengganti roda gigi yang rusak.

Dari salah satu metode pembelajaran di atas dapat diambil manfaat bahwa bila pelajaran praktik, siswa diajak langsung mengamati dan membuat sesuatu yang digunakan dan bermanfaat untuk masyarakat.
Siswa akan merasa bangga bisa membuat sesuatu yang bermakna dan bisa digunakan oleh masyarakat. Sehingga menimbulkan minat dan semangat untuk belajar. Karena dengan belajar yang sungguh-sungguh bisa membuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. (pm1/lis)

Guru Teknik Pemesinan SMKN 1 Windusari, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya