Beranda Artikel Terbukanya Hati Nurani Ratu Dunia

Terbukanya Hati Nurani Ratu Dunia

Others

RADARSEMARANG.COM – Minggu siang lalu saya buru-buru balik ke Semarang. Padahal malamnya baru sampai rumah di Sidoarjo, Jatim. Ada sesuatu yang sangat penting. Perlu saya sampaikan kepada awak redaksi Radar Semarang secara langsung.

Sore itu balik lagi ke Sidoarjo. Melahap kolak kacang hijau, pisang, dan nangka, yang saya bikin pagi hari dan belum saya cicipi. Sehari sebelumnya nyaris seluruh wilayah di Jateng dihajar hujan sejak malam sebelumnya. Banjir dan longsor terjadi di mana-mana. Semarang bawah seolah menjadi lautan. Beberapa ruas jalan utama tak bisa dilewati kendaraan.

Saya bisa merasakan beratnya kerja wartawan pada hari itu. Pas di mana seluruh masyarakat Jateng diminta di rumah saja. Sementara wartawan harus berada di lokasi bencana yang tersebar di mana-mana. Hari itu empat wartawan dan dua fotografer diterjunkan meliput banjir di Semarang. Saya ingatkan, kalaupun yang diturunkan seluruh wartawan,tetap belum cukup.

Wartawan memiliki tanggung jawab besar. Memberikan informasi menyeluruh kepada masyarakat. Diperintah atau tidak mereka bergerak. Terjun ke lapangan. Melihat peristiwa. Mengumpulkan informasi. Menyajikan fakta kepada masyarakat. Semua dilakukan dengan hati nurani.

Tidak jarang wartawan celaka. Bisa karena keteledorannya. Bisa juga karena ganasnya medan yang diarunginya. Malah ada yang sampai sengaja dicelakakan. Masih ingat Udin, wartawan Bernas Jogja. Nama lengkapnya Fuad Muhammad Syarifuddin. Dia aktif mengkritisi kebijakan pemerintah. Nyawanya melayang 16 Agustus 1996.

Korban lainnya Anak Agung Gde Narendra Prabangsa, wartawan Jawa Pos Radar Bali. Nyawanya melayang pada 11 Februari 2009 juga karena penganiayaan. Pembunuh Prabangsa telah dihukum. Salah satu seorang pejabat di Bangli, Bali.
Nama kedua wartawan itu dan jurnalis-jurnalis lain yang menjadi korban kekerasan telah menjadi ikon idealisme. Berasal dari kata idea yang berarti dunia dalam jiwa. Idealisme dalam filsafat memberikan doktrin yang mengesampingkan hakekat fisik.

Kadangkala saya merasa heran. Di zaman yang serba materealistis, masih ada orang yang ingin menjadi wartawan. Bahkan jumlahnya banyak. Memang ada yang wartawan beneran. Ada yang jadi-jadian. Yang terakhir itu memanfaatkan profesinya dalam tanda kutip untuk kepentingan materi.

Idalisme itu jiwa. Roh. Inilah yang menggerakkan wartawan pada zaman kemerdekaan. Mereka adalah pejuang. Sama dengan tentara, kiai, dan santri, yang terjun ke medan laga. Bedanya, perjuangan mereka menggunakan pena sebagai senjata.

Adinegoro adalah salah satu wartawan yang lahir pada zaman perjuangan. Jangan salah sangka. Dia bukan orang Jawa. Nama aslinya Djamaluddin. Lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Dia adik sastrawan Muhammad Yamin. Darah kakaknya mengalir sebagai sastrawan. Namun yang menonjol justru kewartawanan. Pers menjadi wadah untuk mempublikasikan karya-karyanya.

Dia menghasilkan banyak buku. Antara lain Falsafah Ratu Dunia. Jakob Oetama, tokoh pers yang wafat 9 September 2020, menyebut buku itu sebagai babonnya pers Indonesia. Diterbitkan Balai Pustaka Jakarta 1949. Yang dimaksud Ratu Dunia tidak lain adalah pers.

Adinegoro ikut mendirikan PWI (Persatuan Wartawan Idonesia). Itulah satu-satunya organisasi wartawan saat itu. Tanggal pembentukannya 9 Februari 1946 kemudian dijadikan Hari Pers Nasional.

Bagi Adinegoro, roh pers adalah kejujuran. Itu dituangkan dalam catatannya setelah keliling Eropa tahun 1926 – 1930. Kutipannya yang dihafal para wartawan adalah, “Hanya ada satu mata uang yang berlaku di mana-mana. Mata uang itu bernama kejujuran.”

Kejujuran lahir dari hati nurani. Melahirkan prinsip independesi. Berbuat tanpa diperintah. Inilah yang terus saya tanamkan kepada wartawan di Jawa Pos, Radar Kudus, dan Radar Semarang, di mana sekarang saya masih bernaung.

Pers mestinya jujur dan menyuarakan kejujuran secara independen atas dasar hati nuraninya. Sulit sekali di zaman serba materialistis ini. Malah banyak orang yang menyusup ke dunia pers hanya untuk mencari keuntungan.

Kepada wartawan di Semarang Ahad lalu saya sampaikan apabila hati nurani sudah tidak ada, maka matilah koran. Tamatlah riwayat pers. Berarti pers mati di tangan wartawan. Amit-amit.

Tantangan besar adalah bagaimana terus menghidupkan pers yang idealismenya banyak tergerogoti itu. Apalagi di tengah gempuran media sosial. Saya yakin bisa. Insan pers terbiasa bekerja keras. Menghasilkan produk yang berkualitas. Mereka masih punya hati nurani. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

12,295FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Tesla Halmahera

Related News