Belajar Unggah-Ungguh melalui Gugon Tuhon dengan Media Instagram

Oleh : Fitri Astuti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Masyarakat Jawa memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang sangat kaya. Salah satu kearifan lokal yang ada dalam masyarakat jawa dan merupakan tradisi lisan adalah gugon tuhon. Menurut Parwadi (dalam Afifah, 2011:6) gugon tuhon adalah percaya pada adat dan takhayul. Gugon tuhon oleh masyarakat jawa digunakan sebagai bentuk tuturan atau upaya yang sebenarnya mengajarkan nilai nilai positif salah satunya adalah sopan santun terhadap generasi penerus.

Dalam gugon tuhon biasanya mengandung larangan dengan kata “aja”, “ora elok”. Tuturan tersebut mengandung ajaran, yang tidak hanya diucapkan untuk menakut-nakuti, namun mengandung makna filosofis untuk pembelajaran kehidupan (Menurut Subalidinata, dalam Afifah, 2011:6). Unggah ungguh (sopan santun) sebagai salah satu hal yang penting terutama anak muda di jaman mileneal seperti sekarang ini. Guru merasa tertantang untuk menggunakan media pembelajaran yang milenal juga, salah satunya adalah media instagram. Media instagram inilah yang digunakan di PJJ SMP Negeri 2 Jambu dalam pembelajaran daring materi unggah-ungguh melalui kearifan lokal gugon tuhon.

Adapun langkah langkah dalam belajar unggah-ungguh melalui kearifan lokal gugon tuhon melalui media instagram yaitu guru meminta peserta didik untuk aktif membuka aplikasi instagram melalui WA Group kelas dan memastikan kesiapan peserta didik untuk kegiatan pembelajaran. Setelahnya guru memposting materi di instagram melalui texgram x, dikarenakan postingan di instagram harus berupa gambar/foto. Sebagai satu contoh gugon tuhonnya yaitu “aja mangan ana ngarep lawang, mundhak ditampik jejaka” (jangan makan di depan pintu nanti akan ditolak jejaka/ sulit jodohnya). Nilai unggah-ungguh yang dapat dipetik dari gugon tuhon tersebut adalah janganlah makan di depan pintu, karena tidak sopan semisal nanti ada orang yang lewat pasti akan kikuk, karena pintu digunakan sebagai jalan keluar masuk. Jikalau makan di tempat yang semestinya yaitu di meja makan. Harapan guru peserta didik dapat mengidentifikasi contoh gugon tuhon yang ada di lingkungan rumahnya.

Baca juga:   Pendidikan Karakter Mapel PPKn di Masa Covid-19

Setelah guru memposting materi dan contoh gugon tuhon tersebut di Instagram, langkah selanjutnya yaitu guru membagikan link dari instagram ke whatsaap group kelas. Dengan meminta peserta didik untuk meng-upload penugasan yang sama yang guru contohkan di instagram, dengan meng-tag ke guru dan peserta didik diharapkan memakai hastag yang telah dibuat guru tersebut. Tujuannya adalah agar memudahkan pengecekan terhadap penugasan yang yang telah diupload peserta didik.

Guru dapat mengecek lewat hastag yang telah dibuat oleh guru tersebut, bahkan peserta didik dapat saling berkomentar di fitur comment, dan bisa saling memberikan like. Disinilah guru dapat melakukan tanya jawab (berdiskusi) memberikan penilaian lewat komentar, sehingga peserta didik merasa tertantang untuk membuat postingan gambar yang terbaik. Salah satu contoh pekerjaan peserta didik yaitu: “aja lunga ana wayah maghrib, mengko ndak digondhol wewe gombel” (jangan bepergian pada saat maghrib, nanti bisa diculik wewe gombel, unggah-ungguh yang dapat diambil yaitu ketika pada saat maghrib jangan bepergian, karena waktu tersebut digunakan untuk beribadah.

Baca juga:   Belajar IPS Sejarah dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Learning

Kesimpulannya belajar ungguh ungguh melalui gugon tuhon dengan media instagram, respons peserta didik lebih cepat dalam proses pembelajarannya, dikarenakan aplikasi ini selalu digunakan peserta didik dalam bermedia sosial. (bw2/ton)

Guru SMPN 2 Jambu

Author

Populer

Lainnya