Pembelajaran Anak Usia Dini dengan Metode NHT

Oleh : Sri Marhenti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MOTIVASI belajar merupakan unsur yang penting. Ada tidaknya motivasi belajar dalam diri siswa akan menentukan apakah siswa akan terlibat secara aktif atau pasif dalam proses pembelajaran. Disamping itu di lingkungan belajar, hubungan antara siswa dan guru turut mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Betapa pentingnya kedudukan guru dalam proses pembelajaran di kelas, karena guru merupakan motor penggerak yang akan menentukan berhasil tidaknya seorang siswa. Pendidkan Anak Usia Dini (PAUD) sangat membutuhkan kesabaran dan pendekatan dalam penyapaian materi agar pembelajaran berhasil.

Keberhasilan siswa dapat ditentukan dari beberapa faktor, antara lain faktor internal dan eksternal. Faktor yang timbul dari dalam diri siswa, antara lain kemauan, rasa takut, tingkat intelektual dan sebagainya. Sedang faktor eksternal dapat berupa sikap guru, pendekatan pengajaran, metode, alat peraga, dan sumber-sumber lain. Kesemuanya itu akan berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Referensi menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) pada PAUD menjadi pilihan.

Menurut Herdian (2009), model pembelajaran tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. NHT adalah suatu model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas.

Baca juga:   Strategi Pembelajaran Index Card Match Tingkatkan Kemampuan Siswa

Langkah-langkah NHT menurut Trianto dalam Tarjo (2009 :16) adalah: pertama, penomoran yaitu hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor, sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok. Pengajuan pertanyaan guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. dalam membuat pertanyaan usahakan bervariasi dari yang spesifik.

Kedua, berpikir bersama setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan. Ketiga, guru menyebut salah satu nomor, dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban. Secara random memilih kelompok yang harus menjawab selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

Keempat, siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing dalam setiap kelompok mendapatkan nomor urut. Guru memberi tugas tugas masing-masing kelompok untuk mengerjakan suatu permasalahan. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya. Guru memanggil salah satu nomor dan siswa yang bernomor tersebut melaporkan hasil kerja kelompoknya, Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain dan membuat kesimpulan.

Baca juga:   Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini melalui Bermain

Keunggulan Numbered Head Together yaitu mengembangkan rasa tanggung jawab, menggalang kerjasama dan kekompakan dalam kelompok, membuat siswa aktif mencari bahan untuk menyelesaikan tugasnya. Membuat siswa lebih berani mengemukakan pendapat dan bertanya kepada kelompok lain. Kelemahan NHT bagi siswa yang kurang pandai akan berpikir pasif dan pintar akan mengerjakan pekerjaan kelompok.

Anak usia dini masa bermain dari hal itu sebagai dasar pemilihan metode pembelajaran yang tepat dengan Numbered Head Together. Keaktifan dan kerja sama dalam menyelesaikan masalah akan terbentuk dalam kepribadiannya, sehingga anak akan terbiasa kompak dan saling membantu. Karakterpun akan terbentuk sebagai tujuan pembelajaran penguatan pendidikan karakter siswa. Hal ini sebagaimana penulis praktikkan di TK Pertiwi Sikayu, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. (pg1/aro)

Guru TK Pertiwi Sikayu, Kec. Comal, Kab Pemalang

Author

Populer

Lainnya