Akslerasi Keterampilan Menulis dengan Trik Dengar Cerita Tulis Kembali

Oleh: Ristichaningsih, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Menulis merupakan sebuah keterampilan yang membutuhkan proses latihan panjang dan kontinyu, tanpa itu mustahil keterampilan ini mudah dikuasai. Banyak alternatif cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis.
Penulis mencoba memaparkan alternatif yang telah dipraktikkan pada siswa kelas VI SDN 03 Rogoselo, Doro. Dari hasil uji coba tersebut ternyata hasilnya cukup menggembirakan untuk ukuran standar siswa SD.

Pada dasarnya cara-cara atau metode yang telah digunakan beberapa orang dalam meningkatkan keterampilan menulis, tentu berdampak positif pada hasil yang diharapkan. Namun untuk ukuran tingkat keberhasilannya tentu berbeda-beda. Karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi di antaranya faktor kefektifan dalam penerapan pembelajaran di kelas.

Oleh karena itu dicoba metode lain yang dikenal dengan sebutan akslerasi. Metode yang ditawarkan adalah “dengar cerita dan tulis kembali”. Metode ini kelihatannya sederhana namun dalam praktiknya butuh fokus dan keseriusan.

Praktik metode “dengar cerita dan tulis kembali” langkah-langkahnya sebagai berikut : langkah pertama, guru menyediakan sebuah bacaan yang berisi cerita pendek berisi 1- 3 halaman. Masing-masing siswa memegang bacaan cerpen tersebut. Kemudian siswa diberikan kesempatan membaca dalam hati dan mencoba memahami isinya. Langkah kedua, setelah siswa selesai membaca, guru membacakan ceria tersebut dengan intonasi yang jelas dan menarik, sehingga siswa akan terfokus pada satu perhatian. Yaitu mendengarkan bacaan cerita tersebut sambil berimajinasi menggambarkan karakter tokoh cerita, suasana cerita, alur cerita dan lain sebagainya sesuai dengan persepsi masing-masing siswa.

Baca juga:   Belajar AKM dengan E-LKPD Berbasis Live Worksheet

Langkah ketiga, guru menceritakan kembali dengan bahasa guru tanpa melihat cerita tersebut. Tentu saja alur cerita dan isi cerita tetap sesuai dengan bacaan cerpen. Biasanya bacaan yang diceritakan kembali oleh guru lebih menarik dan mudah dipahami karena guru dalam menjelaskannya dibumbui dengan kata-kata atau kalimat yang lebih menarik dan membuat siswa lebih penasaran mendengarkannya.

Selain itu guru sesekali juga berkomunikasi pada siswa untuk membuktikan bahwa mereka memperhatikan dengan seksama, misal dengan menanyakan siapakah tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, bagaimana karakter mereka, di mana, kapan, pesan apa yang ada dalam cerita dan lain sebagainya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman dan penguasan mereka terhadap cerita yang baru mereka dengar.

Langkah keempat, siswa diberi tugas menuliskan kembali isi cerita dengan bahasa sendiri. Tapi ingat sebelum menulis, lembar bacaan cerpen yang tadi dibagikan harus diambil kembali oleh guru agar tidak digunakan untuk mencotek.

Dengan memahami isi cerita yang baru mereka dengar, siswa akan merasa sangat mudah mengungkapkan kembali dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Hal ini berdasarkan fakta yang kita jumpai pada siswa atau orang kebanyakan. Contoh ketika mereka melihat film atau sinetron dan disuruh untuk menceritakan kembali urutan ceritanya, dipastikan mereka akan lancar menjelaskannya dengan runtut.

Baca juga:   Memahami Globalisasi Lebih Nyata melalui Portofolio

Hanya saja agak kesulitan bila menjelaskannya dalam bentuk tulisan, hal ini karena mereka belum terbiasa dengan bahasa tulis. Langkah kelima, guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan untuk memulai menulis, misalkan dengan menanyakan pada siswa tentang hal-hal yang berkaitan tentang isi cerita. Contoh saja, cerita ini diawali dari apa? Kapan kejadiannya? Siapa saja tokoh-tokohnya dan lain sebagainya. Dengan stimulan seperti itu imajinasi siswa akan terkait kembali dengan cerita yang didengar.

Langkah terakhir beberapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil tulisannya di depan kelas. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya sendiri terhadap hasil karya sendiri dan menghargai karya teman lain. Walau karya yang dihasilkan belum maksimal guru tetap memberikan motivasi agar siswa terus bersemangat dan berlatih untuk menulis. Karena tulisan bagus dihasilkan dari proses panjang dan kontinyu. Sebagai pemula utamakan kuantitas dulu, sedangkan kualitas akan terbentuk dengan sendirinya. Semakin banyak berlatih menulis, maka akslerasi keterampilan menulis akan meningkat dengan pesat. (bp2/lis)

Guru SDN 03 Rogoselo, Kec. Doro, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya