Implementasi Strategi Powers dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Recount

Oleh : Tati Hariati, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Salah satu skill dalam bahasa Inggris adalah writing (menulis). Di SMP, biasanya porsi untuk mengembangkan writing skill masih kurang, karena pembelajaran bahasa Inggris lebih dititikberatkan pada reading comprehension. Sehingga, untuk menghasilkan sebuah teks, kadang-kadang peserta didik hanya diberikan penjelasan singkat tentang apa yang akan ditulis. Kemudian mereka diminta untuk mengembangkan kerangka karangan sendiri. Proses seperti ini menyebabkan teks yang dihasilkan oleh peserta didik kurang baik.

Untuk menghasilkan teks yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan keterampilan menulis. Yaitu bagaimanakah keterampilan menulis itu, jenis teks apa yang akan dihasilkan, dan strategi apa yang akan digunakan.

Abbas (2006) menyatakan keterampilan menulis adalah kemampuan untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain melalui bahasa tulis. Keterampilan ini harus memperhatikan beberapa hal, yaitu ketepatan bahasa yang digunakan, kosakata, tata bahasa, dan ejaan. Salah satu keterampilan menulis yang ada di kelas VIII adalah menyusun teks recount tulis terkait pengalaman pribadi di waktu lampau sangat pendek dan sederhana yang termuat dalam KD.4.11.2.

Di SMP N 2 Susukan, proses pembelajaran keterampilan teks recount menggunakan strategi POWERS. Strategi ini sesuai dengan level kemampuan menulis peserta didik kelas VIII yang masih ada di level pemula. Young (1998) dalam Ratminingsih (2019) menyatakan POWERS merupakan strategi yang bermanfaat untuk pemula dalam proses menulis. POWERS merupakan kependekan dari Pre write, Organize, Write, Edit, Revise, dan Share.

Baca juga:   Mudah Pahami Operasi Bilang Bulat dengan Kartu dan Koin Kotif

Fase Pre write adalah tahapan persiapan bagi guru dan peserta didik. Kegiatan ini diawali oleh guru dengan membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang. Kemudian guru memberikan gambar tentang sebuah tempat wisata. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan tanggapannya atau bertanya tentang gambar apakah itu, dimanakah lokasinya, dll. Selanjutnya guru memberikan sebuah contoh teks recount dan memberikan brainstorming agar siswa terhubung dengan materi yang akan diajarkan. Setelah itu guru meminta peserta didik secara berkelompok untuk membuat teks tentang pengalaman mereka pada saat berwisata ke Jatim Park 2 Malang.

Fase kedua adalah Organize. Pada fase ini, guru memotivasi peserta didik agar berdiskusi dalam kelompok untuk mencari ide yang ingin ditulis. Peserta didik membuat draf atau mengorganisasikan informasi apa saja yang akan dikembangkan dalam tulisannya. Langkah ini bisa dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan dengan menggunakan W.H questions, misalnya When did you go there? With whom did you go? What did you see there? dll. Fase ketiga adalah Write. Pada tahapan ini, langkah yang dilakukan peserta didik adalah menyusun kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan paragraf menjadi teks recount. Guru membimbing agar mereka mengikuti kaidah penulisan yang benar, baik dari segi strutur maupun unsur kebahasaannya. Fase keempat adalah Edit. Di fase ini, peserta didik diminta untuk mencoba mengecek kembali isi, tata bahasa, ejaan, dan tanda baca. Akan menjadi lebih menarik jika pengeditan ini dilakukan oleh kelompok lain. Sehingga secara tidak langsung mereka juga belajar bagaimana menulis dengan baik. Fase kelima adalah Revise. Di fase ini, peserta didik membaca kembali hasil karangan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ditemukan dalam karangan tersebut. Fase keenam adalah Share. Pada fase ini peserta didik membagikan hasil karangan yang dibuat bersama dengan teman sekelasnya. Fase ini bisa juga dilakukan dengan cara membacakan teks tersebut di depan kelompok lain.

Baca juga:   Belajar Narrative Text dengan Metode Role Playing

Dengan penerapan strategi POWERS pembelajaran menjadi lebih terarah dan teks yang dihasilkan menjadi lebih baik. Secara bertahap, peserta didik menjadi lebih mudah dalam membuat teks dengan mengikuti kaidah penulisan yang benar berdasarkan struktur teks dan unsur-unsur kebahasaan yang benar. (bw1/lis)

Guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Susukan, Kabupaten Semarang

Author

Populer

Lainnya