Dampak Pembelajaran Daring di Masa Covid-19

Oleh: Siti Anny Faizun, S.Pd, M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ADANYA Covid -19 merupakan guncangan yang berdampak di semua lini bagai siklus tidak bertepi pahitnya. Pemberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk meminimalisir penyebaran virus yang semua aktivitas diluar rumah harus dibatasi bahkan ada beberapa kegiatan dihentikan sampai redanya pandemi.

Dalam dunia pendidikan ritme yang pahit ini kita rasakan sebagai noktah merah. Kurikulum, Rencana pembelajaran, silabus dan semua perangkat pembelajaran harus berubah. Pendidik merasa kaget spontan harus merubah rencana pembelajaran tatap muka menjadi daring, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, rencana pembelajaran, silabus dan proses belajar secara cepat. Tidak jarang membuat pendidik dan peserta didik juga orang tua kebingungan.

Drama pagi itu, braak suara pintu dibanting keras oleh seorang anak yang langsung mengunci kamarnya. “Nak, nak, suara ibunya mengetuk pintu tak dihiraukan.” Terdengar suara tangisan dari dalam kamar. Ibunya penasaran dan bersabar membiarkan sampai pintu kamar terbuka. Selang beberapa saat anak yang didalam kamar keluar. Cepat-cepat ibunya bertanya, “Kenapa nak?” Sambil memeluk tubuh mungil itu. “Sekarang belajarnya tidak ke sekolah mak, tapi belajar dirumah dan harus pake hand phone, bu guru memberi tugas, terus aku kerjakan dan difoto lalu dikirim melalui hand phone, aku tidak punya hand phone mak”. Dada emak berdesir keras tapi berusaha menenangkan anaknya agar mau belajar berkelompok dengan yang memiliki hand phone. Itulah sekilas salah satu kondosi anak SD yang dalam pembelajaran daring. Salah satu karakteristik anak SD hanya bisa meminta dan menangis bahkan dapat berdampak sakit kalau ketika sesuatu yang diinginkan belum terpenuhi.

Baca juga:   Media Audio Visual untuk Menulis Teks Cerita Fantasi

Itulah salah satu gambaran anak SD pada pembelajaran daring atau pembelajaran dalam jaringan yaitu one line dengan menggunakan hand phone android tablet, atau laptop untuk meminimalisir munculnya keramaian. Tidak semua peserta didik maupun orang tua murid memiliki handphone. Beberapa peserta didik yang belum memiliki handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online. Peserta didik harus mengirim tugas dari rumah. Sementara, orang tua kesulitan dan stress ketika mendampingi putra-putrinya menyelesaikan tugas-tugas, di samping harus memikirkan kebutuhan keluarga dimasa krisis.

Timbul berbagai permasalahan dalam pembelajaran daring. Untuk anak-anak SD yang mayoritas pedesaan permasalahan utama adalah Jaringan internet yang lemot, menghambat pengiriman tugas sehingga tugas anak tidak bisa dinilai dalam satu hari, terkadang ada yang tidak mengerjakan tugas/tidak kirim karena belum memiliki hp dan hp yang digunakan milik orang tuanya, sedang hp dibawa orang tuanya bekerja. Kalau ada hp terkadang kuotanya tidak ada. Walaupun pemerintah menyediakan kuota tetapi pendistribusian tidak lancar yang terkadang tidak semua peserta didik mendapatkan kuota.
Guru harus kreatif memodifikasi tugas, agar anak tidak bosan. Selama pembelajaran daring dengan sistim online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum mewujudkan cara berpikir, hanya sebagai paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran dengan sistim online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, apalagi membebani peserta didik dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harus dapat mendorong peserta didik menjadi kreatif dalam mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, hasil karya yang dihasilkan, mengasah wawasan dan akhirnya dapat membentuk peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Baca juga:   Belajar dari Rumah dengan Google Classroom dan WhatsApp

Beberapa hal untuk mensiasati pembelajaran daring agar pembelajaran dapat tercapai maksimal yaitu : Guru dapat membagi kelas menjadi beberapa kelompok belajar yang kecil, Sesekali melakukan home visit disuatu kelompok yang tetap memperhatikan protokol kesehatan. Guru harus tetap berkoordinasi dengan pihak orang tua/wali murid dalam pemantauan proses belajar daring, agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai maksimal. Pemberian tugas lebih mengutamakan ketrampilan melakukan sesuatu, Jadi dalam pengiriman tugas dalam bentuk video sehingga guru dapat menilai kemampuan peserta didik dengan murni bukan karen yang mengerjakan orang tuanya. Seperti di SDN Kebonagung 3 Demak. (kb4/zal)

Guru SDN Kebonagung 3 Demak

Author

Populer

Lainnya