Asyiknya Belajar Dongeng dengan Media Hand Puppet

Oleh: Dhian Novi Setyowati S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Belajar bahasa Indonesia biasanya identik dengan membaca cerita, membuat cerita, bahkan mendengarkan cerita. Memasuki materi tentang mendongeng tepatnya pada bab menggali informasi dari dongeng, dan menceritakan kembali dongeng binatang (fabel), guru berusaha menggunakan cara dan membangun suasana yang menyenangkan saat belajar dengan siswa salah satunya dengan menggunakan alat peraga. Alat peraga yang tepat dan menarik bagi siswa, terutama di kelas rendah, adalah menggunakan boneka tangan atau biasa dikenal dengan sebutan hand puppet. Hal itu juga dilakukan penulis di SD Negeri 1 Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang,

Dengan menggunakan media tersebut, penulis mengajak siswa untuk lebih aktif dalam berinteraksi dan mendongeng agar siswa cepat menangkap alur cerita dan pesan yang disampaikan dari dongeng yang akan dibawakan. Selain itu, daya imajinasi siswa akan lebih meningkat dan membuat semangat saat belajar, sehingga dongeng tentang fabel akan menjadi cerita yang menyenangkan, tidak membosankan dan disukai siswa.

Siapa juga yang tidak menyukai boneka? Kebanyakan siswa sangat tertarik dengan benda tersebut, karena kelucuannya. Dan hal ini menjadi nilai plus untuk memanfaatkan boneka tangan dalam membawakan cerita menjadi lebih hidup dari pada hanya bercerita saja. Dalam mempelajari materi bab mendongeng dengan menggunakan media hand puppet ini, siswa akan mendapatkan pengetahuan teori dan praktik. Siswa akan mendapatkan pengetahuan tentang informasi dari dongeng yang dibacakan seperti siapa saja tokohnya, bagaimana wataknya, di mana saja latar ceritanya, dan hal ini bisa digunakan untuk diskusi maupun pretest ringan yang ditujukan untuk siswa. Mekanismenya sangat mudah, setelah dongeng selesai dibacakan guru bisa mengadakan tanya jawab maupun kuis dengan pertanyaan seputar dongeng tersebut. Misalnya, siapa saja nama tokohnya? Siapa yang berwatak baik? Siapa yang berwatak buruk, dan lain sebagainya. Dalam hal ini berguna untuk mengetahui sejauh mana anak menyimak cerita yang dibawakan dan mengasah konsentrasi siswa.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Aksara Jawa dengan Model Scramble

Dalam praktik di dalam kelas, pertama-tama penulis akan menyiapkan media berupa boneka tangan sesuai dengan dongeng fabel yang sudah dipilih. Misalkan si kancil. Kedua, penulis akan mendongeng, dan siswa diminta untuk menyimak alur dongeng yang dibawakan tersebut. Dengan mendengarkan, siswa akan mudah mengetahui isi dari dongeng tersebut. Selanjutnya dalam praktiknya, siswa akan diminta untuk menceritakan kembali apa yang mereka tangkap setelah dongeng selesai dibacakan.

Tidak lupa, penulis juga akan mengetes apa makna atau pesan dari dongeng yang telah diceritakan sebelumnya. Misalnya, pada dongeng si kancil, siswa akan ditanyai tentang amanat apa yang bisa diambil atau dipelajari setelah mendengarkan dongeng tersebut, dan perbuatan apa yang bisa dicontoh serta yang tidak boleh dilakukan dari cerita tersebut? Melalui hand puppet atau boneka tangan, penulis juga membangun komunikasi yang baik lewat bercerita dan berbicara lewat ekspresi yang dibawakan saat mendongeng.

Boneka tangan tentunya lebih menarik perhatian siswa, dan boneka tangan akan menjadi sarana yang efektif serta efisien dalam mendidik maupun belajar. Kelebihan dalam menggunakan media ini antara lain boneka tangan lebih mudah didapat, simple, tidak merepotkan, dan bentuknya yang beraneka ragam serta menarik. Kelemahan menggunakan media hand puppet dalam belajar di kelas, antara lain pasti masih ada saja siswa yang tidak mendengarkan dan ramai sendiri. Namun hal itu bukanlah masalah yang serius dan bisa diatasi dengan memindahkan siswa yang ramai untuk duduk di paling depan saat guru mulai mendongeng. Ayo berimajinasilah sesukamu sesuai penglihatanmu dari dongeng yang dibacakan gurumu. (pg1/aro)

Baca juga:   Take and Give Tingkatkan Hasil Belajar Prakarya

Guru SD Negeri 1 Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya