Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis dengan Logika Matematika

Oleh: Arifa Riana Rahmawati, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, DALAM kehidupan sehari-hari sering sekali kita dihadapkan pada pengambilan keputusan yang melibatkan logika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia logika adalah pengetahuan tentang kaidah berpikir atau jalan pikiran yang masuk akal.

Logika manusia sebenarnya dapat dilatih, salah satunya dengan belajar materi logika matematika yang merupakan salah satu cabang logika yang mengandung kajian matematis logika. Secara matematis, logika dapat dianalisis berdasarkan nilai-nilai kebenarannya. Dalam logika matematika, akan dibahas mengenai kebenaran suatu pernyataan, ingkaran, kesetaraan, dan penarikan kesimpulan yang sering ditemui dalam banyak hal di kehidupan sehari-hari, contoh paling nyata adalah ujian masuk perguruan tinggi atau ujian masuk kerja, banyak diujikan kemampuan berpikir logis entah itu soal cerita maupun pola angka-angka.

Logika matematika sebenarnya adalah materi yang sangat menyenangkan, dan setelah mempelajarinya, banyak peserta didik yang berpendapat materi logika matematika berbeda dari materi matematika yang biasanya mereka dapatkan, yang biasanya berkutat pada angka-angka dan perhitungan yang rumit. Saat mengawali logika matematika, guru mengatakan pada peserta didik bahwa materi logika dijanjikan sedikit saja angka bahkan hampir tidak ada hitungan, kalaupun ada, angka di logika matematika adalah angka untuk dilogika, berupa pola-pola, terlihat mata mereka berbinar karena mungkin berpikir akhirnya sejenak lepas dari banyak angka. Akan tetapi saat masuk materi ada kalanya kening mereka berkerut karena logika matematika belum sepenuhnya mereka pahami sejalan dengan logika berpikir mereka.

Baca juga:   Integrasikan Budi Pekerti dengan Mapel yang Relevan, Kuatkan Karakter Siswa

Selama beberapa tahun mengajar materi logika matematika di kelas XI SMK Negeri 1 Pati, ada sedikit kesulitan saat peserta didik dihadapkan pada kemampuan melogika apalagi jika dihadapkan pada soal baru yang sebenarnya hanya sedikit berbeda dari contoh yang diberikan. Contoh saat guru memberi pernyataan “Jika hari hujan maka saya menggunakan payung”, lalu dari pernyataan tersebut, guru melempar penyataan untuk diambil kesimpulan berdasar pernyataan awal yaitu “Hari tidak hujan“, hampir semua siswa akan menyimpulkan “Saya tidak menggunakan payung”, semacam itu logika mereka sebelum belajar logika matematika. Setelah dijelaskan bahwa dari pada pernyataan awal tidak ada keterangan apapun mengenai hari tidak hujan, beberapa peserta didik sudah tersenyum mengangguk-angguk tanda sudah mulai memahami materi, tetapi kebanyakan dari mereka masih terlihat kebingungan.

Oleh karena oleh guru dipilih metode pembelajaran yang dapat membuat peserta didik saling berinteraksi, berpikir, menjawab dan saling membantu, salah satunya adalah metode think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi, dan ternyata berhasil meningkatkan logika berpikir peserta didik, dan pembelajaran logika menjadi semacam permainan untuk mereka. Think pair share atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Suyatno (2009: 54) mengatakan bahwa : “Think Pair Share adalah model pembelajaran kooperatif yang memiliki prosedur ditetapkan secara eksplisit memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang dijelaskan atau dialami (berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain)”.

Baca juga:   Matematika Asyik dengan Model Cooperatif Learning Jigsaw

Matematika yang awalnya tersirat rumit menjadi menyenangkan saat belajar logika matematika apalagi digunakan metode think pair share ini. Peserta didik terlihat tertarik mencoba membuat kalimat sendiri dan saling mengoreksi jika ada kekeliruan dari pernyataan yang tentunya mengenai kebenaran suatu pernyataan, ingkaran, kesetaraan, ingkaran, maupun penarikan kesimpulan.

Dengan keberhasilan pembelajaran materi logika matematika di sekolah, maka untuk jangka pendeknya target pembelajaran materi logika matematika tercapai, sedangkan untuk jangka panjang, selamanya logika matematika akan dapat digunakan pada kehidupan, mempengaruhi logika manusia pada umumnya, sehingga dapat meminimalisir kekeliruan pengambilan keputusan serta membantu manusia untuk berpikir lebih logis, rasional, kritis, obyektif dan analitis sehingga dapat meningkatkan citra dirinya. (kb4/zal)

Guru Matematika SMKN 1 Pati

Author

Populer

Lainnya