Mengidentifikasi Cerita Fiksi Lebih Mudah Menggunakan Pop-Up Book

Oleh : Maafi, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Tujuan pelajaran bahasa Indonesia di SD yaitu agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Susanto,2013:245). Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk melatih ketrampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat merangsang kemampuan berpikir dan psikomotor siswa.

Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan yaitu media pop-up book. Menurut Dzuanda (2011:1) pop-up book adalah sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur 2 dimensi dan 3 dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka. Pemilihan media pop-up book ini selain sesuai dengan potensi visual anak juga dipandang praktis karena mudah dimainkan. Dengan tampilan tiga dimensi yang dapat menambah semangat belajar siswa. Media pop-up book juga digunakan pada siswa Kelas VI SDN 01 Karangsari materi pembelajaran Bahasa Indonesia tokoh cerita fiksi.

Spesifikasi untuk media pop-up book bisa dicetak dengan kertas ivory 260 gram. Kemudian dijilid dengan menggunakan hardcover. Isi pop-up book ini terdiri dari bagian awal, isi, akhir. Bagian awal berisi sampul, prakata, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, petunjuk penggunaan. Bagian isi terdiri atas materi penokohan, cerita dengan gambar. Bagian akhir terdiri atas evaluasi dan daftar pustaka. Bagian sampul belakang terdapat biodata peneliti yang dicantumkan bersama foto. Pop-up book sederhana juga mudah dibuat, apalagi jika guru tidak memiliki biaya yang memadai. Guru cukup menyediakan alat dan bahan diantaranya kertas manila, gambar tertentu sesuai materi, sticky note, kertas buffalo, penggaris, spidol, lem kertas, pensil, cutter, dan gunting. Setelah semua alat dan bahan tersedia, maka potonglah ketas manila menjadi 2 bagian yang sama besar dan panjang. Tempelkan kedua kertas manila tersebut dan bentuklah seperti buku. Buatlah penyangga dari kertas buffalo untuk gambar yang sudah di print dan ukurlah sesuai besar gambar. Tempelkan penyangga tersebut pada gambar, Tempelkan gambar yang sudah diberi penyangga di atas kertas manila. Potonglah tulisan pada gambar yang ingin diceritakan. Lalu tempelkan tulisan tersebut pada kertas manila Tempelkan hiasan-hiasan yang sudah dibuat di atas kertas manila. Rapikan, dan pop-up book siap digunakan.

Baca juga:   Konsep Pembelajaran Matematika SD yang Tepat di Tengah Pandemi

Sama halnya seperti buku bacaan pada umumnya maka penggunaan media pop-up book juga sangat mudah. Guru cukup membuka tiap halaman buku dan menceritakan isi dari gambar buku tersebut. Agar lebih menarik guru wajib bercerita dengan ekspresi yang sesuai dan memancing siswa untuk bercerita menggunakan bahasa sendiri berdasarkan gambar yang ditunjukan. Pada akhir pelajaran guru bisa meminta siswa untuk menuliskan kembali cerita yang telah didengarkan tersebut untuk tugas rumah.

Kelebihan media pop-up book antara lain mudah dibawa dan praktis karena berbentuk seperti buku. alat dan bahan mudah didapatkan, sehingga media ini mudah dibuat. dengan menggunakan media gambar peserta didik akan lebih mudah memahami materi karena terlihat lebih nyata. Kelemahan media pop-up book mudah rusak karena sebagian besar terbuat dari kertas. Strategi yang diterapkan harus tepat, apabila tidak tepat maka materi yang ada di dalam media ini tidak akan tersampaikan dengan baik. (btj2.2/ton)

Guru kelas VI SDN 01 Karangsari, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya