Peningkatan Keterampilan Menulis Aksara Jawa melalui Media Hacaraka Font

Oleh : Agustina Retno Widiyastuti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARNG.ID, Muatan lokal bahasa Jawa kini mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan suatu daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah dalam menyelenggarakan otonomi daerah mempunyai kewajiban-kewajiban salah satunya yaitu melestarikan nilai sosial budaya.

Bahasa Jawa merupakan mata pelajaran wajib dalam Kurikulum Muatan Lokal pada jenjang SD, SMP, maupun SMA/SMK di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur sebagai upaya melestarikan Budaya Jawa. Pembelajaran Bahasa Jawa ditujukan untuk membekali budi pekerti siswa melalui kemampuan berbahasa Jawa (Rahayu, 2014; Kurniati, 2015).

Terdapat 4 aspek keterampilan dalam kemampuan berbahasa Jawa, meliputi mendengarkan (nyemak), berbicara (micara), membaca (maca), dan menulis (nulis). Penguasaan aspek-aspek tersebut memiliki tantangan dan kendala tersendiri bagi para siswa. Penyampaian materi Bahasa Jawa perlu diarahkan secara pragmatis agar pembelajaran menjadi lebih bermakna karena para siswa terbiasa menggunakan setiap aspek dengan baik dan benar (Fajarina, 2014). Penguasaan Bahasa Jawa juga dipengaruhi pengetahuan siswa tentang bagaimana menemukan kesalahan berbahasa Jawa, baik dalam pembelajaran maupun pemakaian sehari-hari (Hartati, 2013).

Baca juga:   Home Visit Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa selama Pandemi

Salah satu aspek berbahasa Jawa yang sering menjadi momok adalah keterampilan menulis Aksara Jawa. Aksara Jawa merupakan salah satu sistem aksara tradisional yang muncul dan berkembang di Pulau Jawa yang digunakan secara umum untuk berbahasa Jawa dalam bentuk tulisan. Aksara Jawa termasuk jenis abugida (alfasilabis) dengan karakter-karakter aksara yang mewakili satu suku kata dengan notasi vokal (biasanya vokal “a”) yang melekat pada setiap karakter dasar. Penulisan Aksara Jawa secara Alfabet Latin menggunakan satu (atau dua) huruf konsonan dan huruf vokal “a” (Anwari, 2017).

Karakter dasar Aksara Jawa disebut juga Carakan terdiri dari 20 karakter yang masih murni dinamakan Aksara Jawa Nglegena atau Dhenta Wyanjana (Hadiwirodarsono, 2010). Setiap karakter Nglegena memiliki pendamping (Pasangan) untuk menulis gugus konsonan dari karakter utamanya (Darusuprapto dalam Rosidiyanti, 2018). Aksara Jawa juga mengenal Sandhangan yang merupakan karakter sejenis aksara yang tidak dapat berdiri sendiri dan berfungsi sebagai tanda yang selalu digunakan bersama dengan Aksara Nglegena (Achmad, 2017). Kendala utama yang sering dihadapi adalah siswa sulit menghafal karakter-karakter Aksara Jawa beserta Pasangan dan Sandhangan. Akibatnya, siswa menjadi kurang cakap dalam menyusun Aksara Jawa menjadi kata atau kalimat (Astuti, 2016).

Baca juga:   Pembelajaran Mengenal ASEAN dengan Roda Putar

Efek yang nyata dari metode dan media pembelajaran menulis aksara Jawa yang monoton membuat siswa menjadi pilah-pilih dalam mengikuti pelajaran. Salah satu solusi yang dipilih adalah menggunakan media pembelajaran Hanacaraka Font. Media Hanacaraka Font dipilih dalam pembelajaran menulis aksara Jawa karena memiliki kelebihan. Kelebihan media pembelajaran Hanacaraka Font adalah dapat membangkitkan semangat belajar, membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan siswa dalam belajar. Penggunaan media Hanacaraka Font dalam pembelajaran menulis aksara Jawa ditingkat SMP diharapkan dapat menjadi solusi dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa khususnya dalam pembelajaran aksara Jawa. (pg2/ton)

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya