Mengoptimalkan WhatsApp Menjadi Pilihan BdR dan MdR

Oleh : Nita Yuniarsih, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran jarak jauh (PJJ) imbas dari Covid -19 yang melanda negeri ini. Pembelajaran tidak dapat dilaksanakan secara tatap muka di kelas (luring). Pelaksanaan PJJ (daring) adalah jalan keluar yang harus ditempuh. Peserta didik melaksanakan BdR (Belajar di/dari Rumah), guru melaksanakan MdR (Mengajar dari/di Rumah) atau MdS (Mengajar dari/di Sekolah) menggunakan aplikasi WhatsApp (WA).

Pandemi Covid-19 telah membuat pendidik dan peserta didik berusaha menyesuaikan diri di lingkungan baru dalam pembelajaran berupa PJJ. Dari media daring misalnya penggunaan Google Meet, Classroom, dan Zoom, ternyata yang diminati peserta didik adalah WhatsApp karena tidak banyak masalah yang harus diatasi seperti kendala sinyal, kuota atau HP yang masih jadul.
Pelaksanaan pembelajaran daring tidak semua peserta didik mampu mengakses apabila pembelajaran, misalnya Google Meet atau Zoom agar mampu berinteraksi langsung. Ini penulis alami ketika mengajak peserta didik SMPN 1 Rembang menggunakan aplikasi Google Meet. Ternyata dari 32 siswa hanya 10, 15 siswa yang bisa gabung. Maka solusi terbaik adalah memanfaatkan aplikasi WhatsApp yang memang akrab dan mudah di kalangan peserta didik.

Baca juga:   Mind Mapping Solusi Pembelajaran IPS di Masa Pandemi Covid-19

Terlebih setiap kelas memiliki WAG ( WhatsApp Group) yang berorientasi pada guru mapel. Dengan WAG memudahkan pendidik dan peserta didik berinteraksi dalam pembelajaran. Selama ini WAG tersebut berfungsi sebagai pemberian materi pelajaran, pemberian tugas-tugas, dan untuk mengingatkan tugas yang belum dilengkapi. Seperti di kelas IXD SMP Negeri 1 Rembang, penulis sebagai wali kelas dan guru bahasa Indonesia.

Manakala peserta didik dirumahkan dan mengharuskan mereka belajar secara daring (PJJ), mengoptimalkan keberadaan WhatsApp sangat penting dan perlu. Berdasarkan pengalaman, pembelajaran secara daring melalui WhatsApp merupakan pengalaman BdR yang mudah bagi peserta didik dan memudahkan pendidik dalam MdR.

Dalam PJJ, terjadwal setiap hari 4 jam pelajaran. Dimulai pukul 07.30 berakhir pukul 11.30 untuk 3 mapel. Waktu yang 60 menit untuk pembelajaran bahasa Indonesia dilempar materi berupa PPT atau media teks, pemberian tugas dan mencatat.

Sambil menunggu pengiriman tugas, tak lupa presensi siswa di WAG. Dalam kegiatan 60 menit peserta didik menyalin atau mengerjakan pada buku. Setiap kegiatan mereka, hasil dari mencatat atau mengerjakan tugas difoto kirim ke WAG sebagai bukti fisik bahwa mereka memang BdR. Guru MdR memantau beberapa peserta didik yang mengirim tugas dan presensi yang mengikuti PJJ hari itu.
Walau ada kelebihan dan kekurangan dalam PJJ, pendidikan harus berjalan demi mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Begitu juga pendidik dan peserta didik SMP Negeri 1 Rembang harus melaksanakan PJJ sebaik mungkin, walau di lain pihak peserta didik kesulitan mengakses aplikasi yang lain selain WhatsApp dalam melaksanakan PJJ.

Baca juga:   Kupas Lagu Tingkatkan Kemampuan Menulis Puisi

PJJ berbasis media teks dan WhatsApp dapat dilaksanakan dengan mudah. Sebagai pendidik kita mampu berkomunikasi dengan peserta didik secara daring. Berdasarkan pengalaman, apabila muncul kendala. Misal peserta didik tidak mengikuti pembelajaran, hal itu lebih disebabkan soal teknis. Dimungkinkan karena peserta didik tidak memiliki kuota, peserta didik tidak memilik ponsel karena harus bergantian dengan kakak atau orang tuanya, atau mungkin peserta didik itu ikut kerja. (kb4/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Rembang

Author

Populer

Lainnya