Pengalaman Bermain Peran Memudahkan Siswa Memahami Konsep Manajemen

Oleh: Sri Mulyani, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MODEL bermain peran (the role playing model) merupakan model pembelajaran yang menekankan aspek motorik dan aspek kognitif yang mengedepankan kegiatan diskusi secara berkelompok dalam bentuk pemeranan/pementasan ke arah situasi nyata yang terjadi di lingkungan siswa. Artinya bahwa model bermain peran dapat membantu siswa untuk memahami, berpikir, dan bertindak sebagaimana orang lain lakukan. Dengan demikian, siswa mampu mempelajari perbedaan dan persamaan tingkah laku orang lain dan diharapkan dapat menerapkan hasil belajar ini ke dalam situasi kehidupan yang nyata.

Dalam pelaksanaannya guru ketika akan menyampaikan konsep manajemen melalui metode bermain peran harus melewati beberapa tahap. Tahapan ini adalah: Pemanasan (warming up). Dalam tahap ini, guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan manajeman yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Bagian berikutnya dari proses pemanasan adalah menggambarkan permasalahan dengan jelas disertai dengan contoh. Sebagai contoh, guru menyediakan sebuah kasus manajemen dalam bentuk cerita yang tidak utuh atau fragmen. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat siswa berpikir tentang hal tersebut dan memprediksi akhir dari cerita.

Memilih partisipan. Siswa dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam pemilihan ini, guru dapat memilih siswa yang sesuai untuk memainkannya. Langkah perlu dilakukan untuk menghindari siswa pasif dan enggan untuk berperan apa pun. Sehingga pengalaman bermain peran akan dirasakan oleh semua siswa yang ada di kelas Kelas X IPS-2, SMA Negeri 2 Wonogiri.

Menyiapkan pengamat (observer). guru menunjuk beberapa siswa sebagai pengamat. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran. untuk itu, walaupun mereka ditugaskan sebagai pengamat, guru sebaiknya memberikan tugas peran terhadap mereka agar dapat terlibat aktif dalam permainan tersebut.

Baca juga:   Pembelajaran Sepak Bola Passing Kaki Bagian Dalam melalui Permainan Passboi

Menata panggung. Dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa dimana dan bagaimana peran itu akan dimainkan. Apa saja kebutuhan yang diperlukan. penataan panggung ini dapat sederhana atau kompleks. Pembahasan skenario (tanpa dialog lengkap) yang menggambarkan urutan permainan peran perlu dilakukan agar konsep yang diajarkan dipahami oleh semua siswa. Misalnya siapa dulu yang muncul, kemudian diikuti oleh siapa, dan seterusnya.

Memainkan peran (manggung). permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya akan banyak siswa yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan, mungkin ada yang memainkan peran yang bukan perannya. jika permainan peran sudah terlalu jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segara masuk ke langkah berikutnya.

Diskusi dan evaluasi. guru bersama siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul. Mungkin ada siswa yang meminta untuk berganti peran. Atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah. Apa pun hasil diskusi dan evaluasi tidak jadi masalah.

Memainkan peran ulang (manggung ulang). Seharusnya, pada permainan peran kedua ini akan berjalan lebih baik. Siswa dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario.

Diskusi dan evaluasi kedua. pembahasan diskusi dan evaluasi lebih di arahkan pada realitas. Mengapa demikian? Karena pada saat permainan peran dilakukan. banyak peran yang melampaui batas kenyataan. Misalnya seorang siswa memainkan peran sebagai pembeli. Ia membeli barang dengan harga yang tidak realistis. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi.

Baca juga:   Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Media Vocabulary Card

Pada dasarnya, bermain memiliki dua pengertian yang harus dibedakan. Bermain menurut pengertian yang pertama dapat bermakna sebagai sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari “ menang dan kalah” (play). sedangkan yang kedua disebut sebagai aktivitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai dengan adanya pencarian “ menang-kalah” (game). Dengan demikian, pada dasarnya setiap aktifitas bermain selalu didasarkan pada perolehan kesenangan dan kepuasan. Sebab, fungsi utama bermain adalah untuk relaksasi dan menyegarkan (refreshing) kondisi fisik dan mental yang berada di ambang ketegangan.

Lebih lanjut lagi, Mansyur (dalam Sagala, 2011:2013) mengemukakan bahwa model bermain peran (role playing) adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya siswa mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar siswa dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model bermain peran (the role playing) merupakan sebuah metode pembelajaran yang mengedepankan aspek-aspek sepeti motorik, kognisi, afeksi, dan keterampilan sosial, serta aspek-aspek yang lain yang dikemas melalui kegiatan pemeranan/pementasan dengan mentransformasikan ke dalam situasi kehidupan nyata para siswa. Seperti yang diterapkan di SMAN 2 Wonogiri. (pg1/zal)

Guru SMAN 2 Wonogiri

Author

Populer

Lainnya