Belajar Ungkapan Saran dengan Metode Numbered Heads Together

Oleh : Iis Sulistiyowati S.Pd.I

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN yang paling berhasil adalah pembelajaran yang menyenangkan yang menimbulkan rasa senang dan keingintahuan tinggi dalam menggali pengetahuan yang diajarkan oleh guru. Pembelajaran menyenangkan menjadi hal yang selalu didesain guru. Walaupun pada praktiknya sering mengalami kesulitan karena ada beberapa faktor pendukung dalam mendesain kelas menyenangkan.

Sebagaimana yang dialami oleh penulis yang mengajar tematik kelas III (tiga) di MI Walisongo Bugangan, Kedungwuni, masih terdapat siswa yang berlari–lari di kelas dan bercanda saat di kelas pembelajaran. Melihat fakta tersebut, penulis tergerak ingin menciptakan pembelajaran dengan metode game. Metode numbered heads together yang diterapkan dalam pembelajaran materi ungkapan saran kelas III. Metode ini dipandang menarik karena dikemas dalam permainan.

Menurut Suhermi (2004:43) menyatakan bahwa Numbered Head Together adalah pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Menurut Kagan (dalam Foster 2002:11), Numbered Head Together merupakan suatu tipe model pembelajaran kooperatif yang merupakan stuktur sederhana dan terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk me-review fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi siswa.
Materi pembelajaran ungkapan saran memuat kompetensi dasar ranah pengetahuan mencermati ungkapan atau kalimat saran, masukan, dan penyelesaian masalah (sederhana) dalam teks tulis dan ranah keterampilan memeragakan ungkapan atau kalimat saran, masukan, dan penyelesaian masalah (sederhana) sebagai bentuk ungkapan diri menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif yang dibuat sendiri. Indikator capaian belajarnya siswa mampu memahami ungkapan atau kalimat saran, masukan, dan penyelesaian masalah (sederhana) dalam teks tulis, siswa mampu mengidentifikasi ungkapan atau kalimat saran, masukan, dan penyelesaian masalah (sederhana) dengan tepat, siswa mampu menyajikan ungkapan atau kalimat saran dengan tepat, serta menuliskan saran tentang kewajiban yang seharusnya dilakukan dengan tepat.

Baca juga:   Belajar Puisi Menggunakan Model Two Stay Two Stray

Langkah-langkah model pembelajaran Numbered Heads Together pada materi ungkapan saran pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas III sebagai berikut, pertama, guru melakukan apersepsi dan memberi motivasi untuk semangat dan pentingnya belajar. Pada motivasi guru bisa bercerita tentang cerita orang sukses belajar dengan keterbatasan fisik.

Kemudian masuk memberikan teori materi ungkapan saran dalam bentuk dialog yang diperankan oleh guru dan bisa divariasi memanggil dua siswa untuk memerankan dialog yang sudah disiapkan oleh guru. Setelah itu, melakukan penomoran (Numbering), guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4 (empat) hingga 6 (enam) siswa dan memberi nomor sehingga tiap siswa dalam tim memiliki nomor berbeda. Kedua, pengajuan pertanyaan (Quenstioning), guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaannya contohnya, terkait dialog yang dibacakan guru atau yang diperankan oleh teman kelasnya, atau berdasarkan video yang ditampilkan. Ketiga, berfikir bersama (head together), para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut. Keempat, pemberian jawaban (answering), guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas. Terakhir, kelima, guru melakukan refleksi dan kesimpulan materi.

Baca juga:   Fun Make a Match dalam Mempelajari Fungsi Benda

Menerapkan model pembelajaran Numbered Head Together pada pembelajaran bahasa Indonesia materi ungkapan saran. Penulis menemukan beberapa kelebihan di antaranya melatih siswa untuk dapat bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain, melatih siswa untuk bisa menjadi tutor Sebaya, memupuk rasa kebersamaan, serta membuat siswa menjadi terbiasa dengan perbedaan. Hal yang perlu diantisipasi, hendaknya guru bisa memfasilitasi semua siswa, sehingga mendapat giliran. Secara umum, pembelajaran ini sangat menyenangkan untuk dipraktikkan. (pg1/ida)

Guru MA Walisongo Bugangan, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya