Siapa Belum Salat?

Oleh : Darsinah, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembiasaan yang baik kepada anak sangat perlu diberikan sejak dini secara proporsional, termasuk tentang ibadah. Guru sebagai pengganti orang tua dalam lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk menyampaikan pembiasaan tersebut. Seringkali guru masih menganggap ibadah sebagai materi pembelajaran yang masuk dalam golongan kedua atau sekunder. Guru berpikir bahwa pembiasaan ibadah sudah didapatkan ketika anak didik berada di lingkungan rumahnya. Padahal orang tua juga memiliki anggapan yang tidak jauh berbeda dengan guru.

Orang tua seakan-akan sudah memberikan haknya kepada guru untuk menyampaikan paket lengkap bagi pendidikan anaknya tidak terkecuali pembiasaan beribadah. Guru yang profesional tidak boleh berpangku tangan mengandalkan orang tua anak didik terutama anak didik usia dini memberikan tauladan beribadah kepada anaknya.

Guru harus tampil terdepan menyampaikan pokok-pokok ibadah yang tepat dan sesuai ketentuan agama. Guru mengajarkan pembiasaan beribadah dengan banyak metode dan cara, misalnya keteladanan, pembiasaan, pembelajaran materi, praktik ibadah serta ketentuan-ketentuan lainnya yang sederhana.

Aqib (2011) menjelaskan bahwa keteladanan yaitu menghargai ucapan, sikap dan perilaku yang melekat pada pendidik. Ishlahunnissa’ (2010: 12) menambahkan bahwa keteladanan berarti penanaman akhlak, adab, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang seharusnya diajarkan dan dibiasakan dengan memberikan contoh nyata. Keteladanan dalam pendidikan adalah pendekatan atau metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk serta mengembangkan potensi peserta didik. Keteladanan pembiasaan ibadah oleh guru sepatutnya setelah guru mengerti dan memahami ketentuan yang terkait dengan ibadah yang akan dilaksanakan. Ketika keteladanan ibadah dilaksanakan secara tepat dan benar serta sesuai dengan aturan agama, niscaya akan dapat menghasilkan output anak didik yang dapat diandalkan. Selain itu, pembelajaran dan pembiasaan beribadah bagi anak usia dini harus lebih inovatif dan menarik. Guru sebaiknya dapat memanfaatkan media pembelajaran yang tepat dan sederhana agar mudah dipahami anak. Karena media dapat meringankan guru dalam menyampaikan ilmunya.

Baca juga:   Dampak Pandemi Covid-19 pada Pembelajaran di PAUD

Rudi dan Cepi (2008: 6) mengutip Schramm (1977) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Senada dengan Rudi dan Cepi, Munadi (2008:7) mendefinisikan media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

Penulis sebagai guru TK PGRI Gedeg Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang seringkali memanfaatkan media sederhana untuk pembelajaran anak didik di kelas pada materi mengenal kegiatan beribadah sehari-hari. Anak didik diajak untuk mengenal macam-macam ibadah dan melakukan pembiasaan-pembiasaan ibadah secara benar. Pembiasaan yang dilakukan adalah bersifat rutinitas sebelum,sedang dan sesudah pembelajaran. Pembiasaan memberikan salam ketika bertemu dengan orang lain, hormat kepada orang lain, melakukan wudhu sebelum membaca Alquran serta ibadah lain yang ringan dan sesuai dengan anak usia dini. Respon anak didik sangat baik tampak dari pola pergaulan sehari-hari tidak melupakan ibadah. (ti1/lis)

Baca juga:   Blended Learning Tingkatkan Aktivitas Belajar Siswa

Guru TK PGRI Gedeg Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya